| 50 Views

Penculikan Anak Kian Merebak: Tanggung Jawab Siapakah?

Oleh: Mirna

Kasus penculikan Bilqis, anak berusia empat tahun asal Makassar yang akhirnya ditemukan di Kabupaten Merangin, Jambi, kembali menyadarkan publik bahwa kejahatan terhadap anak semakin mengkhawatirkan. Maraknya sindikat penculikan dan perdagangan anak saat ini menunjukkan rapuhnya wilayah aman bagi anak-anak di negeri ini.

Dalam kasus Bilqis, indikasi keterlibatan jaringan terorganisir tampak jelas. Bagaimana mungkin seorang anak bisa berpindah dari Makassar ke beberapa daerah lain dalam waktu singkat, jika bukan karena adanya sindikat yang lihai, memiliki jalur perpindahan, dan pasar gelap yang siap menampung korban? Fakta ini mengonfirmasi adanya hubungan antara pelaku lapangan, pembeli, dan dalang besar yang mengoperasikan jaringan tersebut.

Namun, hal yang mengejutkan adalah bagaimana para pelaku bisa begitu leluasa bergerak, seolah tidak terhalang sistem keamanan negara. Padahal, kasus serupa bukan yang pertama. “Jangan sampai muncul Bilqis-Bilqis berikutnya,” demikian kekhawatiran banyak pihak.

Pelajaran bagi Orang Tua dan Masyarakat

Kejadian ini harus menjadi pelajaran penting bagi para orang tua. Anak adalah amanah Allah SWT yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Di tengah kondisi sosial yang semakin tidak aman, orang tua perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap lingkungan sekitar.

Masyarakat juga memiliki peran penting. Sikap individualistis yang kian marak harus ditinggalkan. Tugas amar makruf nahi mungkar serta saling peduli adalah bagian dari upaya menjaga keamanan sosial. Kepekaan terhadap aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar dapat mencegah kejahatan terjadi lebih dini.

Negara Tidak Boleh Absen

Yang paling penting adalah peran negara. Keamanan adalah hak dasar setiap warga negara dan merupakan tanggung jawab mutlak pemimpin serta aparat negara. Kejahatan yang menyasar kelompok rentan seperti anak-anak seharusnya menjadi prioritas penanganan.

Para penguasa harus memperhatikan celah-celah terjadinya kriminalitas, menutup ruang gerak bagi para pelaku, memperketat patroli, serta memastikan keamanan di seluruh wilayah. Penegakan hukum juga harus tegas agar muncul efek jera, terlebih bagi jaringan kejahatan yang terstruktur.

Lebih memprihatinkan lagi, banyak kasus kejahatan justru dilakukan oleh orang-orang dekat korban. Hal ini menegaskan bahwa penguasa tidak boleh setengah hati dalam menjaga keamanan dalam negeri. Ini adalah bagian dari amanah besar seorang pemimpin.

Akar Masalah: Kerentanan dalam Sistem Kapitalis

Perlindungan anak membutuhkan peran keluarga, masyarakat, dan negara. Namun dalam realitas kehidupan kapitalis saat ini, ketiga elemen itu justru terhimpit berbagai masalah ekonomi dan sosial.

Banyak orang tua terpaksa bekerja keras demi mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Tingginya biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pokok menyebabkan para ibu harus ikut mencari nafkah. Akibatnya, peran mereka sebagai ummu warabatul bait dan ummu madrasatul ula menjadi terabaikan.

Sistem kapitalisme sekuler telah memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan manfaat materi sebagai tujuan utama. Pola pikir ini merusak struktur keluarga, melemahkan pengasuhan, dan membuat generasi tumbuh dengan mental rapuh. Keamanan fisik anak semakin rentan, sementara pemikiran dan akidah mereka pun mudah terpengaruh budaya Barat yang bertentangan dengan syariat Islam.

Islam: Sistem Kehidupan yang Mampu Melindungi Generasi

Hanya Islam sebagai sistem kehidupan yang mampu mencegah sekaligus meminimalisasi berbagai bentuk kejahatan, baik fisik maupun pemikiran. Islam menetapkan peran negara, masyarakat, dan keluarga secara jelas dan saling melengkapi.

Negara dalam Islam bertanggung jawab sepenuhnya atas keamanan masyarakat. Aparat negara wajib menjaga ketertiban, menutup celah kejahatan sekecil apa pun, serta memberikan hukuman tegas bagi para pelaku. Masyarakat menjalankan fungsi kontrol sosial melalui amar makruf nahi mungkar. Sementara keluarga menjalankan peran pengasuhan yang kuat berdasarkan akidah dan akhlak Islam.

Dengan sistem yang menyatu antara akidah, syariat, dan kebijakan negara, generasi akan terlindungi baik secara fisik maupun mental. Kejahatan yang menimpa kelompok rentan dapat diminimalkan secara signifikan.

Wallahu a‘lam bis-shawab.


Share this article via

43 Shares

0 Comment