| 26 Views
Potret Hardiknas Tanpa Makna, Dalam Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalis
Cegah Bunuh Diri di Kalangan Pelajar, KPAI Bahas Pentingnya Bangun Sistem Deteksi Dini. Foto: Jcomp/Freepik.
Oleh : Cokorda Dewi
Peringatan Hardiknas selalu diadakan setiap tahun. Tapi hanya berkesan sebatas peringatan tanpa makna, sebab persoalan yang melingkupi dunia pendidikan saat ini makin kompleks, bahkan semakin buram, dan tanpa solusi yang nyata.
Kompleksnya kasus yang terjadi dalam dunia pendidikan saat ini, seperti kekerasan dan pelecahan seksual, bunuh diri, peredaran narkoba, bullying, penganiyaan berujung pembunuhan, kecurangan dalam ujian, maraknya joki UTBK, budaya plagiat, bisnis pengerjaan tugas belajar, terjerat judol dan pinjol, hingga penghinaan dan pemenjaraan guru, hanya karena menerapkan tindak disiplin pada muridnya. Termasuk juga terjadinya perubahan kurikulum berulang, tanpa memberikan efek yang signifikan ke arah perubahan, baik secara moral, akhlak, maupun adab. Hanya sebatas persaingan akademis, capaian prestasi, akreditasi, dan tekanan dunia kerja saja, menyesuaikan dengan target pasar.
Beberapa kasus dilansir di berbagai media sosial. Diantaranya adalah pengeroyokan Ilham (16) berujung kematian di Bantul, Jogjakarta. Para tersangka berjumlah 7 orang telah diamankan pihak kepolisian, dan dijerat dengan pasal berlapis, dengan hukuman maksimal adalah hukuman mati (detik.com, 28-04-2026).
Polresta Kendari berhasil mengamankan seorang pelajar pengedar narkoba jenis sabu, bermula dari kecurigaan warga tentang adanya aktivitas mencurigakan terkait transaksi narkoba di kawasan BTN Permata Anawai, Kendari (rri.co.id, 30-03-2026).
Dugaan pelecehan seksual verbal terjadi dalam grup percakapan mahasiswa IPB (Institut Pertanian Bogor) dan UI (Universitas Indonesia). Dalam percakapan tersebut, diduga sejumlah perempuan menjadi obyek seksual mereka (BBC.com, 21-04-2026).
Kasus tersebut menandakan ada yang salah dengan sistem yang diterapkan dalam pendidikan. Peringatan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) seharusnya menjadi alarm perubahan sistem yang dapat mensolusi akar permasalahan, penyebab munculnya perilaku generasi yang menyimpang.
Sistem pendidikan yang diterapkan saat ini adalah sistem sekuler kapitalis, dimana urusan dunia dipisahkan dari urusan agama, memicu peta pendidikan ke arah liberal, pragmatis. Sehingga melahirkan generasi strawberi, tampak keren diluar, tapi rapuh di dalam, termasuk rapuh moral, akhlak, dan adabnya. Memunculkan generasi yang ingin sukses dengan instan, ingin memiliki banyak uang, mengutamakan hal duniawi, namun menghalalkan segala cara dalam mencapainya, tanpa mau berusaha dengan serius dan dengan cara yang benar. Ditambah lagi terpapar konten negatif di ruang digital, akibat tidak adanya pengetahuan literasi digital yang benar. Hidup bagaikan hilang arah, tersesat di dunia yang mengagungkan materi semata, menganggap bahwa uang adalah segalanya. Menghasilkan generasi tanpa ruh.
Longgarnya sanksi bagi pelajar yang rata-rata berusia dibawah umur, sehingga mentoleransi perilaku menyimpang sebagai sebuah kenakalan remaja semata.
Minimnya ilmu agama dalam sistem pendidikan sekuler kapitalis, menyebabkan generasi jauh dari nilai-nilai agama, membuka lebar ruang kebebasan, yang memungkinkan terseret kedalam arus kemaksiatan. Perlu adanya perubahan sistem pendidikan yang dapat mensolusi segala akar permasalahan yang ada.
Bagaimana Islam mensolusi segala problematika dalam dunia pendidikan?
Pendidikan dalam sistem Islam, adalah merupakan hal penting dan mendasar yang merupakan hak setiap individu, di mana negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan akan pendidikan tersebut. "Tholabul ilmi fardhu'ain ala kuli Muslim", menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim (HR. Ibnu Majah).
Dalam negara yang menerapkan sistem Islam, pendidikan berasaskan pada akidah, mengajarkan bahwa segala sesuatunya berkaitan erat dengan Sang Pencipta. Hukum syarak sebagai tolak ukur suatu amal perbuatan. Sehingga dapat terwujud generasi yang cerdas, beriman, dan bertaqwa, menjauhi segala yang menjadi larangan Allah, menghindarkan diri dari segala hal yang berkaitan dengan kemaksiatan.
Pendidikan dalam sistem Islam, berfokus pada pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyyah), yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap Islami yang selaras. Pendidikan dalam sistem Islam, menciptakan suasana kehidupan yang penuh keimanan dan ketakwaan. Sehingga mendorong umat untuk fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam amal kebaikan). Sanksi tegas akan diberikan pada pelaku kemaksiatan atau kejahatan, memberikan efek jawazir (pencegahan dengan efek jera) dan jawabir (penebus dosa). Sehingga kasus tersebut tidak akan berulang terjadi.
Adanya sinergi antara individu, keluarga, masyarakat, lingkungan, dan sistem pendidikan yang diterapkan oleh negara secara kondusif. Halal haram sebagai tolak ukur amal perbuatan. Berpijak pada akidah dan syari'at Islam, maka akan menghasilkan generasi cerdas dan bertakwa, serta bertanggungjawab, menjadi pelopor peradaban yang gemilang.
Wallahu a'lam bishshowab.