| 62 Views
Pengkhianatan Berkedok Solusi Dua Negara
Presiden Indonesia Prabowo Subianto berbicara dalam KTT Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Palestina di Markas Besar PBB di New York, Amerika Serikat, Senin (22/9/2025) waktu setempat.(AFP/LUDOVIC MARIN)
Oleh : Ramilah
Dalam Sidang Umum PBB yang diselenggarakan di New York pada 23 September 2025, Presiden Indonesia, Prabowo Subianto mendukung solusi dua negara dalam pidatonya. Ia menyatakan bahwa satu-satunya solusi bagi persoalan Palestina adalah two-state solution. Dua keturunan Abraham harus hidup dalam rekonsiliasi, damai, dan harmoni. (tempo.com, 24/9/2025)
Sebenarnya pernyataan ini adalah mustahil bahkan bangsa Israel sendiripun tidak akan mungkin mau berdamai. Sekalipun sering dilakukan gencatan senjata sepanjang sejarah Palestina terjajah mereka bangsa Israel selalu berkhianat. Mereka punya tujuan untuk membangun "Israel Raya". Istilah ini terpicu dari reinkarnasi yang Alkitab gambarkan tentang tanah yang dijanjikan Tuhan kepada Ibrahim dan keturunannya.
Mereka bangsa Israel memang keturunan Abraham dari istrinya Sarah yang melahirkan Ishak kemudian Ishak dikenal sebagai leluhur bangsa Israel melalui putranya Yakub. Selain itu perkembangan bangsa Yahudi di sebagian besar Timur Tengah mendorong keinginan mereka untuk lebih berkuasa. Padahal sejarah tanah yang dijanjikan itu telah dibatalkan oleh Allah akibat kedurhakaan mereka, kisahnya ada dalam QS. Al-Ma'idah ayat 21-26.
Dimana Nabi Musa beserta pengikutnya setelah terselamatkan dari kejaran Fir'aun akhirnya diberikan Allah suatu negeri yang dapat mereka masuki yaitu tanah suci Palestina sebagai tempat tinggal. Dikarenakan di negri itu terdapat kaum yang gagah perkasa berbadan raksasa bernama Jabarrun, mereka tidak mau masuk sampai kaum itu keluar. Dua orang diantara mereka Yusya' ibnu Nun dan Kalib ibnu Yufana mengajak mereka untuk berperang melawan Jabarrun dengan bertawakal kepada Allah maka mereka akan menang.
Namun mereka tetap menolak bahkan menyuruh Nabi Musa sendiri saja beserta Allah yang berperang sementara mereka menunggu di tempat. Akhirnya Nabi Musa memohon kepada Allah agar dipisahkan dari mereka kaum yang fasik, Allahpun mengabulkan permintaan Nabi Musa dan tanah yang dijanjikan diharamkan bagi kaum tersebut selama 40 tahun, mereka tersesat dan kebingungan. Allah juga berfirman agar Nabi Musa tidak bersedih hati atas nasib kaum yang fasik.
Namun demikian, Allah tetap memberikan rahmat-Nya berupa dua makanan nikmat yaitu manna dan salwa selama mereka berada di padang gurun yang tandus. Manna sejenis makanan manis seperti madu atau embun, sementara Salwa adalah burung puyuh yang mudah ditangkap. Kedua makanan ini dapat memenuhi kebutuhan gizi dan energi Bani Israel selama perjalanan panjang mereka, hingga adanya generasi yang taat dan berani berperang untuk memasuki tanah yang dijanjikan.
Kemudian sampailah pada masa akhir kepemimpinan Nabi Musa AS. Ia tidak sempat berperang mengambil tanah yang dijanjikan, karena telah mendekati ajalnya dan ingin dimakamkan disana. Namun tidak kesampaian iapun dimakamkan di perbukitan yang tandus dan kering antara kota Yerikho dan Yerusalem. Sebagaimana yang dikutip oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Ishaq, dalam tarikhnya, menjelaskan bahwa Musa atas perintah Allah mewariskan kenabiannya kepada Yusya' dan menanyakan berbagai perintah dan larangan yang disampaikan Allah kepadanya (Musa).
Dalam Al-Qur'an Surat Al-Kahfi ayat 60-82 nama Yusya' disebutkan sebagai murid Nabi Musa yang setia menemaninya dalam perjalanan mencari Nabi Khidir AS. Atas kesetiaan karena ketaatan kepada Allah inilah Yusya' bersedia dibaiat setelah wafatnya Nabi Musa dan mengambil tugas memimpin generasi baru Bani Israil dan melanjutkan misi berjihad memasuki tanah yang dijanjikan dengan menyeberangi Sungai Yordania dan menaklukkan kota-kota di wilayah tersebut termasuk Yerikho.
Dari kisah singkat tentang kaum Bani Israel disini, dapat kita pahami bahwa yang berhak menempati tanah yang dijanjikan adalah mereka yang taat kepada Allah bukan mereka yang durhaka seperti yang dilakukan oleh kaum Bani Israil kini. Jika kita melihat status bangsa Israel saat ini tidak layak terhadap tanah yang dijanjikan karena mereka golongan orang kafir meskipun mereka meyakini Tuhan adalah Esa tapi tidak mengakui Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Jadi kenyataannya mereka bangsa Israel memang penjajah dan perebut tanah Palestina dari kaum muslimin. Berdasarkan laporan dari berbagai sumber, Israel telah menguasai sebesar 85% dari total wilayah historis Palestina sejak pendiriannya pada tahun 1948.
Oleh karena itu solusi damai dua negara yang digadang-gadang dapat menyelesaikan masalah Palestina yang juga masalah kaum muslimin adalah bentuk penghianatan besar, artinya solusi ini justru semakin berpihak kepada penjajah Israel laknatullah, karena tanpa sadar telah mengakui keberadaannya bahkan mendukung pihak penjajah. Disamping itu ada hubungan kerja sama bilateral yang dilakukan yang justru akan melancarkan perekonomian penjajah dibawah dukungan Amerika Serikat sebagai negara adidaya di sistem kufur ini.
Persoalannya mengapa negeri-negeri muslim justru diam atas kondisi Palestina? Mengapa mereka tidak mau menyatukan diri menjadi satu kesatuan dalam satu kepemimpinan Islam yaitu Khilafah di kedaulatan Islam? Karena mereka telah terbungkam oleh paham national State. Paham ini memiliki konsep yang sulit dipahami bagi mereka yang berpikir jumud, mereka menganggap cinta tanah air adalah sebagian dari pada iman dengan dalih hubbul watan minal iman, padahal ini adalah pepatah yang diklaim berasal dari sabda Nabi Muhammad SAW. Namun setelah diteliti banyak ahli hadis sepakat bahwa ini pepatah yang tidak benar. Begitupun mereka negeri-negeri muslim tidak mau bersatu berjihad melawan penjajah karena ketakutan akan kehilangan jabatannya sebagai penguasa negeri yang telah mereka dapatkan dari pihak penguasa kapitalisme. Sementara pihak kapitalisme inilah yang menopang dukungan penuh terhadap Israel.
Maka sudah kewajiban kita sebagai seorang muslim untuk sadar akan ikatan persaudaraan dalam satu aqiqah Islam melawan kafir penjajah dengan mempelajari Islam secara kaffah dan mendakwahkannya dengan menebarkan opini kebobrokan sistem kapitalisme . Selalu mengingat akan janji Allah SWT dan Rasulullah SAW bahwa akan tegak kembali Khilafah 'ala minhaj An-Nubuwwah. Dengan demikian masalah Palestina hanya akan diselesaikan dengan jihad dan khilafah.
Wallahu a'lam bishawab.