| 255 Views

Peternak Susu Sapi Kian Sepi Sebab Impor Susu Terus Menyerbu

Oleh : Neng Saripah S.Ag
Pegiat literasi

Mengutip dari situs Tempo.co, Puluhan peternak sapi perah serta pengepul susu di wilayah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dalam beberapa waktu terakhir ini kabarnya terpaksa membuang susu hasil panen mereka. Hal tersebut diakibatkan pabrik atau industri pengolahan susu (IPS) membatasi kuota penerimaan pasokan susu dari para peternak dan pengepul susu tersebut.

Tah hanya itu, pada hari Jumat, tanggal 8 November 2024, sekitar pukul 08.00 pagi WIB, sejumlah peternak dan pengepul susu bahkan membagi-bagikan susu hasil perahan mereka secara gratis kepada warga di kawasan Simpang Lima Boyolali Kota. Tak butuh waktu lama, Hanya dalam waktu sekitar 15 menit, sebanyak 500 liter susu ludes diberikan kepada warga sekitar lokasi.

Lebih lanjut Kumparan news melaporkan bahwa, Ratusan peternak sapi perah, peloper, hingga pengepul susu sapi di wilayah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, juga menggelar aksi membuang susu sambil mandi susu di Tugu Patung Susu Tumpah Kota Boyolali. Kumparan news, Sabtu (9/11).

Pasalnya aksi tersebut merupakan bentuk protes mereka lantaran begitu banyaknya susu yang ditolak masuk industri pengolahan susu (IPS) dengan alasan adanya pembatasan masuk susu mentah ke pabrik.

Sriyono Bonggol, yang merupakan Koordinator aksi tersebut mengatakan, total ada 50 ribu liter susu yang dibuang untuk mandi dalam aksi solidaritas bagi para peternak ini. Sebetulnya tidak hanya dilakukan dengan cara membuangnya, ada juga susu yang dibagikan secara gratis kepada warga pengguna jalan. “Total ada 50 ribu liter susu yang dibuang dalam aksi solidaritas ini. Yang jika di rupiahkan, uang yang dibuang dalam aksi ini mencapai Rp 400 juta,” ujar Sriyono, pada kumparan news, Sabtu (9/11/2024).

Hal mengejutkan diberitakan dari laman CNBCindonesia. Pasalnya, Dewan Persusuan Nasional (DPN) mencatat ada 200 ton susu segar per hari yang dibuang. Ketua DPN Teguh Boediyana menjelaskan bahwa aksi tersebut lagi-lagi dilakukan lantaran industri pengolah susu membatasi penyerapan susu yang dihasilkan peternak sapi perah. "Tindakan tidak menyerap susu segar dari peternak sapi perah merupakan akibat tidak adanya peraturan perundang-undangan yang melindungi usaha peternak sapi perah milik rakyat dan tidak ada pula yang menjamin kepastian pasar dari susu segar yang di hasilkan para peternak." katanya dalam keterangan resmi CNBCindonesia, yang dikutip Minggu (10/11/2024).

Oleh karenanya Teguh menghimbau pemerintah untuk segera menerbitkan peraturan presiden atau instruksi presiden guna melindungi keberadaan usaha peternak sapi perah. Peraturan ini tentu dapat menjadi pengganti Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1985 Tentang Koordinasi Pembinaan dan Pengembangan Persusuan Nasional yang pernah dicabut pada awal tahun 1998 disebabkan mengikuti Letter of Intent antara pemerintah RI dengan IMF.

Aksi demi aksi para peternak susu ini, mencuri perhatian Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa. Menurut Saan, dengan kejadian ini harusnya pemerintah segera memberi perhatian ekstra kepada para peternak sapi perah lokal.(Liputan6.com/9/11/2024)

Lebih lanjut, wakil ketua DPR RI tersebut menyatakan; "Jadi jangan sampai peternak-peternak kita itu susunya enggak laku, bahkan tidak bisa bersaing dengan yang impor. Jadi proteksi terhadap para peternak lokal itu menjadi penting," ujar Saan. "Nanti sisanya kekurangan dari lokalnya berapa, baru nanti impornya berapa," tambahnya.

Disisi lain, Kementerian Pertanian (Kementan) siap mendukung program makan bergizi gratis (MBG) yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto melalui dua skema. Yakni melalui program pekarangan pangan bergizi dan program peningkatan produksi susu dan daging.

"Makan bergizi gratis bagus banget programnya dan Kementan harus mengambil peran,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementan dikutip liputan6.con pada Jumat (25/10/2024).

Untuk memenuhi kebutuhan susu dalam program Makan Bergizi Gratis tersebut. Mentan Amran menegaskan akan mengundang investor Vietnam guna memproduksi susu sapi sebanyak 1,8 juta ton. Sungguh miris ditengah kisruh mudahnya pemerintah menyerap impor susu, ada peternak susu sapi lokal yang menjadi korbannya.

Kebijakan impor yang dilakukan oleh pemerintah diduga menjadi penyebab para peternak sapi kesulitan menyalurkan susu sapi mereka ke industri pengolahan susu sapi. Selain itu juga ada penyebab lainnya, seperti menurunnya penerimaan susu oleh industri pengolah susu. 

Kondisi ini jelas merugikan para peternak sapi. Negara sebagai pemegang kebijakan utama seharusnya menjadi garda terdepan dalam melindungi nasib para peternak susu sapi dengan cara membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak pada peternak. Baik dalam hal menjaga mutu maupun  dalam menampung hasil susu dan lain sebagainya.

Kebijakan impor ini diduga pula memuliki keterlibatan para pemburu rente untuk mendapatkan keuntungan dari impor susu.  Inilah salah satu kebijakan buruk dalam sistem ekonomi kapitalisme, sebab selalu berpihak pada para pengusaha, yang notabene mereka focus mencari keuntungan tanpa memandang kerugian yang didapat saudari sesama negeri mereka yang lainnya.

Hal tersebut, jauh berbeda dengan Negara khilafah. Yang mana ia akan berdiri di tengah-tengah umat, guna menjadi solusi dengan menerapkan syariat  islam demi mewujudkan kemaslahatan umat. 

Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ’anhu. bahwa Nabi Muhammad –sallallahu alaihi wasallam– bersabda,

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll.)

Dengan kata lain, Negara secara mandiri akan berperan penuh dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya, yaitu dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang ada pada diri masyarakat, dan sumber daya alam yang dimiliki. 
Hal ini sangat baik guna mencegah merebaknya orang-orang  yang mencari untung di tengah penderitaan rakyat yang lainya.

Wallahu alam bishawab.


Share this article via

100 Shares

0 Comment