| 78 Views

PMI Sayang, PMI Malang

Oleh : Mulyaningsih
Pemerhati Anak & Keluarga

Diawal tahun ini, kita kembali dihebohkan berita terkait dengan para pekerja migran. Lagi-lagi, kekerasan terjadi pada Pekerja Migran Indonesia (PMI). Sebagaimana diberitakan oleh salah satu laman bahwa terjadi insiden penembakan warga negara Indonesia oleh aparat Malaysia di Perairan Tanjung Rhu, Selangor. Kasus tersebut menambah deretan panjang kekerasan terhadap PMI di negeri Jiran. Dalam peristiwa tersebut ada satu orang tewas dan empat orang mengalami luka-luka. Agensi Penguatkuasa Maritim Malaysia (APMM) mengatakan bahwa yang dilakukan sesuai pada prosedur standar operasional, karena mendapat perlawanan. Seakan-akan apa yang dilakukan adalah hal yang benar. 

Badan Perlindungan Pekerja Imigran Indonesia dalam kurun waktu 3 tahun telah memulangkan 2251 jenazah. Angka yang tidak sedikit memang. Begitu banyak nyawa hilang sia-sia tanpa adanya perlindungan yang nyata dari negara. Mereka wafat dengan berbagai kasus. Kelelahan ataupun penyiksaan selama bekerja menjadi suatu hal yang menghantarkan mereka menemui kematian. Bahkan tak sedikit yang kehilangan organ ginjalnya. (tirto.id, 30/01/2025) 

Fakta di atas menjadi satu bukti bahwa selama ini negara belum sepenuhnya melindungi rakyatnya dengan serius. Padahal PMI sendiri sering disebut sebagai pahlawan devisa bagi negeri ini. Namun fakta membuktikan bahwa perhatian negara masih belum didapatkan. Namun, masyarakat masih saja antusias untuk berangkat ke luar negeri demi memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Bahkan kaum hawa jumlahnya lebih banyak daripada kaum adam. Layaknya seperti di sinetron yang pernah populer, 'Dunia Terbalik'. 

Melihat gambaran di atas, maka akan wajar kita dapati di negeri ini. Banyak hal yang mengharuskan masyarakat akhirnya ke luar untuk mendapatkan cuan. Dengan adanya sistem kapitalis yang ditetapkan saat ini begitu berdampak pada masyarakat. Yang kaya semakin kaya dan si miskin makin jelata. Itulah gambaran yang ada jika kapitalisme diterapkan. Kehadiran negara juga amat minim karena sebagai regulator saja. Dengan begitu banyak masalah yang pastinya muncul. Sebut saja pekerjaan yang harusnya banyak, namun  faktanya sulit sekali ditemukan. Jika pun ada, lowongan hanya sedikit atau memerlukan beberapa orang saja. Padahal banyak para pencari nafkah yang sampai saat ini berjibaku mencari pekerjaan. Dengan beberapa alasan tersebut akhirnya masyarakat ingin mengadu nasib ke negeri seberang. Rela meninggalkan keluarga demi mencari peruntungan dan cuan. Dan anehnya negara bak memuluskan para pencari nafkah tersebut untuk pergi ke luar. Entah itu legal ataupun ilegal, semua pergi ke luar negeri. Semua itu dilakukan agar negara mendapatkan tambahan devisa dari mereka (PMI). Padahal resiko yang besar sudah menanti mereka. Mulai dari keberlangsungan keluarga di ujung tanduk, perlindungan yang tak pasti, dan masih banyak lainnya. 

Berbeda situasinya ketika Islam hadir dalam ranah kehidupan manusia. Dengan aturannya yang lengkap lagi sempurna, Islam mampu menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan manusia. Termasuk salah satunya persoalan pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. 

Di dalam Islam, negara menjalankan amanah dengan sebaik mungkin sesuai dengan hukum syarak. Termasuk ketika mengadakan lowongan pekerjaan, maka akan dibuka seluas-luasnya. Semua itu dilakukan agar para pencari nafkah mendapatkan pekerjaan layak. Tentu untuk memenuhi kebutuhan  keluarga. Dengan begitu, rasanya tidak mungkin akan berpikiran untuk bekerja di luar negeri jika di dalam saja bisa mendapatkannya. 

Selain itu, negara juga benar-benar mengecek individu per individu masyarakat, apakah sudah terpenuhi kebutuhan pokoknya atau belum. Sebagaimana yang telah dilakukan pemimpin kaum muslim, Umar bin Khattab. Beliau rela setiap malam melakukan sidak hanya untuk mengetahui kondisi rakyatnya rumah per rumah. 

Kemudian kekayaan SDA yang ada di dalam negeri akan dikelola dengan sebaik mungkin dan masuk pada baitul mal. Dengan begitu roda pemerintahan akan berjalan dengan baik serta sesuai dengan hukum syarak. 

Alhasil, hanya dengan penerapan Islam persoalan kehidupan manusia dapat teratasi. Termasuk pula pada kasus di atas. Dan negara akan bertanggung jawab penuh untuk menciptakan kemaslahatan umat. Tak ada lagi tersebut kasus-kasus dari PMI. Negara tersebut hanya akan ada dalam institusi bernama Daulah Islam. 

Wallahualam bissawab


Share this article via

89 Shares

0 Comment