| 69 Views

Pendidikan dan Kesehatan Masih Jauh dari Kelayakan, Meski Sudah 80 Tahun Merdeka

Oleh : Kiki Puspita

Hidup sehat adalah harapan setiap orang, ketika dalam keadaan sakit semua aktifitas akan terganggu. Ketika sehat semua keinginan ingin dicapai, namun ketika tubuh sakit keinginan pun hanya satu, yaitu bisa sehat kembali. Segala cara pun ditempuh agar bisa sehat. Berobat adalah cara yang akan dilakukan oleh semua orang ketika sakit.

Namun ketika kita dalam keadaan sakit tidak memiliki uang, perobatan pun menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Pasalnya di Negera ini, meskipun sudah 80 tahun merdeka, biaya kesehatan sangatlah mahal. Pasien yang telah bergabung dalam program BPJS, dengan pembayaran iuran setiap bulannya pun harus rela antre diruang rawat rumah sakit. Puluhan pasien dengan keluhan beragam penyakit masih harus berjuang demi mendapatkan pelayanan terbaik yang sebenarnya.

Kesembuhan pun menjadi sebuah ajang uji kesabaran yang menguras perasaan, tenaga, serta waktu. Proses panjang mulai dari pendaftaran sampai giliran masuk, dan bertemu dokter bisa berjam-jam lamanya.

Belum lagi, jika pasien diharuskan melanjutkan tindakan lanjutan misalanya harus melakukan pemeriksaan USG, CT-Scan dan lainnya, harus menunggu antrean yang lama, bahkan harus antre hingga dua bulan lamanya untuk mendapatkan fasilitas pemeriksaan lanjutan tersebut. ''Memang antreannya panjang, jadi nunggu dapat giliran, '' cerita seorang pasien yang harus menunggu antrean USG di rumah sakit Negeri di Jakarta, kepada Inilah.com, sab'tu (9/8/2025).

Pengamat kesehatan dan anggota BPJS Watch Timboel Siregar mengakui masih ada sejumlah permasalahan krusial dalam sistem pelayanan BPJS kesehatan Indonesia. Mulai dari lemahnya regulasi hingga pelaksanaan di lapangan yang masih jauh dari harapan. Ketimpangan distribusi tenaga kesehatan, rendahnya rasio dokter serta perlindungan sosial nakes yang belum merata.

Tidak hanya masalah kesehatan, masalah pendidikan di negeri ini juga masih jauh dari harapan, meskipun sudah 80 tahun merdeka. Banyak para generasi penerus bangsa yang belum tamat SD. Di Papua pegunungan misalnya, rata-rata lama sekolah hanya di angka 5,10 tahun. (Jakarta, CNN Indonesia).

Wakil Ketua Komisi x DPR RI , Lalu Hadrian Irfan menyoroti rendahnya angka partisipasi pendidikan di Indonesia yang hanya berada pada kisaran 30-40 persen untuk kelompok usia 19-23 tahun. Ia mengaku prihatin dengan angkah tersebut, masih ada jurang ketimpangan antara tingkat partisipasi masyarakat terhadap pendidikan dasar dan pendidikan tinggi. Kelompok usia 19-23 tahun jenjang pendidikan tinggi kembali anjlok ke level 30-49 persen, kata Lalu dalam keterangannya, Kamis (14/8).

Ini merupakan gambaran dari gagalnya sistem kapitalisme sekuler yang  tidak mampu memberikan layanan kesehatan dan pendidikan yang berkualitas bagi masyarakat. Dalam sistem kapitalisme kesehatan dijadikan bisnis oleh segolongan orang. Rakyat miskin akan sulit untuk mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas dalam sistem kufur kapitalisme ini. Pendidikan juga tidak merata dalam sistem kapitalisme.

Dalam sistem ini daerah yang dianggap bernilai ekonomi akan diutamakan untuk mendapatkan pendidikan. Namun untuk daerah yang terpencil akan terabaikan. Kualitas sekolah ditentukan oleh kemampuan finansial, sehingga diskriminatif dalam dunia pendidikan pun tak terelakan.

Saatnya kita ganti sistem kufur ini dengan sistem yang di ridhoi Allah, yaitu sistem Islam. Dalam Sistem Islam negera akan berperan sebagai rain, yang melayani kebutuhan dasar untuk rakyatnya, baik itu kesehatan dan pendidikan. Dalam Sistem Islam pendidikan dan kesehatan adalah hak bagi setiap masyarakatnya sehingga dalam Sistem Islam masyarakat akan dijamin pendidikan dan kesehatannya secara gratis, merata, dan berkualitas bagi semua masyarakatnya, tanpa ada diskriminasi dan perbedaan antara masyarkat yang tinggal di kota maupun di daerah terpencil, tidak ada perbedaan antara si kaya dan miskin. Semua akan mendapatkan keadilan dalam Sistem Islam.

Negara dalam Sistem Islam memiliki sumber dana yang sangat berlimpah, karena dalam Sistem Islam SDA akan dikelola oleh negara berdasarkan syariat Islam, dan hasilnya keuntungannya akan di kembalikan kepada masyarakat.

Sejarah telah membuktikan ketika sistem Islam diterapkan kesehatan akan di dapatkan oleh semua masyarakat. Pada masa khilafah, khususnya di Rumah Sakit Marrakesh yang didirikan oleh Amirul Mukminin Manshur Abu Yusuf dan Rumah Sakit Besar al-Manshuri yang dibangun oleh Khalifah Malik Manshur Saifuddin Qalawun misalnya, pasien yang telah sembuh dari penyakitnya akan diberi pakaian baru dan uang untuk biaya hidup mereka selama belum bekerja kembali. Khusus untuk pasien miskin, mereka akan menerima bantuan ini secara langsung, sedangkan pasien kaya akan mendapatkan perawatan gratis dan uang mereka dikembalikan setelah sembuh.

Beberapa rumah sakit lain yang juga terkenal dalam Sistem Islam, di masa khilafah antara lain, Rumah Sakit Adh-Dhudi di Baghdad, Dibangun oleh Daulah bin Buwaihi pada tahun 371 H, rumah sakit ini memiliki sistem perawatan yang baik dan dokter-dokter terkenal seperti ar-Razi.

Rumah Sakit An-Nuri di Damaskus, Dibangun oleh Malik Adil Nuruddin asy-Syahid pada 549 H, rumah sakit ini merupakan salah satu yang terbaik di seluruh negeri dan khusus melayani pasien kurang mampu. Rumah Sakit di Kairo, Dibangun pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, rumah sakit ini memiliki fasilitas yang lengkap, termasuk perpustakaan ilmiah, apotek, dan dapur umum.

Begitu juga dengan Sistem pendidikan Islam. Sistem ini  memiliki karakteristik yang didasarkan pada prinsip-prinsip ajaran Islam. Tujuan utamanya adalah membentuk kepribadian Islam pada peserta didik. Kepribadian islami (asy-syakhshiyyah al-islâmiyyah) sebagai hasil dari pendidikan Islam memiliki dua karakter utama, yakni pola pikir islami (al-‘aqliyyah al-islamiyyah) dan pola sikap islami (an-nafsiyyah al-islâmiyyah).

Sistem pendidikan Islam dimulai oleh Rasulullah ﷺ. Beliau mengajarkan hukum-hukum Islam kepada kaum muslim, baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua. Tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Islam mendidik setiap generasi dan angkatan. Rasulullah saw. dan para sahabat mengislamkan hampir semua kalangan. Mereka mengajarkan Al-Qur’an dan Sunah kepada segenap lapisan masyarakat. Dengan itu lahirlah generasi ulul albab yang cerdas dan saleh.

Baik masalah kesehatan dan pendidikan yang menjadi harapan masyarakat hanya dapat  terwujud dalam Sistem Islam.

Waaulohua'lam bissawab.


Share this article via

25 Shares

0 Comment