| 3 Views

Rupiah “Terseret” Perang AS–Iran: Dari Pagi yang Gelisah hingga Penutupan Melemah

CendekiaPos - JAKARTA — Senin, 2 Maret 2026, pasar keuangan Indonesia terasa seperti ikut menahan napas. Bukan karena ada data ekonomi domestik yang mengejutkan, melainkan karena satu kata yang selalu membuat investor waspada: perang.

Eskalasi konflik AS–Iran mendorong sentimen risk-off global—ketika pelaku pasar memilih “main aman” dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih selamat seperti dolar AS. Dampaknya cepat sampai ke Jakarta: rupiah melemah sejak pembukaan, lalu terus berada dalam tekanan sepanjang hari.

Pagi: Rupiah mulai melemah, pasar langsung “siaga”

Di awal perdagangan, rupiah sudah menunjukkan sinyal tertekan. Bank Indonesia menyebut rupiah pada pembukaan melemah ke sekitar Rp16.829 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp16.787.

Tempo juga mencatat pada pagi hari (sekitar pukul 09.44 WIB), rupiah berada di kisaran Rp16.820 per dolar AS.

Pola seperti ini biasa muncul saat tensi geopolitik memuncak: investor global cenderung mengurangi eksposur pada aset negara berkembang dan memperkuat posisi di mata uang kuat.

Sore: Rupiah ditutup melemah 81 poin, JISDOR ikut turun

Menjelang penutupan, tekanan makin terlihat jelas. Metro TV melaporkan rupiah melemah 81 poin dan ditutup di Rp16.868 per dolar AS (turun 0,48% dibanding penutupan sebelumnya).

Pada hari yang sama, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia juga ikut melemah ke Rp16.848 per dolar AS (dari Rp16.779).

Angka-angka ini menggambarkan satu pesan: pasar memandang konflik sebagai risiko yang belum selesai—dan rupiah ikut menerima “beban” ketidakpastian global.

Kenapa perang di Timur Tengah bisa menekan rupiah?

Ada dua jalur besar yang membuat konflik AS–Iran cepat memukul nilai tukar:

  1. Sentimen risk-off: dolar AS jadi tempat berlindung
    Ketika tensi meningkat, investor biasanya mengejar aset aman. Akibatnya, dolar menguat dan mata uang emerging market seperti rupiah tertekan. Bank Indonesia menyebut sentimen risk-off global meningkat pasca eskalasi konflik.

  2. Ketakutan “kejutan energi”
    Pasar juga langsung mengarahkan mata pada risiko gangguan pasokan energi dan jalur pelayaran strategis (terutama Selat Hormuz). Ekonom PermataBank yang dikutip Metro TV menyebut perhatian pasar mengarah ke potensi gangguan tanker dan logistik yang bisa memukul ekonomi lewat jalur energi dan pasar keuangan.
    Jika harga energi naik, Indonesia menghadapi tekanan tambahan: biaya impor energi dan inflasi, yang ujungnya ikut memengaruhi persepsi pasar terhadap rupiah.

Respons Bank Indonesia: “tetap hadir di pasar”

Bank Indonesia menegaskan tidak tinggal diam. Kepala DPMA BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan BI akan tetap berada di pasar melalui intervensi:

  • NDF di pasar luar negeri, serta

  • transaksi spot dan DNDF di pasar domestik,
    untuk menjaga stabilitas rupiah agar bergerak sejalan dengan fundamental.

Langkah ini lazim dipakai untuk meredam volatilitas berlebihan, terutama ketika pelemahan terjadi lebih karena guncangan eksternal daripada faktor domestik.

Penutup: rupiah bukan lemah sendirian, tapi ikut arus dunia

Pelemahan rupiah pada 2 Maret 2026 bukan cerita tunggal Indonesia. Ini bagian dari gelombang global ketika konflik geopolitik membuat uang mencari tempat aman. Rupiah bergerak dalam ruang yang sama: ruang ketidakpastian.

Selama tensi perang belum mereda, rupiah berpotensi tetap volatil—dan perhatian pasar akan terus tertuju pada dua hal: arah konflik dan pergerakan harga energi. Bank Indonesia memastikan akan terus menjaga stabilitas melalui intervensi dan bauran kebijakan yang diperlukan.


Share this article via

0 Shares

0 Comment