| 37 Views
Sakit Hati Dirundung, Balas Dendam Tak Terbendung
Ilustrasi bocah korabn bullying (Shutterstock via Suara.com)
Oleh : Elly Waluyo
Anggota Aliansi Penulis Rindu Islam
Sistem sekuler kapitalis merupakan penyebab utama dari semakin rusaknya adab dan perilaku di masyarakat yang mempengaruhi pola pikir individu. Kepuasan hawa nafsu menjadi tolak ukur dan cara pandang dalam mencapai kesuksesan diri, ditambah dengan pendomplengan asas liberalis didalamnya semakin memperparah kerusakan moral. Hal ini karena lineralis hanya mempedulikan benar dan salah yang ukurannya diserahkan pada masing masing individu, bukan halal dan haram yang bersumber dari syariat.
Perilaku bullying merupakan salah satu kerusakan moral yang semakin marak terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini. Bullying juga dapat menimbulkan aksi balas dendam yang membahayakan. Sebagaimana peristiwa baru-baru ini terjadi di Kecamatan Kuta Baro Banda Aceh, dimana seorang santri membakar asrama putra Dayah (Pesantren) Babul Maghfirah yang dipimpin Tengku Masrul Aidi.
Kombes Pol Joko Heri Purwono selaku Kapolresta Banda Aceh menyampaikan pengakuan santri sekaligus pelaku aksi pembakaran tersebut. Aksi itu dilakukan sebagai pelampiasan rasa tertekan akibat perundungan yang sering dialaminya. Dia berharap barang-barang milik si perundung ikut terbakar pula saat kebakaran terjadi.
Seorang saksi mata mengaku segera membangunkan teman-temannya yang ada di lantai satu setelah melihat ada api menyala dari lantai dua di asrama yang kosong sekitar pukul tiga pagi. Bangunan asrama yang didominasi dari kayu tersebut membuat dengan mudah membesar hingga merambat ke kantin dan rumah milik Pembina Yayasan. Meski para santri dan warga sekitar turut membantu memadamkan api bersama petugas pemadam kebakaran, namun tak pelak membuat pesantren menderita kerugian hingga 2 miliar.
Selain itu pihak penyidik sudah mengantongi barang bukti berupa jaket hitam dan rekaman CCTV. Pasal 187 KUHP dengan hukuman 15 tahun penjara yang menjerat pelaku akan ditangani sesuai Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). (https://kumparan.com/ :7 November 2025)
Bullying yang semakin merajalela di berbagai daerah menujukkan bahwa kasus ini bukanlah sekedar perkara individual namun merupakan masalah sistemik dalam pendidikan. Kurangnya perhatian orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak sejak kecil karena kesibukan orang tua yang mengejar materi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mencekik atau untuk memenuhi nafsu kesuksesan materi juga menjadi faktor pemicunya.
Lagi-lagi, hal tersebut adalah hal lumrah dalam sistem sekuler kapitalis yang menitikberatkan kesuksesan pada materi. Demi keuntungan materi pula negara tak memfilter bahkan tak memblokir konten-konten yang dapat menyulut individu melakukan perundungan maupun aksi balas dendam. Akibatnya konten tersebut menjadi rujukan.
Demikian pula dengan sistem pendidikan yang hanya menitikberatkan pada pencapaian materi yakni berupa nilai rapot dan ijazah bukan pada pembentukan kepribadian Islam.
Berbeda dengan pendidikan di bawah naungan sistem Islam yang bertujuan membentuk kepribadian Islam. Akidah diletakkan sebagai dasar kurikulum dalam sistem pendidikan sehingga akan melahirkan individu-individu yang selalu terikat dengan syariat dalam setiap perilakunya.
Pembinaan dilakukan secara intensif dan tidak hanya berfokus pada nilai materi namun juga maknawi dan ruhiyah sehingga menjadikan adab landasan ilmu. Negara wajib berperan aktif dalam menyediakan, menjaga dan menjamin mutu pendidikan.
Melalui biaya pendidikan yang murah bahkan gratis, negara memastikan setiap individu mendapatkan pembinaan moral umat. Selain itu perlindungan generasi terus masiv dilakukan dengan memblokir situs-situs yang dapat membahayakan akidah umat. Negara juga menutup kerja sama dalam aspek apapun dengan negeri kafir harbi yang dapat meracuni pola pikir dan pandangan pelajar melalui pertukaran pelajar. Demikianlah Islam membentuk dan menjaga kepribadian umat.