| 6 Views
Perang Israel, As dan Iran Ancaman Nyata dan Kewajiban Umat
Oleh: Ummu Fani
Pada Sabtu (28-2-2026), AS bersama Zionis melancarkan serangan ambisius ke Iran yang dinamai Operation Epic Fury (Operasi Kemarahan Epik). Presiden Donald Trump menyebut operasi ini sebagai upaya melindungi rakyat AS dengan menghapus ancaman rezim Iran. Namun, di balik narasi keamanan, serangan tersebut menimbulkan dampak besar bagi warga sipil. Zionis menghantam sekolah dasar putri di Minab, Hormozgan, menewaskan sedikitnya 53 orang, yang sebagian besar terdiri dari anak-anak dan guru. Hal ini menunjukkan bahwa operasi militer besar-besaran tidak hanya menyasar target strategis, tetapi juga menelan korban sipil dalam jumlah besar.
Menurut laporan dari berbagai media internasional, serangan gabungan AS-Zion*s bukan sekadar operasi militer terbatas, melainkan bagian dari strategi geopolitik jangka panjang untuk memastikan dominasi mereka di Timur Tengah dengan Iran sebagai target utama. Pola lama kembali terlihat, yaitu setiap negara yang menentang ambisi AS-Zionis akan dihancurkan, sedangkan agresi mereka selalu dibungkus dengan narasi perdamaian dan keamanan global.
AS dan Zionis adalah dua negara imperialis yang tidak pernah berhenti membuat kekacauan. Serangan terhadap Iran menunjukkan bahwa mereka bersekutu bukan hanya secara militer, tetapi juga dalam ambisi politik global. Mereka menggunakan kekuatan militer sebagai alat penjajahan modern, menghancurkan setiap negara yang berani menentang.
Bagi penjajah, tidak ada kawan abadi. Hubungan kerja sama sekalipun tidak menjamin keamanan. Salah satu buktinya, Iran yang pernah berkompromi dengan AS tetap menjadi sasaran serangan brutal. Seperti halnya Irak pada masa lalu, setiap rezim yang dianggap tidak berguna akan digulingkan melalui agresi militer.
Juru bicara (jubir) jemaah dakwah ideologis internasional menilai, serangan brutal yang dilancarkan AS terhadap Iran terjadi saat Iran beredar di orbit Amerika." Iran telah memberikan pelayanan-pelayanan dalam perang AS terhadap Irak, di Afghanistan dan di banyak bagian kawasan tersebut,” ujarnya kepada Kantor Berita ideologis internasional, Sabtu (28-2-2026).
Selama Iran berada di orbit AS, ia melanjutkan, AS tidak mengungkit isu rudal dan senjata nuklirnya. “Bahkan Obama mengikat perjanjian tahun 2015 dengan partisipasi negara-negara Eropa dalam mengizinkan Iran melakukan pengayaan (pemurnian) nuklir hingga batas pengayaan 3,67%,” imbuhnya.
Iran, ucapnya, tetap berada di orbit AS selama tahun tahun itu. ”Ketika Trump berkuasa, ia menginginkan Iran menjadi negara pengikut dan agen Amerika, mengatakan apa yang ia katakan, dan melakukan apa yang ia inginkan,” terangnya.
Untuk meraih keinginannya itu, sambungnya, pada Juni 2025 Trump masuk melalui pintu tipu daya dalam negosiasi di Muscat, yang berlangsung sekitar lima putaran. “Kemudian terjadilah serangan oleh Trump dan Yahudi, yang disebut serangan dua belas hari. Inilah yang terjadi secara riil. Trump mengumumkan penargetan tiga fasilitas nuklir Iran, menegaskan keberhasilan serangan Amerika,” ungkapnya.
Trump, ucapnya, mengindikasikan penargetan situs nuklir Fordow, Natanz, dan Isfahan, menyeru Iran untuk membuat perdamaian dan mengakhiri perang. Menteri Pertahanan Amerika, Brett Heggsett, lanjutnya, menegaskan bahwa serangan Amerika telah melenyapkan ambisi nuklir Iran.
“Serangan-serangan itu tidak berhasil membuat Iran beralih dari negara satelit yang beredar di orbit AS, menjadi negara pengikut (agen). Sebaliknya, muncul suara-suara yang menyerukan pelepasan diri dari orbit. Maka AS kembali ke manuver negosiasi lagi, berfokus pada isu yang sama, yaitu pelucutan senjata rudal dan nuklir Iran. Dan seperti yang terjadi pada kali pertama dengan serangan setelah lima putaran negosiasi, sekarang terjadi serangan setelah tiga putaran negosiasi!,” ulasnya.
Trump beralasan Iran harus dipimpin oleh orang yang mampu menciptakan harmoni dan perdamaian sesuai kepentingan AS. Ia juga terus menggunakan alasan bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir yang membahayakan perdamaian dunia. Oleh karenanya, ia ingin pemimpin baru Iran tidak melanjutkan kebijakan politik dan militer rezim sebelumnya, karena menurutnya akan membawa Iran ke dalam perang.
Tentu saja semua pernyataan Trump adalah kebohongan besar. Siapa pun bisa melihat bahwa semua ulah Trump didorong ambisi untuk menguasai secara penuh wilayah Timur Tengah yang kaya sumber daya alam serta memiliki posisi geopolitik dan geostrategis yang sangat diperhitungkan. Di luar itu, wilayah Timur Tengah memiliki potensi ideologi untuk kebangkitan, yaitu ideologi Islam. Jika dibiarkan berada di luar kontrol, potensi itu bisa mengancam masa depan hegemoni Barat dan mengancam eksistensi penjaganya, yakni entitas Zion*s di wilayah pendudukan.
Iran sendiri memiliki kedudukan khusus dalam politik global AS. Iran menjadi titik simpul (choke point) strategis karena berbatasan dengan Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Kaspia, yang menjadikannya pusat perdagangan dan energi global. Iran bahkan mengendalikan atau memengaruhi Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb (melalui Houthi) yang krusial bagi lalu lintas minyak dunia dan menjadikannya sebagai senjata geoekonomi menghadapi lawan-lawan politiknya. Iran juga berbatasan dengan Irak, Turki, Afganistan, dan Pakistan sehingga menjadikannya sebagai aktor kunci dalam keamanan kawasan.
Sejauh ini AS sudah berhasil memegang kartu truf para penguasa Arab selain Iran. Negara-negara itu sudah berhasil diikat dengan perjanjian yang sejatinya sangat memalukan.
Mereka terang-terangan menormalisasi hubungan dengan pihak yang nyata-nyata telah melakukan kejahatan kemanusiaan, serta menimbulkan kerusakan di tanah wakaf umat Islam yang sebelumnya telah direbut dan dipertahankan dengan darah para syuhada dari zaman ke zaman.
Sementara itu dengan Iran, AS tampak selalu kewalahan karena meskipun sudah lama berada di orbit AS dengan menjadi satelitnya, para pemimpin Iran pasca-Revolusi 1979, tidak mudah ditundukkan untuk menjadi negara klien atau pelayan penuh bagi kepentingan Amerika baik di kawasan Timur Tengah maupun secara global.
Rakyat dan pemimpin Iran lebih memilih diembargo daripada tunduk pada keinginan AS. Bahkan, dengan adanya embargo, Iran mampu mengonsolidasi kekuatan internal dan mampu bertahan dengan mengembangkan teknologi domestik, persenjataan mandiri (termasuk drone), dan memperkuat jaringan dagang dengan negara-negara saingan Amerika seperti Cina dan Rusia.
Wajah Buruk Sistem Kapitalisme Global
Apa yang hari ini terjadi di Iran, sejatinya menampakkan wajah buruk sistem kepemimpinan kapitalisme global. AS sebagai pemegang posisi negara pertama terus berupaya menghegemoni dunia dengan menjalankan dan menyebarkan fikrah-nya, yakni ideologi kapitalisme yang berdasarkan akidah sekularisme dan liberalisme yang menekankan kebebasan individu, hak milik pribadi, dan akumulasi modal setinggi-tingginya. AS pun konsisten menjalankan satu-satunya metode penyebaran ideologi ini yakni melalui metode (thariqah) penjajahan.
Untuk menyukseskannya, AS terus mengembangkan berbagai strategi politik dan taktik atau cara-cara yang disesuaikan dengan kepentingan nasional dan kondisi negara sasaran. Misalnya memaksakan dominasi atau tekanan politik, termasuk embargo. Juga melalui tekanan ekonomi seperti dengan jebakan utang, rencana pembangunan, bantuan eksper, alih teknologi, dll.
Atau dengan serangan pemikiran dan budaya melalui pemaksaan kurikulum serta arus opini media seperti yang tampak dari masifnya pengarusan gagasan moderasi Islam, dialog antaragama, dll. di dunia Islam. Atau bahkan menggunakan kekuatan militer untuk menundukkan bangsa-bangsa yang ingin dikuasai untuk dieksploitasi, termasuk membangun pangkalan-pangkalan militer di negara jajahannya demi menjaga pengaruh politiknya di sana.
AS dengan lembaga-lembaga internasional buatannya juga bisa dengan mudah mencari alasan untuk turut campur dalam berbagai urusan dalam negeri berbagai negara di dunia, termasuk mencampuri suksesi kepemimpinan sesuai dengan yang ia inginkan. Inilah yang pernah terjadi di negeri-negeri lainnya seperti Irak, Afganistan, Suriah, dan negara-negara Arab lainnya. Berbagai operasi intelijen atau perang proksi dilakukan untuk menjatuhkan pemimpin yang tidak loyal dan menggantinya dengan mereka yang siap menjadi pecundang. Bahkan tanpa malu, AS bisa melakukan aksi preman seperti apa yang terjadi pada presiden Maduro di Venezuela dan sekarang di Iran.
Tidak heran jika kepemimpinan sekuler kapitalisme tampak sangat destruktif dan menimbulkan kekacauan di mana-mana. Di luar konsep ekonominya yang telah menyebabkan eksploitasi alam semesta, kesenjangan, dan ketidakadilan, ideologi kapitalisme justru telah mendorong negara-negara kuat untuk melegitimasi perbudakan dan penjajahan modern. Mereka lazim memanipulasi negara lain demi kepentingan nasionalnya atas nama penegakan nilai-nilai demokrasi sebagaimana salah satunya tecermin dalam perang AS-Zionis terhadap Iran
Masa Depan Umat Ada pada Kepemimpinan Islam
Berbeda dengan sistem kepemimpinan kapitalisme global, sistem kepemimpinan Islam justru datang untuk membebaskan manusia dari perbudakan dan penghambaan kepada manusia lainnya menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt. Hal ini tampak dari tujuan sekaligus dampak dari berbagai futuhat/pembebasan wilayah yang dilakukan negara Islam Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. serta para khalifah setelahnya.
Tidak ada yang terjadi pada suatu wilayah yang di-futuhat melainkan tersebarnya keadilan, kesejahteraan, ketinggian moral, dan kemajuan. Tidak heran jika banyak rakyat negeri-negeri yang sebelumnya dikuasai Persia dan Romawi justru mendambakan hidup di bawah kepemimpinan Islam, dan turut membantu pasukan muslim untuk melawan rezim zalim yang selama ini berkuasa atas mereka.
Tidak heran pula jika banyak penduduk negeri yang dibuka oleh kekuasaan Islam justru menerima agama Islam. Mereka bahkan bersedia menjadi pembela Islam dan mendakwahkannya hingga agama ini tersebar luas ke seluruh alam dan selama belasan abad umat Islam pun dipersatukan dalam satu kepemimpinan, Khilafah Islam.
Saat itu, berbagai bangsa dan ras umat Islam mampu tampil sebagai umat yang satu dan sebaik-baik umat. Mereka menjadi pemimpin peradaban dan menjadi pelopor kemajuan di berbagai bidang kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan. Wibawa dan kepemimpinan mereka demikian kuat, karena mereka berpegang teguh pada akidah dan hukum-hukum Islam yang diterapkan di semua lini kehidupan. Tidak heran jika kehidupan entitas masyarakat Islam identik dengan terjaminnya kesejahteraan, keadilan, kemajuan, dan ketinggian moral.
Wajar jika catatan sejarah umat Islam dipenuhi kebaikan. Jika pun ada noda hitam pada beberapa bagian, semua itu dipahami sebagai manusiawinya sistem Islam yang memungkinkan terjadinya salah penerapan. Yang pasti bukan hanya umat Islam yang merasakan perlindungan dan penjagaan sistem Islam. Umat-umat lainnya pun merasakan keindahan hidup di bawah naungan kepemimpinan Islam.
Sayang, sejak Barat berhasil meruntuhkan Khilafah melalui proses yang sangat panjang, umat Islam terpecah belah di bawah banyak kepemimpinan. Para penguasa mereka pun rela menjadi antek penjajah dibandingkan berjuang keras mengembalikan kemuliaan umat sebagaimana para pendahulunya. Bahkan, puncak kebodohan mereka ditunjukkan saat mereka berani menukar jutaan nyawa penduduk Palestina dan menyerahkan tanah yang dulu direbut dan dipertahankan oleh darah para syuhada dengan kursi panas kekuasaan yang sejatinya tidak berharga.
Dinasti kekuasaan mereka memang masih tegak hingga sekarang. Namun, kehormatan mereka sejatinya sudah masuk dalam jurang yang paling dalam. Akan sulit bagi umat untuk berharap mengembalikan kebangkitan Islam kepada kepemimpinan mereka, yakni para penguasa muslim yang sudah rela memilih menjadi kacung Amerika dan mendukung penjajahan pada sesamanya.