| 265 Views
Pentingnya Mitigasi, Agar Bencana Bisa Dihindari
Oleh : Mimin Asy Syahidah
Lagi lagi terjadi. Setiap musim penghujan, berbagai bencana harus siap-siap dihadapi. Mulai longsor, banjir hingga jembatan putus. Tak terkecuali yang terjadi baru baru ini di Bondowoso.
Banjir bandang menerjang Dusun Peh, Desa Gunung Sari, Kecamatan Maesan, Bondowoso pada Kamis (9/1/2025). Sedikitnya ada 12 rumah warga yang ikut terseret arus. Selain itu, tampak juga ternak warga terjebak di tengah derasnya terjangan arus banjir. (BeritaSatu.com, 09/01/2025)
Banyak yang menyebut bahawa penyebab banjir bandang ini dikarenakan hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi di lereng Gunung Argopuro. Aliran air di sungai Peh terus naik dengan membawa material kayu dari gunung hingga terjadi penyumbatan di jembatan. Banjir ini menguak fenomena kerusakan lingkungan. Hutan penyangga air di lereng Gunung Argopuro telah beralih fungsi menjadi perkebunan. (suarajatimpost.com, 12/01/2025)
Agenda Tahunan Seolah menjadi agenda setiap tahun. Warga harus menghadapi yang namanya luapan air. Semestinya pemerintah melakukan upaya antisipasi dan mitigasi banjir dengan lebih serius. Karena kelemahan dalam penanganan ini membahayakan nyawa masyarakat.
Mitigasi yang lemah tanda negara tidak menjadi raa’in (pemelihara urusan rakyat). Dalam hal ini sebagai pihak yang bertanggungjawab penuh dalam pengelolaan lingkungan. Sehingga hak setiap individu publik seharusnya terjamin keamanannya dan dijauhkan dari kemudharatan. Ini keniscayaan dalam sistem kapitalisme saat ini di mana negara hanya regulator dan fasilitator yang melayani kepentingan para pemilik modal, sehingga abai pada rakyat.
Penulis setuju dengan catatan dari redaksi suara jatim post bahwa keprihatinan terhadap kerusakan lingkungan akibat alih fungsi hutan menjadi semakin mendalam setelah banjir bandang yang melanda Dusun Peh. Pengalihan lahan dari hutan tanaman keras menjadi lahan perkebunan telah menghilangkan daya serap tanah, yang seharusnya menjadi penyangga untuk mengendalikan aliran air. Akibatnya, bencana alam yang seharusnya bisa diminimalkan ini menjadi sebuah tragedi yang merenggut kenyamanan warga. Ketidakberdayaan tanah untuk menahan air hujan yang deras menunjukkan bahwa tindakan segera perlu dilakukan untuk mengatasi masalah ini. (suarajatimPost.com, 12/01/2025)
Bencana - bencana serupa juga banyak terjadi di berbagai daerah. Hal ini juga akibat dari pembangunan ala kapitalisme yang memberi ruang kebebasan bagi oligarki, dengan mengubah lahan serapan menjadi lahan bisnis, abai atas keselamatan rakyat dan kerusakan alam, karena hanya mengejar pertumbuhan ekonomi.
Seperti halnya pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal deforestasi, bahwa deforestasi untuk perluasan perkebunan kelapa sawit tidak berbahaya katanya. Pernyataan ini menuai kritik keras dari para aktivis lingkungan. Hal ini dapat dijadikan sebagai landasan pembukaan lahan, meski para ahli sudah menyatakan deforestasi akan mengakibatkan berbagai masalah termasuk terjadinya bencana.
Mitigasi dalam Islam
Kita seharusnya menjauhkan pemikiran cenderung memosisikan banjir sekadar sebagai bencana alam, ketimbang akibat kegagalan mitigasi. Karena itu hanya akan fokus pada penanganan pasca banjir saja tanpa pencegahan sebelumnya. Sudah seharusnya belajar bagaimana di sistem islam begitu besar menaruh perhatian terhadap migitasi bencana.
Dalam Islam, Negara wajib menghindarkan rakyatnya dari kemudaratan, termasuk bencana. Negara akan melakukan perencanaan matang dalam membangun kota/desa dan berorientasi pada kemaslahatan seluruh rakyat. Negara membangun kota berbasis mitigasi bencana. Islam telah mengatur konservasi agar ada larangan berburu binatang dan merusak tanaman demi menjaga ekosistem. Islam juga mengharuskan adanya pemetaan wilayah sesuai potensi bencana berdasarkan letak geografisnya, sehingga akan membangun tata ruang yang berbasis mitigasi bencana, sehingga aman untuk manusia dan alam.
Semua dilakukan oleh negara karena Islam menjadikan penguasa sebagai raa’in dan junnah, termasuk dalam menghadapi bencana.