| 67 Views
Perjanjian Abraham : Bukti Nyata Negeri-ngeri Muslim tidak Bersama Palestina
Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev (Foto: Kazakhstan's Presidential Press Service via AP)
Oleh : Ariyana Lasanti
Aktivis Dakwah Masyarakat
Dilansir dari Antara News, 8/11/2025, Keputusan mengejutkan diambil oleh negara Kazakhstan sebagai upaya memulihkan hubungan dengan Israel dengan bergabung dalam Perjanjian Abraham (Abraham Accords). Setelah sebelumnya Uni Emirat Arab dan Bahrain merupakan negara pertama yang secara resmi mengakui Israel, kemudian disusul Sudan dan Maroko yang juga setuju untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.
Perlu kita ketahui, Perjanjian Abraham adalah serangkaian perjanjian yang menetapkan normalisasi diplomatik antara Israel dan beberapa negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Perjanjian tersebut diprakarsai oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Kesepakatan awal yang terjadi pada tahun 2020 mencakup Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan, dengan tujuan untuk meningkatkan kolaborasi di bidang ekonomi dan keamanan. (Wikipedia)
Kemudian dilaporkan pada bulan Juli 2025, dalam usaha memperluas perjanjian tersebut, pemerintahan Donald Trump sudah sampai kepada negara Suriah, Lebanon, dan Arab Saudi, hingga pada bulan November 2025 diumumkan negara Kazakhtan pun resmi bergabung. Atas deklarasi Kazakhtan bergabung dalam Perjanjian Abraham, jelas mengundang rasa yang menyakitkan bagi pihak Hamas karena dinilai merupakan hal yang memalukan dan langkah yang tidak bisa diterima.
Menurut Kementrian Luar Negeri Kazakhtan, pihaknya mengambil keputusan ini demi memperkuat kerja sama Kazakhtan dengan semua "negara yang berkepentingan". Selain itu juga agar konsisten dengan karakter kebijakan luar negeri yang damai, seimbang, dan konstruktif. (Antara News, 7/11/2025)
Mirisnya banyak dari negeri-negeri muslim lebih memilih bergabung dalam perjanjian Abraham yang membuktikan bahwa pengkhianatan yang nyata terhadap Gaza. Negeri-negeri muslim tak menyadari bahwa normalisasi ini justru strategi halus untuk melegalkan penjajahan bahkan genosida. Walaupun negara Turki sempat mengumumkan surat perintah penangkapan terhadap PM Israel, Benjamin Netanyahu, namun hal itu hanya sebatas kecaman tanpa dibarengi langkah nyata. (TV One News, 9/11/2025)
Selama negeri negeri Muslim masih tunduk oleh kepentingan Barat dan hanya mementingkan kepentingan nasionalnya sendiri, maka Gaza dan negeri-negeri Muslim lain yang saat ini sedang dijajah seperti Sudan, akan terus berlanjut. Mereka tak butuh simpati yang terlihat setengah mati. Walaupun sudah banyak diadakan pertemuan antarnegara yang membahas tentang perdamaian dan kemerdekaan Palestina, namun sejauh ini hasilnya tak ubah hanya sekadar hasil rapat kerja sama antarnegara sebelum-sebelumnya. Yang mereka fokuskan hanyalah kesejahteraan dan keuntungan nasional masing-masing negara dengan berkedok membahas isu perdamaian dan kemerdekaan Palestina.
Belum ada aksi nyata dan solusi tuntas atas penjajahan negeri kaum Muslim saat ini. Betapa Umat harus menyadari bahwa Umat Islam itu bagaikan satu tubuh. Jika ada satu bagian tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lainnya akan terasa sakit. Maka untuk bisa menumbuhkan rasa saling merasakan dan mengembalikan kemerdekaan Palestina bahkan mengembalikan kehidupan Islam di seluruh belahan dunia, sudah seharusnya Umat Muslim mencontoh metode Rasulullah SAW. Di mana Ummat Islam dari seluruh negeri di belahan dunia harus bersatu dalam satu komando, dan ini hanya bisa diwujudkan dengan adanya Khilafah dan jihad fii sabilillah. Hanya di bawah naungan Khilafah (sistem pemerintahan Islam) segala penjajahan bisa dicabut hingga ke akar-akarnya, karena Khilafah adalah junnah (pelindung) bagi Umat dari segala macam serangan, bahaya, dan kejahatan. Begitupun Khilafah akan mengirimkan pasukan militer dari negeri-negeri Muslim ke Palestina dan negeri yang sedang tertindas lainnya. Bukan hanya sebatas pertemuan wakil negara untuk berdiskusi tanpa adanya realisasi.
Semoga keadilan dan kemerdekaan yang hakiki segera terwujud dengan kembalinya Khilafah di bawah kepeimpinan seorang khalifah bagi seluruh ummat muslim di seluruh dunia. Sehingga suatu keniscayaan mengembalikan kehidupan Islam kafah (menyeluruh) di seluruh penjuru Dunia.
Wallahu a'lam bish shawab