| 574 Views

Revitalisasi Nilai Pancasila di Kalangan Gen Z?

Oleh : Sally Vania

Biro Fasilitasi Pimpinan, Hubungan Masyarakat, dan Administrasi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menyelenggarakan Workshop BPIP MENYAPA "PANCASILA SAKA ADISISWA" di SMA Negeri 3 Bandung, Selasa, (25/6). Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP, Antonius Benny Susetyo mengatakan BPIP melalui program Goes To School menekankan kelebihan kaum muda, khususnya para siswa, dalam menciptakan konten-konten segar tentang nilai-nilai Pancasila dalam menyikapi fakta-fakta yang terjadi di masyarakat. “Misalnya, dalam menyikapi bahaya judi online, para siswa bisa membuat konten yang mengingatkan teman-teman mereka tentang dampak negatif dari judi online dan pentingnya menjauhi aktivitas tersebut. Dengan kreativitas dan pemahaman teknologi yang dimiliki, konten-konten yang dibuat akan lebih mudah diterima dan diingat oleh banyak orang.” ungkapnya.

Doktor Komunikasi Politik tersebut kemudian menyatakan bahwa bakat dan talenta yang kalian miliki harus benar-benar digunakan untuk menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. “Kita perlu mengembangkan paradigma bahwa Pancasila itu aktual, efektif, dan keren. Pancasila bukan sekadar bahan hafalan, tetapi harus kita hidupkan dalam setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil. Gunakanlah media sosial untuk menyebarkan kebaikan, menguatkan persatuan, dan menegakkan keadilan. Bersama-sama, kita bisa membangun Indonesia yang lebih maju dan beradab, sesuai dengan cita-cita Pancasila.” tegasnya.

Memang, di tengah era digital dan gempuran globalisasi, Pancasila seperti kehilangan relevansinya denga apa yang tengah terjadi dan bagaimana Pancasila menyikapinya hingga solusi teknis yang bisa diberikannya. Terlebih lagi di kalangan generasi muda, gen Z yang sangat dekat dengan arus informasi yang sangat mudah mengakses (bahkan dibanjiri) oleh berbagai berita yang sedang viral. Maka, wajar BPIP dengan berbagai programnya mencoba menghidupan kembali, merevitalisasi Pancasila terkhusus dikalangan remaja agar Pancasila tidak terlupakan atau sekedar menjadi hafalan tanpa makna. Bahkan ironisnya masih ada anak muda yang tidak hafal butir-butir sila Pancasila. Bagaimana mungkin mereka bisa menjiwai dan mengaplikasikan Pancasila jika hafal pun tidak.

Pancasila yang kini nampak kehilangan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari hingga harus direvitalisasi memang harus menjadi bahan renungan untuk kita semua. Apakah memang hakikatnya Pancasila itu adalah sebuah ideologi bangsa yang selalu menjadi landasan acuan bernergara, menjadi pijakan saat pemerintah membuat kebijakan, menjadi problem solver atas setiap permasalahan bangsa? Ataukah Pancasila sejatinya hanyalah berupa set of value yang berisikan nilai-nilai universal yang bisa ditarik kesana kemari tergantung kepentingan segelintir orang? Kenapa saat orde lama Pancasila lebih ke kiri (komunis), saat orde baru lebih ke kapitalis hingga saat ini?

Berbagai kebijakan pemerintah sepertinya banyak yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Terbaru presiden baru saja menandatangani PP No.28/2024 tentang Peraturan Pelaksanaan UU No.17/2023 tentang Kesehatan (UU Kesehatan) yang melegalkan pemberian alat kontrasepsi bagi siswa dan pelajar yang menuai banyak kontra dari berbagai kalangan karena dianggap pemerintah telah melegalkan hubungan diluar nikah pada pelajar (agar aman, pakai alat kontrasepsi). Selaras dengan sila berapa yang menjadi acuan presiden melegalkan aktivitas ini? 

Belum lagi masalah klasik korupsi yang seperti sudah menjadi budaya di negeri ini. Para pejabat dari berbagai tingkatan, sudah menjadi rahasia umum banyak yang terjerat korupsi. Seperti tidak akan ada habisnya KPK melakukan OTT tindak korupsi yang jelas bertentangan dengan sila-sila Pancasila. Judi online yang juga dilakoni oleh ribuan pejabat, apakah pantas dilakukan oleh pihak yang seharusnya paling pancasialis?
Sebuah ideologi sudah selayaknya menjadi jiwa suatu bangsa. Menjadi ruh, pijakan, asas, bagaimana suatu negara berjalan. Karena selain memiliki set of philosophy kehidupan, ideologi juga harus memiliki road map bagaimana ideologi itu bisa diterapkan dan disebarkan. Bagaimana ideologi itu mampu menjadi the real problem solver. Itulah konsep ideologi dalam Islam. Dan Islam itu sendiri memang sebuah ideologi yang layak diemban oleh sebuah negara. Islam memiliki pandangan khas atas kehidupan, bahwa kita hidup untuk beribadah, siap diatur oleh Allah karena Allah selain sebagai Maha pencipta juga Maha pengatur. 

Islam datang dengan satu set aturan komprehensif yang tertuang dalam al-Quran yang mulia. Syariat Islam memiliki segenap aturan yang benar-benar mampu menyelesaikan berbagai problem kehidupan. Dari mulai masalah personal, keluarga, masyarakat hingga negara. Politik, ekonomi, sosial, Pendidikan, kesehatan, hukum dan peradilan, semua Islam telah mengatur sehingga memiliki pijakan yang jelas jika terjadi permasalahan di tengah masyarakat. Dan Islam memiliki mekanisme bagaimana seorang Muslim harus senantiasa terikat dengan aturan Islam sehingga tidak menjadikan Islam ekedar simbol nilai-nilai luhur semata yang berlaku universal. 

Dan apakah ada bukti bahwa Islam pernah diterapkan sebagai ideologi oleh sebuah negara dalam sejarah peradaban manusia ini? Tengoklah apa yang telah dicontohkan Rasulullah ketika pertama kali berhasil membangun negara Islam di Madinah 14 abad yang silam, hingga keruntuhan Khilafah Utsamanitahun 1924. Selama itu lah, sepanjang 13 abad, melingkupi 3 benua, Islam pernah berjaya sebagai ideologi sebuah peradaban manusia. Wallahu’alam.


Share this article via

177 Shares

0 Comment