| 6 Views
Pelajaran Penting AS-Iran: Kesatuan Negeri-negeri Islam Mampu Mengalahkan Hegemoni Global
Foto: (via REUTERS/WANA)
Oleh: Dian Harisah
Sabtu, 28 Februari 2026 menjadi titik awal serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sebelumnya telah mendesak pemerintah AS di bawah kepemimpinan Donald Trump untuk segera menyerang Iran dengan berbagai pertimbangan politik dan ekonomi. Upaya Israel mendesak pemerintah AS diklaim mantan Menteri Pertahanan AS, John Kerry tidak hanya dilakukan sekali ini namun telah dilakukan sejak tiga penguasa AS sebelumnya, yakni George W. Bush, Obama dan Joe Biden. (Kompas.com, 13/4/2026)
Sebagaimana dikutip Tribun-video.com (25/2/2026), para pejabat intelijen Israel memperkirakan AS hanya mampu melakukan serangan militer ke Iran selama empat hingga lima hari saja. Hal ini dikarenakan ada keterbatasan amunisi yang disiapkan AS di wilayah Timur Tengah. Hingga kini berlangsung 46 hari setelah serangan perdana AS-Israel ke Iran, Iran tetap bertahan meski sendirian melawan.
Sementara itu, negara-negara Eropa terpecah ketika menyikapi serangan AS-Israel ke Iran. Meski selama ini hampir semua negara Eropa sekutu AS, nyatanya tidak semua mendukung Keputusan AS tersebut. Di antara negara Eropa yang mengecam keras serangan AS-Israel ke Iran adalah Perancis, Jerman dan Inggris.
Bahkan sejumlah negara ditengarai mendukung Iran melawan AS-Israel di antaranya Rusia, China, Houthi di Yaman, Hizbullah di Lebanon, Popular Mobilization Forces (baca: PMF) di Irak. Dikutip dari cnnindonesia.com (29/3/2026), berdasarkan beberapa laporan, negara-negara ini tidak hanya mendukung tapi juga membantu Iran secara tidak langsung.
Berbeda dengan negara-negara di atas, penguasa Negeri-negeri Muslim justru mempertontonkan pengkhianatan yang nyata di depan Kaum Muslimin. Mereka adalah Arab Saudi, Bahrain, Uni Emirat Arab, Yordania dan Qatar. Kelima negara ini dengan sukarela membantu AS dengan berdirinya pangkalan militer AS di negeri mereka. Tidak hanya berhenti dengan adanya pangkalan militer AS di negeri mereka, lebih dari itu mereka menandatangani pernyataan bersama dengan mengeluarkan kecaman keras terhadap serangan Iran pada negara-negara teluk.
Belajar dari serangan AS-Israel ke Iran
Selama 48 hari ini kita disuguhkan realita baru bahwa AS-Israel tidak mudah mengalahkan Iran (meski Iran sendirian dan telah mengalami embargo ekonomi selama 47 tahun). Artinya, kekuatan AS-Israel tidak sekuat apa yang ada dalam bayangan kita sebagai negara adidaya. Iran telah membuktikan keberanian melawan AS dan tidak tunduk padanya.
Kita juga melihat terpecahnya negara-negara sekutu AS di wilayah Eropa tidak semuanya mendukung serangan AS-Israel ke Iran. Mereka tidak sepenuhnya mendukung ataupun melawan dan membiarkan AS dengan pilihan dan keputusannya. Bahkan ada yang berani menyampaikan kecaman atas keputusan AS tersebut.
Selain itu, kita juga melihat pemandangan tak pantas yakni pengkhianatan penguasa Negeri-negeri Muslim. Tanpa persatuan dan kesatuan umat Islam tentu kekuatan Kaum Muslimin akan melemah.
Urgensi Kesatuan Negeri Muslim
Dengan memperhatikan dinamika politik terkini mengantarkan kita pada satu kesimpulan bahwa adanya kesatuan Negeri-negeri Muslim saat ini sangat dibutuhkan. Pendudukan, pengusiran, penganiayaan, bahkan pembunuhan atas warga Palestina oleh Israel tak kunjung selesai. Iran yang berdiri sendiri melawan serangan AS-Israel. Lebanon yang dibombardir Israel dll, semua mengisyaratkan yang sama akan kebutuhan kesatuan umat di bawah satu kepemimpinan yakni Khilafah.
Khilafah inilah yang akan menyatukan potensi seluruh umat Islam untuk melindungi Kaum Muslimin dan mengalahkan hegemoni negara adidaya. Khilafah inilah yang akan membebaskan penderitaan negeri-negeri Muslim yang terjajah dan yang akan menebar rahmat ke seluruh penjuru alam dengan dakwah dan jihad.
Layaklah kita kembali melihat bagaimana dahulu Kaum Muslimin di bawah kepemimpinan Rasulullah Muhammad saw dan Khalifah sepeninggal beliau mampu menjadi mercusuar dunia. Sistem pemerintahan Khilafah inilah yang diwariskan Rasulullah kepada kita. Maka perkuat keyakinan kita dengan membaca kembali janji Allah SWT yang tercantum abadi dalam Al Quran surat An-Nur ayat 55 yang berisi janji kemenangan atas kaum Muslimin setelah kondisi kelaparan dan ketakutan menjadi aman sentosa.
Wallahu'alam bi ashawab