| 193 Views

Palestina Membutuhkan Diterapkannya Sistem Islam

Oleh : Ummu Aqiil

Palestina dirundung duka terus menerus karena tidak adanya sebuah institusi yang dulu pernah menaungi seluruh manusia tak terkecuali negeri Palestina.

Gencatan senjata yang menjadi kesepakatan antara Zionis Yahudi dan Hamas nyatanya tak menyurutkan langkah Zionis untuk terus menyerang Gaza. Hakikatnya sudah tampak jelas bahwa Zionis Yahudi memang kaum yang tidak dapat di percaya.

Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant ibarat memberikan ultimatum terhadap warga Gaza, perintah evakuasi di zona konflik sembari mengingatkan warga Gaza dengan menyatakan peringatan terakhir yaitu dengan mengikuti saran Presiden AS, kembalikan para sandera, dan hancurkan Hamas. Dari hal tersebut dianggap pilihan lain juga terbuka terhadap semua orang. Mereka yang ingin pindah ke belahan dunia lain dapat pergi, seperti yang diungkapkan Gallant.

Ancaman pun diarahkan Gallant dengan menyatakan "Jika para sandera tidak dibebaskan dan Hamas tidak diusir dari Gaza, Israel akan bertindak dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Memang, dalam serangan di Israel dari total 251 sandera yang diculik Hamas pada 7 Oktober 2023, 58 orang masih ditahan di Gaza. Militer Israel telah mengkonfirmasi bahwa 35 diantaranya telah tewas, seperti dikutip dalam laman beritasatu.com.

Tak tanggung-tanggung, Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa serangan udara baru permulaan, yang ditargetkan akan terus berlanjut hingga Israel mencapai tujuan perangnya yaitu menghancurkan Hamas dan membebaskan seluruh sandera yang ditahan oleh kelompok militer Hamas.cnbc.indonesia.

Bulan Ramadhan bukan lagi menjadi sesuatu untuk menghargai warga Gaza yang sedang menjalankan ibadah. Namun rasa empati kaum yang dilaknat Allah ini membuat ketegangan. Hingga kembali berani menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa.

Dalam penyerbuan tersebut, dua toa atau pengeras suara masjid yang ada di ruang sholat Qibli dicopot oleh pasukan Angkatan Bersenjata Israel (IDF).

Dimana toa tersebut digunakan untuk mengumandangkan azan selama bulan Ramadhan. Dikutip dari laman serambinews.

Serangan zionis Yahudi terhadap saudara Muslim Palestina seharusnya menjadikan umat Islam dibelahan negeri lain peka atas penderitaan mereka. Namun faktanya, semakin kini semakin berkurang rasa empati terhadap yang menimpa Palestina.

Hal tersebut disebabkan dengan beragam persoalan yang dihadapi umat Muslim lainnya, tak dipungkiri didalam negeri sendiri.

Seharusnya kebiadaban Zionis Yahudi bisa membuka nurani saudara sesama Muslim untuk menelusuri akar permasalahan yang mendera yang hampir tak berkesudahan.

Namun sayangnya, umat Islam tidak bangkit atas keterpurukan yang menimpa dari segala arah. Karena memang itulah yang dikehendaki penjajah tak terkecuali zionis Yahudi.

Gagasan untuk menerima apa yang ditawarkan oleh Presiden AS, agar pergi dari Palestina adalah hal yang tidak mungkin dilakukan oleh warga Gaza karena mengingat Palestina adalah tanah kharajiyah yang memanggil harus dipertahankan dan tidak boleh diserahkan kepada siapapun termasuk untuk mengikuti saran Presiden AS. Mereka rela syahid demi perjuangan mempertahankan Palestina.

Namun sayangnya, warga Palestina berjuang sendiri. Negeri Muslim yang berempati sekedar mengecam tindakan Zionis Yahudi maupun Presiden AS tanpa tindakan nyata yang seharusnya memerangi bangsa Yahudi. Bukan hanya sebatas doa dan jihad secara retorika belaka.

Itulah pentingnya diterapkannya sebuah kekuatan yang menaungi seluruh umat Islam sehingga jika semacam zionis Yahudi berbuat semena-mena terhadap manusia khususnya rakyat Palestina maka negara akan mengambil langkah untuk segera memerangi Yahudi tanpa ada embel-embel yang jadi pertimbangan.

Allah SWT sudah mengingatkan umat Islam dalam Firman-Nya:

فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ

Siapa saja yang menyerang kalian, seranglah dia seimbang dengan serangannya terhadap kalian (TQS al-Baqarah [2]: 194).

Karena hakikatnya genosida yang dilakukan zionis Yahudi tak akan bisa bertahan sedemikian lama jika ada sebuah negara yaitu Khilafah. Bagaimana dulu dimasa Rasullullah, pengkhianatan yang kerap dilakukan Yahudi akan diambil tindak tegas.

Pengusiran mereka dari negeri Palestina juga akan dilakukan, sebagaimana hal tersebut juga diperintahkan Allah sesuai dengan Firman-Nya:

وَاقْتُلُوْهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوْهُمْ وَاَخْرِجُوْهُمْ مِّنْ حَيْثُ اَخْرَجُوْكُمْ

Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian (TQS al-Baqarah [2]: 191).

Hanya saja memerangi dalam sistem kufur saat ini sesuatu yang mustahil dilakukan mengingat umat Islam saat ini telah terpecah belah dengan sekat nasionalisme yang  kurang memahami hakikat pembelaan terhadap saudara Muslim Palestina.

Maka diperlukan keberadaan sebuah sistem Islam yaitu institusi Khilafah yang akan menaungi seluruh umat manusia yang hidup didalamnya sehingga kesejahteraan hidup didapati dan umat Islam tidak terpuruk terhadap masalah yang mendera sehingga terwujud nyata pembelaan terhadap saudara Muslim di Palestina. Sehingga tidak ada lagi yang berani mengusik kehidupan umat Islam khususnya seperti yang terjadi di Palestina.

Menerapkan kepemimpinan Islam merupakan kewajiban setiap muslim. Apapun rintangannya, maka kuncinya adalah persatuan umat Islam dalam berjuang untuk menegakkannya kembali  dengan terus ada dalam barisan jamaah dakwah Ideologis yang akan mengarahkan umat dalam meneladani apa yang pernah di contohkan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.

Hakikatnya setiap perjuangan memerlukan pengorbanan dan berharap hanya untuk menggapai ridho Allah dan tentunya saudara Muslim Palestina segera  terbebas dari kebiadaban Zionis Yahudi lewat komando pemimpin Islam yaitu Khalifah dengan jihad fisabilillah. Aamiin.

Wallahu a'lam bish shawab.


Share this article via

81 Shares

0 Comment