| 41 Views

Pendidikan Mahal di Sistem Kapitalisme

Oleh: Anisa Salsabila
Aktivis Muslimah

Demi mewujudkan program pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan dan pemerataan pendidikan hingga pelosok daerah di Indonesia, dibutuhkan dukungan pemerintah agar menyediakan fasilitas belajar yang dapat dinikmati oleh segala lapisan golongan. Namun kenyataannya, biaya sekolah di Indonesia kian mahal, mulai dari jenjang sekolah dasar, menengah, atas, hingga perguruan tinggi.

Ada beberapa hal yang menyebabkan biaya pendidikan di Indonesia mahal yaitu fasilitas dan infrastruktur, tenaga pengajar berkualitas, teknologi dan peralatan pendidikan, biaya karyawan dan administratif, biaya operasional umum, program pengembangan kurikulum, sertifikasi dan akreditasi, kegiatan ekstrakurikuler, biaya pelatihan dan pengembangan guru, pemenuhan standar keamanan dan kesehatan, beban pajak dan regulasi, pembiayaan fasilitas dan pembangunan, praktik pungli di lingkungan sekolah.

Biaya pendidikan mahal sampai ke jenjang perguruan tinggi dengan adanya Uang Kuliah Tunggal (UKT). Tidak sedikit kalangan mahasiswa memprotes kenaikan UKT itu. Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi diminta untuk meninjau ulang Permendikbudriste Nomor 2 Tahun 2024 tentang Standar Biaya Operasional Pendidikan Tinggi yang dinilai pangkal masalah biaya pendidikan belakangan ini. Rektor Universitas Paramadina Didik J Rachbini mengungkapkan penyebab mahalnya uang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) saat ini. Menurutnya, UKT mahal, karena alokasi anggaran pendidikan tinggi di Kemendikbud (UI, UGM, ITB, UNDIP, UB, dan lainnya) hanya kebagian 1,1% atau sekitar Rp7 triliun dari total anggaran 20% yang harus dialokasikan kepada sektor pendidikan secara keseluruhan.

Karena mahalnya pendidikan di Indonesia banyak masyarakat yang putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan kuliah. Bahkan dikutip dari laman Satu Data Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker), BPS mendata, pada Agustus 2023, tercatat 22,25 persen dari 44,7 juta anak muda golongan Gen Z tidak bekerja, menjalani pendidikan dan mendapat pelatihan. Banyak juga Gen Z yang sudah menyelesaikan kuliah hingga sarjana tapi sulit mendapatkan pekerjaan. Hingga siap untuk bekerja jadi apa saja yang penting punya pekerjaan, banyak yang akhirnya bekerja menjadi ojek online (ojol), satpam hingga asisten rumah tangga (ART) untuk lulusan S1 dan S2 di Indonesia. Sudah membayar mahal biaya pendidikan hingga ke jenjang pendidikan yang tinggi tetapi sulit untuk mendapatkan pekerjaan dan siap dengan gaji berapa pun karena sulitnya lapangan pekerjaan di Indonesia.

Masalah tersebut ada karena diterapkannya sistem kapitalisme yang menjadi panutan. Hanya Islam yang menjadi solusinya karena fakta pendidikan masa penerapan Islam sangat berkualitas dan bebas biaya, menjadi ladang pahala bagi seluruh pihak yang terlibat, dan menyebarkan ilmu pengetahuan ke seluruh dunia sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Hal yang membedakan antara Islam dengan kapitalisme, yakni pembiayaan pendidikan dalam Islam untuk seluruh tingkatan sepenuhnya dan merupakan tanggung jawab negara. Seluruh pembiayaan pendidikan, baik menyangkut gaji para guru/dosen, maupun menyangkut infrastruktur serta sarana dan prasarana pendidikan, sepenuhnya menjadi kewajiban negara.

Solusi Dalam Islam
Dalam Islam, pendidikan disediakan secara gratis oleh negara. Ketentuan ini didasarkan pada sabda Nabi SAW yang diriwayatkan Bukhari, “Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” Atas dasar itu, negara harus menjamin setiap warga negara dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dengan mudah.

Negara wajib menjamin tiga kebutuhan pokok masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Berbeda dengan kebutuhan pokok individu, yaitu sandang, pangan, dan papan, di mana negara memberi jaminan tidak langsung, maka untuk pendidikan, kesehatan, dan keamanan, jaminan negara bersifat langsung. Maksudnya, tiga kebutuhan ini diperoleh secara cuma-cuma sebagai hak rakyat atas negara.

Ajaran Islam menetapkan mekanisme jaminan kesejahteraan dimulai dari mewajibkan seorang laki-laki untuk bekerja. Namun, hal ini tentu butuh support system dari negara, berupa sistem pendidikan yang memadai sehingga seluruh rakyat khususnya laki-laki memiliki kepribadian Islam yang baik sekaligus skill yang mumpuni.

Pada saat yang sama, negara pun wajib menyediakan lapangan kerja yang halal serta suasana yang kondusif bagi masyarakat untuk berusaha. Caranya tidak lain dengan membuka akses luas kepada sumber-sumber ekonomi yang halal, dan mencegah penguasaan kekayaan milik umum oleh segelintir orang, apalagi asing. Termasuk mencegah berkembangnya sektor nonriil yang kerap membuat mandek, bahkan hancur perekonomian negara.

Jadi, hanya Islam yang menjadi solusi untuk sistem pendidikan di Indonesia yang saat ini mahal hingga sulitnya mencari pekerjaan di negara sendiri karena jumlah lapangan pekerjaan yang terbatas, sedangkan setiap tahunnya banyak lulusan baru dari tingkat SMA hingga perguruan tinggi yang kesulitan mencari pekerjaan.


Share this article via

50 Shares

0 Comment