| 7 Views

Pelajar Korban Sekularisme, Butuh Solusi Islam

Oleh: Yuliana, S.E.
Muslimah Peduli Umat

Dua warga Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), berinisial SH (26) dan KF ditangkap polisi saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah. Sementara bandar alias pemasok barang haram tersebut masih diburu.

"Terduga pengedar SH tidak bekerja, dan KF yang masih berstatus pelajar," ucap Kasat Resnarkoba AKP Jahyadi Sibawaih kepada detikBali, Rabu (2/4/2026).

Penangkapan dilakukan oleh Tim Opsnal Satresnarkoba Polres Bima Kota di kediaman SH, Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, pada Rabu (1/4) sekitar pukul 22.00 Wita. Keduanya ditangkap tanpa perlawanan.

Dari tangan keduanya, petugas mengamankan sejumlah barang bukti berupa satu tas hitam berisi sabu dengan berat bruto 3,07 gram, satu handphone, alat isap (bong), plastik klip kosong, serta uang tunai sebesar Rp1,5 juta.

Dari hasil interogasi awal, SH dan KF mengakui sabu tersebut milik mereka. Barang haram itu diperoleh dari seseorang berinisial MH, warga Desa Mangge, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima.

"Sabu ini rencananya akan diedarkan (dijual) oleh mereka di wilayah Langgudu dan sekitarnya," ujarnya.

Menindaklanjuti keterangan tersebut, petugas langsung melakukan pengembangan dengan mendatangi kediaman MH. Namun, petugas tidak menemukan MH maupun barang bukti terkait peredaran narkotika.

"Saat ini SH dan KF sudah diamankan di Polres Bima Kota untuk diproses hukum lebih lanjut. Sementara MH masih diburu," tandasnya (Detik Bali, 02 April 2026).

Generasi di tangan sekuler

Miris, pelajar menjadi pengedar sabu (narkoba). Ini bukti sistem sekuler kapitalis telah menjadikan pelajar terjauhkan dari agama, penjagaan akal, moral, serta perbuatan. Gagalnya negara menjadi periayah bagi rakyatnya, gagal menjadi junnah bagi generasi yang seharusnya menjadi penerus peradaban.

Lemahnya sistem pendidikan dan hukum yang diterapkan di negara saat ini juga menjadikan pelajar mudah terjerat pada aktivitas melanggar hukum. Minim pengawasan anak dari segala pihak, baik pengawasan dari orang tua dan keluarga, pengawasan masyarakat, maupun negara.

Orang tua membiarkan anak-anak bergaul tanpa adanya pengawasan. Hal ini disebabkan orang tua sibuk dengan aktivitas bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi yang semakin menghimpit. Anak-anak jarang sekali mendapat pendidikan dari rumah. Orang tua merasa ketika anak-anak sudah diserahkan ke sekolah, maka sudah cukup pendidikan yang anak-anak terima.

Bagi masyarakat, merasa anak orang bukan tanggung jawab mereka. Di sinilah secara tak langsung penerapan sistem sekuler sudah melekat pada diri rakyat. Orang lain bukan merupakan urusan kita, kita urus urusan kita saja.

Negara tidak hadir dalam perkembangan anak bangsa. Pemerintah mangkir dari tanggung jawab dalam pembinaan dan pengawasan anak-anak. Pendidikan mahal, bagi orang tua yang tidak mampu dan tidak memiliki biaya untuk pendidikan anak-anak, hari-hari hanya memikirkan kebutuhan untuk makan, akhirnya pendidikan terabaikan.

Kebutuhan anak tidak terpenuhi menyebabkan munculnya kenakalan. Perhatian, pendidikan, kebutuhan tidak didapatkan, maka akan terjadi eksploitasi terhadap anak di bawah umur oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Di sistem sekularisme yang berasaskan manfaat, tidak dipungkiri bahwa anak-anak menjadi korban para penjahat yang mencari keuntungan individu dan kelompok tertentu.

Generasi Muslim butuh solusi Islam

Sistem pendidikan Islam akan membentuk pribadi generasi sebagai hamba Allah yang saleh, muslih, dan berkepribadian Islam. Peran keluarga, yaitu orang tua bersungguh-sungguh dalam mendampingi dan mendidik anak-anaknya dengan menanamkan dasar-dasar keislaman yang memadai serta memberikan teladan yang baik.

Peran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan generasi, dengan menjaga pergaulan dan amar makruf nahi mungkar. Sanksi hukum yang tegas dari negara, baik bagi pembuat, pengedar, maupun pengguna, agar memberikan efek jera.

Menerapkan Islam secara menyeluruh merupakan kewajiban yang mutlak, baik bagi individu maupun negara. Setiap perbuatan harus berdasarkan hukum halal haram, bukan suka atau tidak. Islam memerintahkan pemimpin menjadi junnah terhadap rakyat, bukan menjadi ancaman.

Syariat Islam bukanlah menu pilihan yang bisa kita ambil sebagian dan kita tinggalkan sebagian lainnya, namun harus diterapkan secara keseluruhan. Masalah umat adalah tanggung jawab negara. Pemimpin wajib mengurus secara tuntas.

Salman al-Farisi, gubernur Mada’in di masa Umar ibn al-Khattab, hidup sederhana hingga menyedekahkan seluruh gajinya. Ia bahkan memikul barang pedagang yang tak mengenalnya, meski dirinya adalah pemimpin tertinggi di kota tersebut. Beliau sangat berhati-hati dalam mengurus umat karena takut akan azab dari Allah Swt.

Untuk membentuk anak menjadi generasi peradaban Islam haruslah dengan pendidikan Islam. Kurikulum Islam bisa dijalankan dengan sistem Islam. Hal ini hanya akan terwujud jika umat berada di bawah naungan Daulah Islamiyah. Dan dari semua masalah akan tersolusikan dengan tegaknya khilafah.

Wallahu a’lam bishawab.


Share this article via

0 Shares

0 Comment