| 492 Views
Program MBG, Akankah Mampu Meningkatkan Ekonomi Masyarakat ?
Oleh : Inne Mariana
Pemerhati Ummat
Program makan bergizi gratis mulai diuji coba di sejumlah daerah, termasuk di Bekasi, Jawa Barat, pada Selasa (13/8), yakni digelar di SDN Teluk Pucung VII, SDN Teluk Pucung VIII, dan SDN Teluk Pucung XI.
Lokasi ini pun dikunjungi langsung wapres terpilih Gibran Rakabuming Raka.
Dalam kunjungannya, Gibran memastikan bahwa makanan yang disediakan sesuai dengan anggaran yang direncanakan, yaitu Rp 14.900 per porsi dan memenuhi kebutuhan nutrisi siswa di sekolah.
Program ini dinilai mampu menciptakan multiplier effect yang besar.
Menurut ekonom dari INDEF, Izzudin Al-Farras, program ini menciptakan kemitraan antara perusahaan layanan pesan-antar makanan dengan UMKM, sehingga memberikan pendapatan tambahan bagi pelaku UMKM dan pengemudi ojek online (Ojol).
Uji coba ini diprakarsai GoTo dan TikTok dengan melibatkan mitra UMKM dan ojol yang menjangkau sekitar 300 siswa sekolah dasar. Menu yang di sediakan terdiri dari nasi, ayam goreng, sayur buncis, pepaya, dan susu, yang dipesan dari UMKM sekitar sekolah dan kemudian di antarkan pengemudi ojol ke sekolah masing-masing.
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani _(dilansir dari cnn Indonesia)_ resmi mengalokasikan anggaran program makan bergizi gratis sebesar Rp 71 triliun dalam RAPBN 2025. Menurutnya, anggaran tersebut hanya gambaran besar saja. Sementara, untuk detailnya akan dirinci dalam rapat komisi DPR RI bersama tim pemerintahan yang baru.
Pemerintah klaim program makan bergizi gratis atau MBG bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam dokumen Buku II Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2025 disebutkan MBG diharapkan dapat menyumbang peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 0,10% pada 2025. Padahal masih banyak hal yang simpang siur terkait Program MBG ini seperti:
1. Hitungan Program MBG untuk pertumbuhan Ekonomi masih di pertanyakan
Ekonom mempertanyakan hitungan program MBG bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi. “Muncul angka 0,10% apakah lewat perhitungan metodologi statistik atau proyeksi ekonomi atau berbasis prediksi ya ?” kata Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios) Media Wahyudi Askar dalam acara Biweekly Brief Celios, Senin (19/8). Media mengakui program makan bergizi gratis sudah diterapkan di banyak negara dan bukan menjadi hal yang baru. Hanya saja, Media menilai belum ada pembuktian di negara yang sudah menerapkan program tersebut berdampak kepada ekonomi makro.
2. Sasaran Penerima Program MBG yang belum jelas
Di bandingkan menargetkan kepada pertumbuhan ekonomi, Media justru menyoroti pemerintah harus bisa memastikan program makan bergizi gratis bisa tepat sasaran. Terlebih kapasitas setiap negara yang sudah mengimplementasikan program tersebut berbeda beda. Seperti di Eropa, program makan bergizi gratis dibuat untuk semua anak di negara tersebut namun memang sesuai dengan kemampuan negaranya. Berbeda dengan negara berkembang seperti Amerika Latin dan di Asia Selatan. Media menyebut kapasitas fiskal di negara tersebut terbatas sehingga hanya memberikan makan bergizi gratis untuk anak yang tidak mampu. Sementara di Indonesia, Media menyoroti belum ada kejelasan yang bisa diberikan pemerintah berkaitan dengan sasaran penerima program MBG.
3. Anggaran MBG Tidak Cukup untuk Skala Nasional
Di sisi lain, Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menegaskan anggaran sebesar Rp 71 triliun yang disiapkan pemerintah untuk MBG tidak cukup jika program tersebut berlaku nasional. Bhima menilai biaya untuk Badan Gizi Nasional, logistiknya, dan pekerjanya termasuk pengadaan barang jasa membutuhkan anggaran yang tidak kecil.
Disebutkan, anggaran sekitar Rp 71,0 triliun atau 0,29% dari PDB termasuk untuk biaya makanan, distribusi, dan operasional lembaga yang menangani program makan bergizi gratis. Dari program tersebut, pemerintah tetap optimis dapat menyerap 0,82 juta pekerja. Selain itu, program ini diharapkan dapat menyumbang peningkatan pertumbuhan ekonomi 0,10% pada 2025.
4. Rentan Peluang Korupsi
Program MBG yang di gadang-gadang oleh pemerintah mampu membantu rakyat dalam pemberian makan siang gratis ini, juga diharapkan mampu menggerakkan bahkan meningkatkan ekonomi setiap daerah serta mampu menyerap tenaga kerja. Dengan dana yang tidak sedikit digelontorkan, apakah akan berjalan baik sesuai harapan tanpa ada nya penyelewengan dana.
Hanya saja, perilaku korup di kalangan para pejabat Indonesia yang telah mendarah daging serta mengakar.
Alih alih meningkatkan kesejahteraan rakyat nya, ruang lingkup korupsi kian bertambah.
Wajar saja jika nanti nya program ini akan terbengkalai sebagai wacana saja seperti program program lainnya. Inilah sistem politik demokrasi kapitalis yang hanya melahirkan para penguasa nya yang abai terhadap persoalan rakyat.
Sistem kapitalisme membatasi peran penguasa menjadi sebatas regulator, sedangkan seluruh persoalan rakyat malah di serahkan kepada swasta. Hal ini makin menciptakan kemiskinan dan kesenjangan. Ini karena ketika pengaturan tata kelola urusan umat diatur berdasarkan kemaslahatan penguasa dan pengusaha. Profit serta keuntungan mereka orientasi utama, bukan kesejahteraan rakyat seluruh nya.
Berbeda dengan tata kelola sistem pemerintahan berdasarkan Islam akan mampu, dan telah terbukti menyelesaikannya.
Sistem politik Islam akan melahirkan penguasa yang amanah dan kapabel, sehingga akan benar benar mengurus rakyat dengan sepenuh hati. Adapun fungsi dalam Islam adalah sebagai pengurus sekaligus pelindung rakyat sehingga seluruh urusan rakyat menjadi tanggung jawab negara.
Seluruh kebutuhan dasar rakyat tanggung jawab negara. Negara akan memastikan setiap kepala keluarga mendapatkan pekerjaan dan upah yang layak. Jika ada kepala keluarga yang tidak sanggup bekerja karena sakit atau cacat misalnya, sedangkan kerabat mereka pun tidak mampu menanggung nya, keluarga tersebut termasuk keluarga yang akan disantuni oleh negara. Negara lah yang akan memenuhi kebutuhan keluarga tersebut, termasuk pangan yang bergizi, hingga keluarga tersebut keluar dari kesengsaraan nya.
Wallahu a'lam bishawab