| 67 Views
Perundungan Terus Terjadi, Siapa yang Salah?
Oleh: Nurcahmala
Kasus perundungan hingga saat ini masih terus terjadi, bahkan telah mengarah pada tindakan kriminal. Ironisnya, pelaku dalam beberapa kasus adalah anak-anak usia sekolah menengah pertama (SMP).
Seperti yang terjadi di Kampung Sadang Sukaasih, Desa Bumiwangi, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung — seorang anak mengalami luka parah dibagian kepala usai ditendang hingga terbentur batu, lalu diceburkan ke dalam sumur. Peristiwa ini menjadi sorotan publik. Dilansir dari CNN Indonesia, 26 Juni 2025.
Fakta meningkatnya kasus perundungan setiap tahun merupakan fenomena gunung es. Ini menunjukkan adanya kegagalan regulasi dan lemahnya sistem sanksi yang diterapkan saat ini. Lebih dalam lagi, hal ini mencerminkan kegagalan sistem pendidikan yang tidak mampu membentuk kepribadian anak secara utuh.
Realitas ini tidak terlepas dari diterapkannya sistem kehidupan sekuler yakni sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, generasi tumbuh tanpa bekal akidah dan nilai moral yang kuat. Fenomena kekerasan hingga tindakan keji di usia dini menjadi buah pahit dari sistem ini.
Islam secara tegas mengharamkan segala bentuk perundungan, baik secara verbal maupun fisik. Dalam pandangan Islam, masa baligh adalah awal dari pertanggungjawaban atas setiap perbuatan manusia. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
"Pena (pencatatan amal) diangkat dari tiga golongan: dari orang yang tidur hingga ia bangun, dari anak kecil hingga ia bermimpi (baligh), dan dari orang gila hingga ia sadar."
(HR. Abu Dawud no. 4403, Tirmidzi no. 1423 — shahih)
Islam memiliki sistem pendidikan yang berasaskan akidah Islam. Sistem ini tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga membentuk akhlak dan kepribadian anak. Pendidikan Islam melibatkan peran keluarga, masyarakat, dan negara dalam menyusun kurikulum yang menyeluruh bahkan negara bertanggung jawab atas pendidikan dalam lingkup keluarga.
Selain itu, sistem informasi dan sanksi dalam Islam bertujuan mendukung arah pendidikan, bukan semata-mata menakut-nakuti. Hal ini dilakukan untuk mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam yaitu berpikir dan bersikap sesuai ajaran Islam.
Oleh karena itu, jika kita benar-benar ingin menghentikan perundungan secara tuntas, kita tidak bisa hanya bergantung pada perbaikan regulasi atau pemberatan sanksi. Kita membutuhkan perubahan mendasar dalam sistem kehidupan yang kita jalani. Hanya dengan kembali kepada sistem Islam secara menyeluruh, kita bisa mewujudkan generasi yang bertaqwa, berakhlak mulia, dan menjauhi kekerasan.
Wallahu a'lam bishowab