| 86 Views

Satu Siswa Merokok, 630 Siswa Mogok: Potret Krisis Mental di Dunia Pendidikan Kita

SMA Negeri 1 Cimarga, Kabupaten Lebak. Metro TV

Oleh : Ai Rahmawati 
Member Ksatria Aksara Kota Bandung

Krisisnya mental dan daya juang pemuda, serta standar kebenaran dihadapan mereka, tentang cara mendidik dengan tegas dan cara yang salah dalam memberikan hukuman, masih sangat rancu dalam pikiran anak muda saat ini. 

Masih sangat lekat di ingatan, 2 pekan yang lalu, tepatnya pada hari Senin tanggal 13/10/2025, ratusan siswa SMAN 1 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, melakukan aksi mogok sekolah karena membela teman yang ditampar oleh kepala sekolah karena ketahuan merokok di lingkungan sekolah. Kepala sekolah pun menegur dan bertanya kepada murid tersebut, tetapi nihil, murid tersebut tidak mengaku dan membuat kepala sekolah itu pun kesal, lalu menegur dengan cara “memukul pelan” anak tersebut karena tidak jujur.  Respon dan tanggapan orang tua murid tersebut sangat di luar ekspektasi. Mengapa demikian? Karena orangtua dari anak tersebut tidak terima anaknya mendapatkan--  yang dikatakannya sebagai ‘kekerasan’. Sang ibu dari orang tua murid tersebut melaporkan sang Kepala Sekolah ke polisi supaya ditindaklanjuti. Hal itu diikuti oleh teman-temannya yang menyuarakan aksi mogok sekolah secara serempak. Mereka juga memasang spanduk di sekolah dengan bertuliskan “Lengserkan kepala sekolah”. Terhitung kurang lebih sekitar 630 murid yang mogok sekolah, mereka melakukan itu dengan alasan sebagai  bentuk protes dan membela temannya (kumparan, 15/10/2025).

Sangat miris dunia pendidikan saat ini dengan berbagai fakta yang terjadi. Apalagi dengan kasus-kasus yang lebih parah dari kasus murid merokok, contohnya seperti pergaulan bebas, tawuran, bullying,  dan masih banyak lagi problematika di dunia pendidikan. Hal ini sangat mengganggu pikiran orang tua dan rasa khawatir untuk menyekolahkan anak saat ini. Bahkan pendidikan yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu, kini hanya sebatas gelar yang di cari. Bukan lagi ilmu untuk mencetak generasi beriman dan berakhlak mulia. Tentu hal ini membuat dunia pendidikan suram dan nestapa. Hal ini menunjukkan kondisi negeri ini yang sedang tidak baik-baik saja.

Ilmu yang seharusnya menjadi bekal untuk melanjutkan kehidupan, serta menjadi modal untuk para generasi yang berakhlak mulia dan bermoral. Mencetak generasi saat ini sangatlah sulit karena, gadget yang seharusnya bisa digunakan dengan bijak namun kini merusak pemikiran anak-anak serta pemuda lewat media sosial dengan berbagai macam tontonan. Mereka disibukkan dengan dunia maya ketimbang berinteraksi dan berpikir langsung. Jadi, tidak heran anak generasi sekarang banyak menghabiskan waktunya sia-sia, bahkan kuat berjam jam scroll media sosial.

Pelajaran akhlak dan adab yang seharusnya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, kini sedikit demi sedikit mulai hilang. Anak SD sekarang pun banyak yang sudah teracuni oleh pergaulan bebas, salah satunya merokok. Bisa dikatakan kehidupan remaja saat ini sudah bobrok. Sistem kapitalisme sekuler saat ini banyak merenggut pemikiran generasi menuju hal di luar nalar, seperti pembunuhan yang dilakukan oleh anak SD. Nauzubillah!

Berbeda dulu dengan sistem pendidikan di masa kegemilangan Islam. Pendidikan Islam mencetak generasi yang berakhlak mulia juga berhasil baik secara sains maupun peradaban. Di dalam Islam, negara menjadikan akses pendidikan gratis bagi seluruh rakyatnya. Islam berhasil mencetak para generasi yang cerdas dan insan dengan kepribadian Islam, yaitu pola pikir juga sikap berlandaskan akidah Islam.
 
Maka, solusi dari banyaknya permasalahan di pendidikan saat ini, yaitu dengan bersama-sama mengembalikan sistem Islam untuk mengatur seluruh aspek kehidupan dengan Al Qur’an dan Sunnah. Yaitu dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah (keseluruhan).

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik pula. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang mendapat petunjuk" (Terjemah Qur’an Surat An Nahl 125). 

Wallahu a’ lam bi ash-Shawab


Share this article via

48 Shares

0 Comment