| 34 Views

Santri dan Tantangan Menjaga Peradaban Islam di Tengah Arus Sekularisme

Oleh: Siti Nurhasna Fauziah, S.Ag
Aktivis Muslimah dan Pemerhati Generasi

Peringatan Hari Santri setiap tanggal 22 Oktober selalu mendapat perhatian publik. Presiden Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat Hari Santri Nasional Tahun 1447 Hijriah kepada para santri, santriwati, kiai, nyai, hingga keluarga besar pondok pesantren di seluruh tanah air. Dalam ucapannya, Kepala Negara menekankan bahwa Hari Santri merupakan momentum untuk mengenang jasa para ulama dan santri yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan.

“Saya, Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, menyampaikan Selamat Hari Santri Nasional Tahun 1447 Hijriah. Di Hari Santri ini, kita mengenang semangat juang para santri yang dengan ilmu, iman, taqwa, dan cinta tanah air, turut merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” ujar Presiden Prabowo dalam video yang ditayangkan kanal Youtube Sekretariat Presiden, pada Jumat (24/10/2025). (sumber:setneg.go.id)

Di tahun ini, peringatan Hari Santri menguusng tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.” Pada kesempatan ini, bapak presiden RI mengajak ara santri untuk senantiasa menjadi penjaga moral dan pelopor kemajuan bangsa, serta beliau mengingatkan tentang semangat resolusi jihad yang sudah pernah dilakukan oleh para ulama besar seperti KH. Hasyim Asy’ari, pada 22 Oktober 1945  sebuah momen heroik di mana para santri turun ke medan laga untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan.

Tetapi dibalik meriahnya peringatan ini, ada yang perlu kita cermati peringatan Hari Santri ini sebatas ceremonial saja tanpa memaknai secara mendalam peran santri yang sejati. Padahal jika ingat sejarah, santari adalah sosok seseorang yang mempunyai ilmu agama secara mendalam atau iasa kita sebut seseorang yangfaqih fiddin dan emnajdikan al Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan. Santri sejati adalah agen perubahan yang berani menegakkan kebenaran, menjaga aqidah umat, dan memperjuangkan syariat Islam di tengah tantangan zaman.

Saat ini, makna itu sudah memudar,pujian yang mereka dapatkan sebagai pejuang kemerdekaan, tidak nampak sejalan dengan realitas kebiajakn saat ini. Bukan untuk memeperjuangkan Islam dan menegakkan syariat. Tetapi parasantri digunakan untuk kepentingan politik mereka. Berbagai program seperti moderasi beragama dan pemberdayaan ekonomi pesantren seringkali menjadi bungkus indah untuk menjauhkan santri dari misi dakwah dan jihad menegakkan Islam secara kaffah.

Istilah Moderasi Beragama sering dimaknai seagai upaya untuk mnyeimbangkan nilai agama dan nilai sekuler. padahal ini malah menjauhkan umat dari pemhaman islam yang sebenarnya secara kaffah. Santri diajarkan mengenai toleran dan terbuka yang terkadang malah mengaburkan makna dan prinsip akidah islam. Program pemberdayaan ekonomi pesantren  seringnya hanya menjadikan pesantren sebagai objek ekonomi, pesantren yang seharusnya menajdi pusat lahirnya para ulama, kini menjadi pusat wirausaha dengan sistem ekonomi kapitalis.

Kini peran sebenarnya seorang santri sudah bergeser yang tadinya pada medan perjuangan tetapi berubah menajdi medan adaptasi terhadap sistem sekuler. Padahal santri mempunyai peranan penting dan tanggung jawab yang besar dalam memimpin dan membimbing umat agar tidak terjebak dalam penjajahan gaya baru yakni berbentuk pemikiran, budaya, dan ekonomi. Ketika santri kehilangan orientasi jihad intelektual dan spiritualnya, maka keberadaan mereka tidak lagi menjadi pelita umat, melainkan bagian dari sistem yang justru mengekang kebangkitan Islam.

udah saatnya pra santri kembali ekpada peran yang sesungguhnya yakni menjadi penjaga akidah dan membawa cahaya perdaban Islam. Santri bukanlah simbolik, tetapi harus menjadi agen perubahan yang berani melawan arus pemikiranbarat menggerogoti sendi-sendi kehidupan. Dan mereka harus ber amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam sejarah peradaban Islam, para ulama dan santri selalu menjadi garda terdepan dalam perjuangan. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memimpin perlawanan terhadap kezaliman dan penjajahan. Jiwa jihad inilah yang perlu dihidupkan kembali. Sebab, penjajahan hari ini tidak lagi datang dengan senjata, melainkan melalui sistem global yang mengekang kemandirian umat dan menjauhkan manusia dari aturan Allah SWT.

Untuk itu sudah menjadi kewajiban negara dalam mendukung eksistensi pesantren sesuai dengan visi yang mulia. Negara harus memastikan bagaimana pesantren itu menjadi tempat lahirnya para ulama dan faqih fiddin, bukan sekedar pekerja pelaku ekonomi. Negara perlu menyiapkan bahwa pesantren difasilitasi untuk mencetak generasi peradaban bangsa yang mempunyai kepribadian islam.

Maka, momentum Hari Santri tidak boleh sekadar menjadi perayaan simbolik, tetapi harus menjadi pengingat. Bahwa santri memegang tanggung jawab untuk menjaga umat, menegakkan syariat, dan mewujudkan peradaban Islam yang cemerlang di bawah naungan hukum Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.


Share this article via

35 Shares

0 Comment