| 69 Views

Remaja Simpan Sabu, Sekulerisme Lahirkan Generasi Suram

Ilustrasi

Oleh : Ai Rahmawati 

Kembali digegerkan dengan pemberitaan penangkapan Remaja, berinisial HS (19 Tahun). Yang diamankan polisi juga terdapat bukti puluhan paket sabu-sabu yang tersebar di sejumlah lokasi berbeda (Senin, 30/03/2026 ). Penangkapan ”HS” bermula dari laporan warga terkait aktivitas mencurigakan di kawasan BTN Permata Anawai, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari. Dan di tindaklanjuti informasi tersebut oleh petugas dan berhasil mengamankan pelaku sekitar pukul 00.15 WITA .

Saat kasat Narkoba Polresta Kendari, AKP Andi Musakkir Musni, menginterogasi (HS), Ternyata mengakui masih menyimpan Narkotika di beberapa titik lain. Dan langsung di tindaklanjuti oleh tim lapangan. Penggeledahan di tiga titik lokasi berbeda tersebut, Pertama dilakukan penggeledahan di sebuah rumah di jalan Banda, kelurahan Watulondo, Kecamatan Puuwatu. Juga berlanjut ke wilayah kabupaten Konawe Selatan, tepatnya di Desa wuura, Kecamatan Mowila,  Serta Desa Teteasa dan Desa Lamooso di Kecamatan Angata. Dititik lokasi tersebut polisi menemukan puluhan paket sabu-sabu yang disembunyikan dengan metode tempel.  Total 31 paket sabu-sabu dengan berat 6,29 gram. “HS” diketahui berperan sebagai penyimpan sekaligus juga pengedar. Dan dengan barang bukti tersebut pelaku, dijerat pasal (114 ayat (1) Undang-undang No. 35 Tahun 2009, tentang Narkotika dengan ancaman hukuman berat.

Hal ini membuktikan bahwa sistem yang diterapkan saat ini sangat jauh dari aturan Allah. Yang mana anak yang masih di bawah umur ini bisa melancarkan aksinya untuk menyimpan dan menyebar narkotika. Padahal anak seusianya harusnya masih harus menuntut ilmu juga membangun cita-citanya setinggi mungkin. 

Pandangan dalam Islam, narkotika jelas hukumnya haram. Karena selain membahayakan fisik dan mental juga merusak akal kecanduan untuk terus ingin melakukan nya lagi. Harusnya anak-anak saat ini berjuang untuk membangun peradaban Islam, mengembalikan hukum hukumnya, tetapi sistem pendidikan saat ini juga tidak membangun ambisi anak untuk mau belajar. Tetapi malah di rusak secara mental, akhlaknya juga masa depannya. 

Sistem saat ini melalaikan tugas dan tanggung jawab peran orang tua dan guru maupun lingkungan. Padahal tanggung jawab orang tua untuk membentuk anak menjadi anak yang berhasil dalam meraih kesuksesan juga menjadikan anak mempunyai akhlak mulia, mengokohkan keimanannya. Anak adalah amanah yang harus di didik, menjadi anak yang taat pada perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Yang pastinya harus di bimbing di rumah sejak dini maupun di lingkungan sekolah. 

Sistem saat ini membuat anak-anak saat ini di sibukkan dengan gadget, yang di dalamnya tentu banyak berbagai macam tontonan, yang nantinya akan merubah pola pikir anak, kebiasaan juga mencontoh ataupun anak-anak cenderung dengan rasa penasarannya. Jika hal ini tidak ada dalam pengawasan dan pengasuhan yang baik anak akan salah arah. Juga bahkan lebih parah lagi dari yang kita bayangkan saat ini. Nauzubillah .

Dalam Islam, orang tua adalah pendidik yang seharusnya menjadi contoh anak-anaknya, dan ketika kita menginginkan anak-anak yang sholeh-sholehah, orang tuanya juga harus banyak belajar, memuhasabah diri juga menjadi orang tua yang bisa menjadi sahabat, untuk anak nya. Bukan justru malah asing dan canggung untuk bercerita.


Share this article via

0 Shares

0 Comment