| 61 Views
Remaja Korban Bullying Semakin Membahayakan
Oleh: Ummu Syathir
Kasus bullying kembali menyita perhatian. Dalam beberapa pekan terakhir, telah terjadi dua kasus yakni pembakaran pesantren di Aceh dan ledakan SMA di Jakarta yang dilakukan oleh korban bullying. Ini merupakan alarm darurat bagi dunia pendidikan dan juga orang tua. Sekolah yang menjadi tempat anak-anak menuntut ilmu justru menjadi tempat tumbuh suburnya bullying sehingga menjadi tempat yang mengerikan bagi anak.
Banyak faktor yang menyebabkan seorang anak melakukan bullying, di antaranya faktor keluarga: komunikasi interpersonal anak dan orang tua, kekerasan verbal yang dilakukan orang tua kepada anak menjadi contoh bagi anak ke depannya; faktor lingkungan: pengaruh kelompok teman sebaya yang biasa diperoleh di sekolah maupun lingkungan tempat tinggal. Lebih dari itu, kedua faktor tersebut bisa mewarnai karakter anak akibat sistem kehidupan yang mendidik masyarakat suatu negara.
Oleh karena itu, dibutuhkan sinergisitas peran antara keluarga, masyarakat, sekolah, dan terutama negara dalam mengatasi kasus bullying yang terus menelan korban jiwa. Bukan hanya sekadar solusi parsial yang tidak mampu menuntaskan masalah bullying hingga akarnya, sebagaimana wacana memblokir akses masyarakat ke game daring bergenre tembak-tembakan seperti PUBG.
Benar bahwa generasi yang terlalu lama berinteraksi dengan dunia maya akan berdampak buruk pada perkembangan, bahkan mengalami brain rot akibat banyaknya menelusuri konten-konten remeh, kekerasan, game daring, judi daring, hingga pornografi yang berdampak negatif pada psikologis dan mengurangi kemampuan otak berpikir kreatif. Tidak adanya filter terhadap konten-konten yang merusak kepribadian anak merupakan asas kebebasan bertingkah laku yang lahir dari ideologi sekuler.
Hampir semua platform media sosial yang paling ramai dikunjungi anak dan remaja berasal dari negara-negara sekuler kapitalis. Media menjadi bisnis yang menggiurkan bagi para kapitalis. Ada satu prinsip dasar yang menyatakan bahwa siapa yang menguasai media, dialah yang menguasai dunia. Itulah mengapa, seiring dengan penguasaan dunia oleh para kapitalis, mereka juga menguasai media massa dunia.
Selain menjadikan negeri-negeri Muslim sebagai pasar, mereka juga semakin menanamkan ide-ide sekuler dan liberal yang menjadikan kaum Muslim tetap berada di bawah pengaruh negara sekuler yang dimotori oleh Amerika. Penanaman ide-ide sekuler dan liberal melalui digitalisasi sangat berpotensi mengikis keislaman kaum Muslim, terutama kaum pemuda. Platform over the top global seperti Facebook, Path, WhatsApp, Twitter, dan banyak lainnya terang-terangan mendukung LGBT serta menampilkan tayangan yang miskin moralitas dan spiritual.
Penerapan sistem kehidupan yang sekuler kapitalis juga berperan besar menciptakan kondisi kehidupan yang semakin sempit. Sistem ini menjadikan peran orang tua tidak berfungsi dengan baik. Orang tua, bahkan ibu, harus bekerja membantu perekonomian keluarga atau bahkan tak jarang menjadi tulang punggung keluarga, padahal ia seharusnya mengatur rumah tangga suaminya. Sibuknya kedua orang tua bekerja menjadikan kurangnya perhatian kepada anak. Tanpa pengawasan, alat elektronik menjadi teman anak seharian. Tidak ada kontrol dalam mengakses dunia internet yang merupakan tempat terakumulasinya kebaikan dan keburukan.
Sistem kehidupan sekuler kapitalis telah mencabut nilai-nilai moralitas dan spiritual dari benak masyarakat, menyuburkan nilai kebebasan termasuk kebebasan bertingkah laku. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat lahirnya insan berkepribadian luhur berubah menjadi tempat suburnya kasus bullying yang telah banyak memakan korban. Agama hanya dipelajari sekadar formalitas yang tidak mampu membentuk karakter pada peserta didik.
Kerusakan sistem sekuler kapitalis telah nyata menggiring manusia pada keburukan. Sistem ini telah lama mengisi benak kaum Muslim. Sistem ini harus dibuang dan diganti dengan sistem Islam yang memanusiakan manusia dan memuliakan manusia.
Islam Mengatasi Bullying
Islam adalah rahmat yang menciptakan kebaikan, kesejahteraan, keamanan, serta kemaslahatan bagi seluruh manusia dan alam. Nabi Muhammad saw. diutus dengan membawa syariat Islam untuk mewujudkan rahmat bagi alam semesta. Allah Swt. berfirman: “Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” (Al-Anbiya’: 107).
Islam mengajarkan manusia berakhlak mulia dan bertutur kata baik. Banyak ayat dan hadis yang menyeru demikian. Salah satunya:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk…” (Al-Hujurat: 11).
Membentuk pribadi mulia bukan hanya tanggung jawab keluarga dan masyarakat, tetapi negara memiliki peran besar dalam mewujudkannya. Islam mewajibkan pengasuhan anak kepada ibu hingga tamyiz dan pendidikan anak menjadi tanggung jawab ayah dan ibu, mengarahkan mereka pada kebaikan yakni Islam. Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (At-Tahrim: 6).
Namun lebih dari itu, negaralah yang sangat berperan mewujudkan lingkungan masyarakat yang kondusif dan saleh bagi anak. Negara wajib menerapkan aturan Islam secara menyeluruh, sehingga tercipta kontrol masyarakat dalam melakukan kemakrufan dan mencegah kemungkaran, termasuk dalam mencegah perundungan.
Negara wajib mencegah arus digitalisasi yang merusak, menerapkan sistem pendidikan Islam dengan kurikulum yang membentuk peserta didik berkepribadian Islam sekaligus menguasai ilmu pengetahuan. Negara juga wajib mengatur kepemilikan harta agar tidak menumpuk pada segelintir orang (Al-Hasyr: 7) serta mengelola sumber daya alam sebagai kepemilikan umum demi menjamin kesejahteraan rakyat, sehingga orang tua tidak terbebani berlebihan oleh tuntutan ekonomi dan tetap dapat fokus mendidik anak-anaknya.
Rasulullah saw. bersabda: “Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang ia urus.” (HR Muslim dan Ahmad)
Sejarah menunjukkan bahwa pemuda Muslim yang hidup dalam naungan sistem Islam mampu menjadi pribadi unggul: Zaid bin Haritsah, Mushab bin Umair, Ali bin Abi Thalib, Shalahuddin al-Ayyubi, dan Sultan Muhammad al-Fatih. Mereka dibina dengan akidah dan syariah Islam, sehingga pemikiran, perasaan, dan perilaku mereka sesuai dengan tuntunan Islam.
Oleh karena itu, dengan ketiadaan negara Islam yang menaungi kaum Muslim, kita harus membentengi diri dengan pemikiran Islam agar terbentuk pola pikir dan pola sikap Islami. Kita harus terus mendakwahkan Islam, mencabut pemikiran rusak sekuler-liberal dari benak umat—terutama pemuda—dan mengisinya dengan pemahaman Islam sehingga mereka sadar akan kedudukannya sebagai hamba Allah Swt.
Terus berulangnya kasus perundungan yang menimpa generasi dan menimbulkan dampak berbahaya membuktikan bahwa sistem sekuler kapitalis telah gagal membentuk generasi berkepribadian mulia. Sudah saatnya mencampakkannya dan menggantinya dengan sistem Islam yang telah terbukti menghasilkan generasi berkualitas.