| 7 Views
Raden Ajeng Kartini, Bukan Pejuang Emansipasi
Foto Kartini berkerudung (Foto: Dok. Istimewa)
Oleh: Oryza Sativa
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok
Tanggal 21 April, setiap tahunnya di Indonesia ada seorang wanita yang dikenang perjuangannya, diperingati hari lahirnya, tertoreh namanya dengan tinta emas yang indah. Dialah Raden Ajeng Kartini, seorang perempuan istimewa yang harum namanya. Putri dari Bupati Jepara bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan MA Ngasirah, putri dari seorang Kyai.
Nama Raden Ajeng Kartini menjadi fenomenal di tengah kaum wanita, banyak orang mengenalnya sebagai pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia. Biasanya untuk memperingati perjuangan RA Kartini beragam acara digelar misalnya, lomba memasak, penampilan perempuan berkebaya, dan bersanggul. Bahkan anak-anak pun tidak ketinggalan diikutsertakan dalam lomba busana, berdandan lengkap dengan pakaian adatnya.
Terlahir dari bangsawan Jawa, Kartini kecil hidup dalam dekapan keluarga yang menjaga norma adat Jawa. Menjadikan Kartini kecil tumbuh besar berlaku sopan, bertutur santun penuh etika dan tatakrama.
Sebagai bangsawan, RA Kartini mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun. Di sana dirinya mempelajari berbagai keterampilan, yang salah satunya bahasa Belanda. Setelah usianya lebih dari 12 tahun, Kartini harus tinggal di rumah karena dipingit.
Sejak dipingit di rumah, kemampuan bahasa Belanda RA Kartini terus terasah. Ia sering membaca banyak buku, surat kabar hingga majalah, seperti dari surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, dan berlangganan leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan).
Selepas dipingit Kartini menikah. Beruntungnya suaminya mendukung cita-citanya yang mulia untuk memajukan kaumnya. Kartini membangun sekolah wanita pada Juni 1903 di Pendopo Kabupaten Jepara. Di sana, Kartini mengajari murid-muridnya dengan beragam ilmu, seperti membaca, menulis, menggambar, tata krama, sopan-santun, memasak, serta membuat kerajinan tangan.
Beberapa bulan setelah melahirkan anak pertama, Raden Ajeng Kartini meninggal dunia dalam usia yang masih tergolong muda. Kepergiannya meninggalkan semangat untuk memerdekaan kaum wanita di bidang pendidikan agar tidak tertinggal dari kaum pria.
Semasa hudupnya Kartini memiliki cita-cita yang tinggi yaitu ingin mengubah masyarakat. Khususnya kaum perempuan yang tidak memperoleh hak pendidikan. Juga untuk melepaskan diri dari kungkungan adat yang tidak adil. Cita-cita luhur Itu sebagaimana terlihat dalam tulisan Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya pada 4 oktober 1902 yang isinya, "Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-kali, karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya, tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya; menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."
Semua karena Islam
Perjuangan mulia RA. Kartini dimanipulasi oleh pegiat emansipasi. Kaum feminis menjadikan semangat belajar dan memajukan kaum perempuan sebagai inspirasi dalam menyetarakan kedudukan perempuan dengan laki-laki. Padahal Kartini hanya ingin perempuan menuntut ilmu agar tahu kewajibannya dan mampu menjadi ibu pendidik bagi anak-anaknya.
Ada banyak sekali fakta yang disembunyikan dalam sejarah Ibu Kartini. Banyak yang mengetahui beliau adalah pelopor dari emansipasi wanita Indonesia, sehingga momentum kelahirannya senantiasa dikaitkan dengan hari emansipasi.
Memang pada awalnya ia sangat memuja budaya Eropa, tetapi berubah setelah ia mengenal Islam. Ingin menjadikan Islam sebagai landasan berpikirnya. Hal itu dapat ditemukan pada komentar Kartini ketika bertanya pada gurunya, Kyai Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat Semarang, sebagai berikut, "Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah. Namun, aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam Bahasa Jawa? Bukankah Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia.
Distorsi Perjuangan
Sayang sekali cita-cita perjuangan ibu Kartini menjadikan perempuan setara dengan laki-laki dalam hal pendidikan, bukan untuk menyaingi laki-laki dalam hal kedudukan dimanipulasi seperti yang digembargemborkan pegiat gender selama ini. Kaum feminis mendistorsi emansipasi dari semua sisi. Intinya perempuan tidak boleh kalah dalam hal apa pun dari laki-laki.
Kaum feminis berjuang tiada henti agar cita-cita mereka mendudukkan peran wanita sejajar dengan laki-laki. Jerih payah tiada henti pun terbukti menuai hasil menjadikan perempuan keluar dari koridornya sebagai perempuan yang bisa mendidik anak-anaknya, dan tahu akan kewajibannya menjadi seorang ibu sekaligus penanggung jawab urusan rumah tangganya.
Satu contoh kesalahan berpikir kaum wanita. Banyak ditemui perempuan seharian berada di luar rumah sebagai kaum pekerja yang menghabiskan waktunya demi karier sekaligus penopang nafkah keluarga. Bukankah kewajiban mencari nafkah berada dipundak para bapak? Atas nama emansipasi perempuan bekerja apa saja dianggap sebagai hak asasi bagi wanita. Apa dampaknya? Banyak anak-anak yang kehilangan sosok ibunya, pelecehan terhadap wanita ada di mana-mana, perselingkuhan di dunia kerja bahkan perceraian banyak terjadi akibat dari bablasnya perempuan dalam menjaga amanah. Kegelapan pun seakan menyelimuti kehidupan rumah tangga akibat peran dan tanggung jawab suami istri salah porsinya.
Mari kita luruskan distorsi sejarah tentang perjuangan Raden Ajeng Kartini. Dia bukan pejuang emansipasi. Cita-citanya yang tinggi akan selaras jika aturan Islam tegak di muka bumi agar setelah gelap terbitlah terang.