| 39 Views

Palestina dan Matinya Rasa Kemanusiaan

Oleh: Uli Ash-Shafiyah
Aktivis Muslimah Kendari

Pemberitaan tentang Palestina terus menghiasi layar gawai kita setiap saat selama 24 jam setiap harinya. Luka mendalam, kesedihan hilangnya sanak saudaranya seakan tidak pernah habis. Blokade bantuan kemanusiaan yang menyebabkan kelaparan akut tak kunjung usai, stok makanan dan obat-obatan kian menipis. Hingga rakyat Gaza akan mati karena kekurangan makanan atau karena gempuran rudal dan peluru penjajah laknatullah. Kelaparan dijadikan oleh mereka sebagai senjata untuk membunuh secara perlahan warga gaza. Mirisnya, penguasa negeri-negeri Muslim tetap diam, bungkam tak bergerak untuk membantu!

Dilaporkan pada Sabtu (7/6/2025) dini hari waktu setempat, bertepatan dengan hari kedua perayaan Idul Adha 17 warga Palestina meninggal dunia setelah serangan udara dan tembakan militer Israel di wilayah Selatan jalur Gaza, terutama di Khan Younis dan Rafah. Sementara itu, lebih dari 580 warga Gaza tercatat mengalami luka-luka dalam upaya mereka memperoleh bantuan kemanusiaan. Serangan  genosida sejak 7 oktber 2023 lalu telah merenggut hampir 54.700 jiwa (beritasatu.com, 7/6/2025).

Pemimpin Mati Rasa

Gelombang protes masyarakat dunia atas genosida terus mengemuka khususnya di negara-negara barat. Tuntutan untuk menghentikan penjajahan dan membuka pintu masuknya bantuan kemanusiaan pun terus digaungkan. Aktivis kemanusiaan yang sambut menyambut sebagai bentuk solidaritas makin bertambah. Lewat jalur laut misalnya, oleh 12 aktivis Kapal Madleen Flotila yang membuat para penjajah ketakutan dan menangkap mereka. Hingga gelombang Global March to Gaza dari puluhan ribu aktivis lebih dari 50 negara berpartisipasi. Para aktivis yang berasal dari berbagai kalangan, bahkan sebagian besar dari non Muslim.

Ironisnya, penguasa Mesir yang punya otoritas untuk masuk ke wilayah perbatasan Rafah, justru menjadi garda terdepan menghadang massa. Kenyataan pahit yang harus ditelan ketika penguasa negeri-negeri Muslim malah berpihak dan berkawan baik dengan penjajah. Rasa malu dan kemanusiaan telah hilang, ketika justru yang getol bahkan sampai memohon untuk dibuka pintu perbatasan adalah seorang non Muslim. Sungguh miris dan sangat memalukan. Dimana nurani dan rasa empati sebagai sesama muslim? Dimana ukhuwah Islam yang menjadi realisasi dari aqidah seorang Muslim?

Sayangnya, nurani dan rasa itu telah terpenjara oleh kepentingan dunia. Bahkan telah mati karena sekat negara bangsa. Saudara seiman berbalik menjadi musuh yang lebih parah kejinya dari musuh sesungguhnya. Dukungan palsu dengan kecaman dan kutukan pada penjajah hanya menjadi bualan pemanis bibir. Retorika basi yang tak berarti dan tanpa aksi nyata. Kalah oleh non muslim yang masih memiliki nama sebagai manusia. Yang rela mencurahkan segala yang dimiliki bahkah nyawa untuk bisa membantu kaum Muslim yang terdzolimi. Akal, mata, hati dan pikiran mereka masih jelas membedakan benar dan salah, adil ataukah dzolim, dan bergerak melawan atau berdiam diri.

Sebuah kewajaran ketika penguasa negeri-negeri Muslim telah terbelenggu secara sadar oleh kapitalisme sekuler. Yang mengabaikan nilai rasa sebagai manusia yang punya hati, jauh berkali-kali lipat di bawah keuntungan materi duniawi. Cinta dunia dan takut mati, penyakit _Wahn_ yang sudah mewabah tersebab kapitalisme sekuler jadi pijakan kaum Muslimin hari ini. Kapitalisme global yang telah memecah belah kaum Muslimin dalam sekat imajiner yang mematikan nurani. Yang menyetujui kekejaman dan kebiadaban penjajah dengan sikap diam dan pengkhianatan mereka terhadap umat.

Palestina Adalah Kita

Kondisi ini sudah tentu harus dihentikan, tidak bisa ditoleransi apalagi dianggap wajar. Batas kemanusiaan telah dilanggar tanpa batas, secara menganga disaksikan oleh dunia. Tanpa ada pembelaan yang berarti, selain kecaman palsu dan pengkhianatan. Kaum Muslimin Palestina adalah saudara sesama Muslim. Mereka telah menjalankan titah dari Rabb semesta alam untuk menjaga tanah yang diberkahi. Dengan harga mahal berupa hilangnya nyawa sanak keluarga, kehilangan harta benda bahkan kebebasan yang tak berkesudahan. Padahal sejatinya amanah penjagaan Baitul Maqdis adalah kewajiban seluruh kaum muslim, tapi mereka telah mewakili kita dengan jaminan syurga dari Allah.

Maka sudah selayaknya kita sebagai sesama Muslim, menjawab panggilan akidah untuk membantu sesama saudara. Derita mereka adalah derita kita, begitulah hakikatnya sesama Muslim. Sebab Palestina adalah kita, maka Penderitaan kaum Muslimin Palestina harus diakhiri. Tidak cukup dengan sekedar bantuan kemanusiaan atau semisalnya. Tapi, harus melihat pada akar masalahnya yaitu penjajahan. Penjajah harus diusir dengan kekuatan seimbang yaitu dengan senjata dan tentara kaum Muslimin. Jihad fii sabilillah adalah solusi yang ditawarkan Islam untuk menghapuskan penjajahan atas negeri-negeri Muslim, khususnya Palestina. Dengannya Palestina akan dibebaskan, bumi al Quds yang diberkahi akan direbut kembali. Nyawa tak berdosa akan terjaga dan mulia, nestapa pun akan sirna.

Khilfah adalah Solusi

Hanya saja jihad tidak bisa terwujud dalam negara yang tidak menerapkan Islam. Apalagi oleh para pemimpin negeri Muslim yang berkhianat dan tidak memiliki visi politik Islam. Pemimpin yang terpenjara dalam bingkai nation state, tidak punya political will untuk bersatu dan bergerak bahkan mengawal jihad sangat mustahil terjadi. Jihad hanya bisa terlaksana dengan komando seorang Kholifah dalam negara Khilafah yang berdaulat dan mandiri.

Khilafah harus terwujud dengan persatuan umat yang akan menegakkannya kembali. Olehnya, opini yang massif tentang urgensi dan pentingnya kebutuhan umat kepada khilafah harus sampai ke seluruh lapisan masyarakat. Bahwa solusi untuk permasalahan umat adalah dengan tegaknya institusi pemersatu umat, Khilafah. Kesadaran umat harus terbentuk agar tegaknya khilafah semakin dekat.

Kesadaran ini bisa terbentuk dengan adanya jamaah dakwah ideologis yang konsisten menyerukan tegaknya Khilafah. Jamaah ini akan membangun kesadaran umat, dan menunjukkan jalan kemuliaan bagi umat. Umat sudah seharusnya menjawab seruan jamaah dakwah ini dan berjuang bersama menjemput nashrullah. Pada akhirnya kemenangan akan diraih dan kemuliaan umat akan kembali. Rahmatan lil 'aalamiin akan menyebar ke seluruh penjuru dunia baik Muslim maupun non muslim, bahkan bagi tumbuhan dan hewan di semesta alam.

Wallahu'alam


Share this article via

48 Shares

0 Comment