| 174 Views

Refleksi Muharram: Mewujudkan Kebangkitan Umat yang Hakiki

Oleh: Dian Harisah

1 Muharram 1447 H telah berlalu. Umat Islam di negeri ini disibukkan dengan berbagai perayaan menyambut tahun baru dengan berbagai kegiatan. Ada kirab Muharram, pawai obor, ceramah agama, grebeg Suro, serta pembagian bubur Suro dll.

Tak kalah dengan perayaan menyambut tahun baru Hijrah dalam negeri, di negara lain juga diisi dengan beragam kegiatan. Di antara kegiatan tersebut sebagaimana terangkum dalam m.antaranews.com, 21/6/2025 dimulai di Irak masyarakat berkabung dan berkisah perjuangan Imam Hussein cucu Rasulullah SAW yang gugur dalam peristiwa Karbala. Di Brunei Darussalam perayaan ini dilakukan dengan kegiatan membersikan tempat Ibadah dan berdoa bersama. Ada kegiatan "mengikat hati" di Malaysia yang diisi dengan acara ceramah agama dll.

Seyogyanya bagi umat Islam, tahun baru Islam bukan hanya sekedar perayaan semata. Namun lebih dari itu, tahun baru Islam harus membawa spirit umat ini  untuk melakukan perbaikan. Momentum perubahan atau hijrah dari kondisi keterpurukan menuju kondisi yang mulia.

Darimana Perhitungan Tahun Islam Dimulai?

Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, sekitar tahun 16 H atau 17 H, beliau mengumpulkan manusia untuk membicarakan darimana dimulainya tahun Islam. Kemudian muncullah beberapa pendapat, di antaranya:

Pertama: Dihitung dari kelahiran Rasulullah
Kedua: Dihitung dari kematian beliau
Ketiga: Dihitung dari hijrahnya beliau
Keempat: Dihitung sejak beliau menjadi rasul.

Khalifah Umar bin Khaththab akhirnya memutuskan perhitungan kalender Islam dimulai dari hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dari Mekkah menuju Madinah. Karena sejak disyariatkannya hijrah, Allah SWT telah menjadikan Islam diterapkan secara praktis dalam negara. Pada saat itu pula awal berdirinya negara Islam. 

Memaknai Hijrah

Hijrah secara bahasa diartikan perpindahan. Allah SWT berfirman:

إِنِّي مُهَاجِرٌ إِلَى رَبِّي 

”Sesungguhnya aku akan berpindah ke Rabb-ku” [QS. Al-Ankabut : 26]. Imam Qurthubi dalam kitab Tafsîr al-Qurthubi, III/48) menjelaskan bahwa makna hijrah dalam ayat ini adalah berpindah ke tempat yang diperintahkan Tuhan. 

Imam Al-Jurjani mendefinisikan hijrah sebagai pindah dari daarul (negara) kufur kepada daarul (negara) Islam. Negara Kufur Yang dimaksud adalah negara yang menerapkan hukum kufur (selain Islam) dan keamanan negara tersebut tidak dijamin oleh keamanan kaum Muslim. Sementara Negara Islam adalah negara yang menerapkan hukum Islam dan keamanan negeri tersebut dijamin oleh kaum Muslim.

Refleksi Muharram: Mewujudkan  Kebangkitan Umat yang Hakiki

Jika kita mau objektif melihat kondisi umat Islam saat ini tentu kita tidak bisa menolak realitas kemerosotan kondisi umat Islam. Umat Islam tidak lagi sebagaimana yang digambarkan Allah SWT dalam QS Ali Imran ayat 110 sebagai umat terbaik. Tidak hanya di negeri ini, namun umat Islam di seluruh penjuru dunia kini dalam keadaan terpuruk. 

Berbagai permasalahan tengah di hadapi masyarakat mulai dari kesulitan ekonomi, PHK masal, pencurian, perampokan, korupsi, perceraian, kenakalan remaja, narkoba, judol, pinjol, pembunuhan, bundir dll. Problem ini pun tidak melihat usia, strata ataupun status sosial, rakyat ataupun pejabat. Artinya permasalah umat yang kini ada, bukan karena problem individual tapi problem sistemik.

Kondisi umat Islam di penjuru dunia juga tidak jauh berbeda, terpuruk di segala aspek kehidupan. Bahkan saudara Muslim kita di Gaza mengalami permasalahan yang serius yakni pengusiran dari tanah air mereka, perampasan tempat tinggal bahkan genosida sejak 27 Oktober 2023 lalu. Sebagaimana dilansir tempo.co.id 30/6/2025 sebanyak 133.400 warga Palestina terluka dan 56.000 tewas sejak Oktober dua tahun lalu.

Semua permasalahan yang dihadapi umat ini butuh solusi. Solusi paripurna yang benar-benar menyelesaikan problem umat ini dari akar masalahnya. Bukan sekedar tambal sulam. Solusi yang diberikan harus mendasar dan menyeluruh. Benang merah dari semua problem umat Islam bermuara pada tidak adanya pemerintahan Islami atau negara Islam yang menerapkan Islam secara paripurna di seluruh aspek kehidupan.

Dan ketika berbicara tentang hijrah maka tidak bisa dilepaskan dari kata perubahan. Dengan melihat realita umat Islam kini yang sangat jauh dari kata mulia maka layaklah refleksi Muharram saat ini dimaksudkan untuk mengajak umat melakukan perubahan demi mewujudkan kebangkitan umat yang hakiki yakni mewujudkan kembali pemerintahan Islami.

Kebangkitan hakiki ini mampu membawa umat pada kemuliaannya kembali, menjadi perisai umat dan pelindung umat. Dan itu hanya bisa ditempuh dengan cara menjadikan aturan Allah SWT sebagai satu-satunya aturan yang diterapkan oleh negeri ini. Maka sudah saatnya kita mengupayakan dengan serius kebangkitan umat sehingga kemualiaan umat kembali terwujud.

Wallahu'alam


Share this article via

60 Shares

0 Comment