| 4 Views

Puasa di Tengah Liga Eropa 2026: Ketika Maghrib Datang di Menit ke-13 dan Para Pemain Tetap Berlari

CendekiaPos - Di Eropa, Ramadan 2026 tidak datang saat musim libur. Ia datang di tengah jadwal padat, stadion penuh, dan tekanan hasil yang tidak mengenal kompromi. Bagi pesepak bola Muslim, ini bukan sekadar soal “menahan lapar dan haus”, tetapi soal menjaga ibadah sambil tetap profesional—berlari, sprint, duel, dan mengambil keputusan cepat dalam pertandingan.

Dan di sinilah muncul momen yang belakangan makin sering terlihat di siaran langsung: pertandingan berhenti sebentar—bukan karena VAR, bukan karena cedera keras, tetapi karena waktu berbuka.

Premier League: Maghrib Datang, Bola Berhenti Sejenak

Pada laga Manchester City vs Leeds di Elland Road, ada jeda singkat di menit ke-13 agar pemain Muslim bisa berbuka puasa. Namun, jeda itu sempat memantik reaksi buruk dari sebagian penonton yang terdengar mencemooh. Pep Guardiola mengecam hal itu dan meminta penghormatan terhadap keyakinan pemain.

Nama-nama pemain yang disebut dalam liputan peristiwa itu menggambarkan realitas Ramadan di sepak bola elite: Rayan Aït-Nouri, Rayan Cherki, Omar Marmoush, dan Abdukodir Khusanov—mereka tetap menjalankan puasa dan tetap tampil di level tertinggi, dengan dukungan tim nutrisi klub.

Di Inggris, jeda berbuka ini bukan hal dadakan. Media menjelaskan bahwa Premier League punya protokol yang memungkinkan pertandingan berhenti sebentar pada natural stoppage (lemparan ke dalam, tendangan gawang, pelanggaran) agar pemain bisa mengambil air dan asupan cepat saat matahari terbenam.

Bagi penonton, mungkin hanya terlihat “minum beberapa detik”. Tapi bagi pemain yang berpuasa, itu adalah titik balik: tubuh kembali punya energi, kepala kembali fokus, dan sisa pertandingan bisa dijalani tanpa rasa “kering” yang mengganggu.

Ligue 1: Ketika Jeda Resmi Tidak Ada, Muncul “Jalan Sunyi” di Lapangan

Berbeda dengan Inggris, di Prancis situasinya lebih rumit. Dalam sebuah laga Ligue 1, kiper Nantes Anthony Lopesmenjadi bahan perbincangan karena ia terlihat “menahan permainan” dengan pura-pura cedera agar rekan setimnya yang berpuasa punya waktu berbuka. Kisah ini ramai karena Ligue 1 disebut tidak mengizinkan penghentian laga khususuntuk berbuka, sehingga pemain dan tim kadang mencari cara melalui momen-momen yang “tidak resmi”.

Di tribun, momen itu terlihat sederhana: pemain berlari ke pinggir lapangan, meneguk air, menyantap kurma atau gel energi, lalu kembali. Tapi bagi mereka yang memahami, itu adalah bentuk solidaritas: satu tim berusaha menjaga ibadah rekan setim tanpa mengganggu pertandingan terlalu lama.

La Liga: Tidak Ada Rencana Pause—Semua Diatur Klub dan Pemain

Di Spanyol, La Liga dilaporkan tidak berencana menghentikan pertandingan pada waktu berbuka. Penanganan Ramadan disebut menjadi urusan internal antara pemain dan klub, disesuaikan dengan operasi pertandingan.

Konsekuensinya, pemain Muslim di La Liga lebih sering mengandalkan:

  • timing berbuka pada jeda yang tersedia (misalnya bola keluar, pelanggaran),

  • strategi sahur dan hidrasi,

  • pengaturan beban latihan,

  • dan dukungan tim medis.

Bukan Sekadar “Kuat Menahan Haus”—Ini Ilmu Manajemen Energi

Yang sering tidak terlihat kamera adalah persiapan di balik layar. Puasa untuk atlet bukan sekadar niat. Ini sains dan disiplin:

  • sahur dengan karbo kompleks + protein agar energi tahan lama,

  • hidrasi dan elektrolit yang dihitung,

  • strategi recovery,

  • dan rotasi latihan.

Karena itu, Guardiola menyinggung peran nutrisionis klub dan pengalaman pemain dalam mengatur Ramadan tanpa mengorbankan performa.

Ketika Bola Menguji Iman, dan Iman Menguatkan Bola

Ramadan di Eropa juga menjadi ujian sosial. Reaksi sebagian penonton yang mencemooh jeda berbuka di Leeds memperlihatkan bahwa sepak bola modern masih punya pekerjaan rumah tentang toleransi.

Namun di sisi lain, momen-momen ini juga menunjukkan perkembangan: semakin banyak liga, klub, dan ofisial yang memahami bahwa puasa bukan hambatan, melainkan bagian dari identitas pemain—dan bisa difasilitasi tanpa mengganggu keadilan pertandingan.

Iftar di Pinggir Lapangan, Dakwah Tanpa Kata

Di menit-menit senja, ketika adzan maghrib “seolah” datang di sela teriakan stadion, para pemain itu mengajarkan sesuatu yang tidak tertulis di papan skor: konsistensi.

Mereka tetap shaum—bukan untuk terlihat hebat, tetapi karena taat.
Mereka tetap bertanding—bukan untuk meninggalkan ibadah, tetapi karena amanah profesi.

Dan di situlah Ramadan terasa hidup di Eropa 2026: bukan hanya di masjid, tetapi juga di lapangan hijau—di antara tekel, sprint, dan seteguk air yang jadi penanda: waktu berbuka telah tiba.


Share this article via

0 Shares

0 Comment