| 15 Views
Penguasa Serakah Menyisakan Derita
Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Sumatera. (Foto: kompas.com).
Oleh: Dartik ummu Sely
Ketika seruan manusia tak terdengar oleh penguasa. Dan ketika penguasa tak perdulli dengan realitas kerusakan yang terjadi.Maka alampun hadir di hadapan penguasa untuk menguatkan seruan manusia bahwa ia (alam) sedang tidak baik-baik saja.
Banjir dan tanah longsor yang terjadi saat ini karena ulah dari tangan-tangan manusia yang serakah. Sumber daya alam di babak habis atas nama investasi, namun faktanya rakyat yang merugi. Beragam kebijakan penguasa yang tidak berpihak kepada masyarakat, mengakibatkan hidup rakyat beujung sekarat.seperti firman Allah SWT dalam surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).TQ Ar -Rum ayat ( 41).
Peringatan keras kepada penguasa agar tidak berlaku semena-mena terhadap manusia dan lingkungan agar tidak terjadi bencana alam yang sangat mengerikan.Bencana yang menjadikanku ,keluarga korban dan seluruh rakyat Indonesia berduka karenanya.
Wahai penguasa tidakah kau dengar jeritan dari anak bangsa?.Kau telah mengakhiri kehidupannya dengan merampas masa depannya. Wahai penguasa kau telah merusak segala sumber kehidupan umat manusia.
Hutan telah kau babat menyisakan tanah yang gersang. Sehingga ketika hujan datang maka tidak ada lagi penopang bagi tanah untuk tetap bertahan.Akar pohon itu tidak kuat lagi untuk mencengkram tanah dari derasnya hujan. Karena batangnya telah kau tumbang lalu kau tukar dengan uang.
Keserakahanmu menjadikan alam dan seisinya berduka. Duka yang berkepanjangan karena kehilangan harta benda ,nyawa dan menyisakan luka batin dan beban mental. Penguasa yang seharusnya menjadi pelayan umat justru ia telah menjadi sumber bencana bagi keberlangsungan kehidupan umat manusia.
Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi saat ini karena sistem kehidupan tidak diambil dari sistem islam. Pemerintah justru lebih memilih menerapkan sistem kapitalisme Demokrasi. Sistem yang memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk melakukan apa saja yang dapat memberikan manfaat bagi dirinya maupun kroninya.
Sebenarnya sistem kapitalisme Demokrasi sudah tidak layak lagi untuk di terapkan di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Sistem yang cacat dari awal kelahirannya karena memisahkan kehidupan manusia dari aturan agama. Sudah saatnya umat membangun kesadaran diri bahwa kerusakan yang terjadi bukan hanya disebabkan oleh ulah penguasa saja namun sistemnya juga.
Kembalilah kepada sistem islam kaffah yang pernah di confohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat. Karena Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat:( 208) yang artinya.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.TQ surat Al Baqarah( 208)
Ketika syariah islam diterapkan maka keadilan dan kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh kaum muslim dan non muslim yang hidup di wilayah daulah khilafah. Karena segala kebutuhan hidup rakyatnya menjadi tanggung jawab negara dari segala aspek kehidupan.
Negara bertanggung jawab atas pengelolaan sumber daya alam milik umat. Dan kemudian di distribusikan untuk segala kemaslahatan umat. Negara tidak berlaku semena-mena dalam mengelola SDA, negara faham betul bagaimana cara beretika dalam pengelolaan SDA.
Islamlah satu-satunya sistem yang terbaik untuk diterapkan dalam kehidupan umat manusia karena bersumber dari Allah SWT. Bukan seperti sistem kapitalisme Demokrasi yang bersumber dari akal manusia. Karena pada dasarnya akal manusia lemah dan terbatas.Sejatinya manusia tidak layak untuk membuat aturan untuk mengatur kehidupannya Maka manusia membutuhkan zat yang tidak terbatas untuk mengatur segala urusannya dari bangun tidur hingga bangun negara.
Wallaahu a'lam bi ash-shawaab