| 90 Views

Perang Membuat Sudan Menjadi Neraka, Bencana Yang Tidak Akan Pernah Terlupakan

Oleh : Al Juju 

Belum terhenti darah tertumpah di Gaza, dunia dikejutkan oleh berita genosida di Sudan. Pada 26 Oktober 2025, Al-Fasher, ibu kota negara bagian Darfour Utara daerah barat Sudan, menjadi saksi pembantaian 2.227 rakyat sipil tidak berdosa dan pengusiran 393 ribu warganya oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Pasukan yang dikomandoi Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo ini berhasil memukul mundur tentara Sudan dan merebut ibu kota setelah pengepungan selama lebih 18 bulan.

Peristiwa ini adalah puncak krisis yang sudah berlangsung lama. Beritanya baru viral karena tertutup isu Gaza, padahal situasinya tidak kalah mengerikan. Cara-cara yang dilakukan RSF dalam upaya genosida bahkan lebih brutal. Selama pengepungan, 1,2 juta penduduk kota dibiarkan lapar dan bertahan hanya dengan memakan pakan hewan. Tidak sedikit kaum perempuan yang dirudapaksa sebelum dibunuh bersama anak-anak mereka. Kaum laki-lakinya, tua maupun muda, disiksa dengan kejam, digantung di tempat-tempat umum, lalu ditembak secara massal. Semua itu sengaja mereka rekam dan videonya disebar ke seluruh dunia.

Serangan ini merupakan bagian dari rentetan konflik yang masih berlanjut hingga saat ini di negeri tersebut. Terdapat dua pihak bersenjatan yang bersengkata dalam konflik berkepanjangan ini. Pertama adalah RSF yang bermarkas di Darfur, bagian barat dari Sudan. Kedua adalah SAF (Sudanese Armed Forces – Angkatan Bersenjata Sudan) yang bermarkas di Port Sudan, bagian timur dari Sudan yang bersinggungan langsung dengan Laut Merah.

Sudan juga memiliki lahan subur dan potensi besar di sektor pertanian, seperti kapas, wijen, sorgum, dan milet, sampai-sampai Sudan sempat dikenal sebagai “keranjang makanan” Afrika (Sudan, the food basket of Africa atau “breadbasket“).

Intervensi AS selalu dilakukan dengan dalih mendukung transisi demokrasi di Sudan dan berupaya membangun pemerintahan sipil sebagai simbol keberhasilan demokratisasi. Setidaknya ada dua peperangan besar sebelum terjadinya pemisahan Sudan Selatan pada 2011, yaitu Perang Sudan Pertama (1955–1972), yakni upaya pemberontakan Sudan Selatan atas kontrol Utara, serta Perang Sudan Kedua (1983–2005) yang antara lain dipicu pemberlakuan syariat Islam di seluruh negeri oleh pemerintahan Utara.

Perang Sudan Kedua ini merupakan perang terpanjang yang pernah tercatat, dan dalam periode itu terjadi beberapa kali pergantian rezim (kudeta berdarah) yang diakhiri intervensi AS dan PBB hingga terjadi perjanjian perdamaian komprehensif pada 2005. Namun, meski perdamaian sudah ditandatangani, tidak berarti Sudan benar-benar damai. Konflik sporadis terus terjadi di berbagai penjuru Sudan, baik di utara, selatan, maupun di bagian barat (Darfour).

Di selatan, enam tahun kemudian (2011), AS dan PBB melakukan intervensi kembali dengan memaksa Sudan yang kala itu masih di bawah pengaruh Inggris melakukan referendum atas nama slogan demokratisasi. Hasilnya, 99% rakyat Sudan Selatan memilih berpisah dari Sudan (bagian utara) dan menjadi “negara merdeka” dengan ibu kota Juba. Adapun di bagian barat Sudan, pemberontakan berbagai suku pun terus terjadi akibat ketidakpuasan mereka atas pemerintahan Utara di bawah kepemimpinan Omar al-Bashir.

Berpisahnya Sudan Selatan telah menyebabkan Sudan Utara jatuh ke dalam krisis yang parah. Pasalnya, pemisahan itu telah berakibat hilangnya 70% sumber daya—terutama minyak—yang memang lebih banyak ada di Selatan. Padahal, sebelumnya pun pemerintahan utara sudah dilanda krisis politik dan ekonomi yang parah.

Di sisi lain, pihak yang bermain dan diuntungkan dalam konflik ini adalah Amerika. Baik RSF maupun SAF merupakan kepanjangan tangan dari Amerika di negeri tersebut. Amerika mempertontonkan dengan ciamik kepada dunia sejauh mana pengaruhnya dalam konflik suatu negara. Ia akan terus membuat kedua pihak tersibukkan dengan memerangi saudaranya sendiri.

Adapun tujuan Amerika saat ini adalah untuk memecah belah kaum muslim yang merupakan mayoritas penduduk Sudan. Sebagaimana sebelumnya Sudan telah terpecah menjadi Sudan Utara dan Sudan Selatan, Amerika menargetkan terpecahnya Sudan menjadi bagian timur yang dipimpin oleh SAF dan bagian barat yang dipimpin oleh RSF.

Jika kelak itu yang terjadi, pihak yang paling dirugikan adalah kaum Muslim. Di mana Amerika berhasil mewujudkan perpecahan dengan membagi-bagi wilayah yang diduduki oleh kaum Muslim. Maka sudah semestinya bagi seorang Muslim untuk menolak seluruh intervensi asing atas konflik yang terjadi di negeri kaum Muslim. Karena sejatinya, yang diiginkan oleh Amerika dan musuh-musuh Islam adalah perpecahan dan kelemahan kaum Muslim.

hanya ada satu jalan yang menawarkan solusi sejati dan abadi bagi Sudan dan umat yang lebih luas, yakni tegaknya Khilafah berlandaskan ajaran kenabian.

Khilafah akan menyatukan umat Islam lintas etnis dan suku, menyingkirkan pengaruh asing, mendistribusikan sumber daya secara adil, menegakkan akuntabilitas, serta menjamin martabat dan keamanan bagi semua.

Tentu saja Khilafah ini tidak akan tegak dengan sendirinya, meski keberadaannya telah dijanjikan. Khilafah harus diperjuangkan dengan penuh kesungguhan, sebagaimana dahulu Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya telah mencontohkan. Caranya adalah dengan menapaki jalan dakwah ilal Islam. Caranya dengan membangun kesadaran di tengah umat tanpa kekerasan, baik tentang kesempurnaan Islam mulai dari konsep keimanannya dan hukum-hukumnya, serta tentang bagaimana hukum-hukum itu bisa diterapkan dan menyolusi berbagai persoalan kehidupan hingga terwujud rahmat bagi seluruh alam.

Dakwah menegakkan Khilafah ini tentu tidak bisa dilakukan sendirian, melainkan harus berjemaah sebagaimana yang juga Rasulullah ﷺ contohkan. Jemaah ini harus dipastikan hanya berkhidmat demi Islam, yang anggota-anggotanya diikat hanya oleh pemikiran Islam, serta bergerak secara politik di seluruh negeri untuk mempersatukan umat Islam. Jadi, bukan jemaah yang menyeru pada nasionalisme dan hanya berorientasi pada kekuasaan meski berkompromi dengan kebatilan.


Share this article via

50 Shares

0 Comment