| 607 Views

Negara Gagal Menjamin Makanan Halal dan Thayib Bagi Rakyatnya

Oleh : Ika Kartika

Meningkatkannya penderita diabetes pada anak-anak bahkan mirisnya lagi ada yang sampai cuci darah, apakah penyebab semua ini? apalagi dari hasil tes kesehatan yang di dapat kebanyakan menimpa anak-anak ada apakah dengan kesehatan di negeri ini sehingga mereka harus menjadi korban.

Jakarta - Konsultan nefrologi anak dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr Eka Laksmi Hidayati, SpA(K) meluruskan isu viral banyak anak-anak menjalani cuci darah di RSCM. Dia menegaskan meski memang ada anak yang menjalani hemodialisis di RSCM, kasus gagal ginjal tidak mengalami lonjakan.
"Jadi kita cukup kaget ya karena ada berita-berita terkait ini, padahal di RSCM kita tidak mengalami lonjakan," ujar dr Eka dalam siniar di RSCM Kencana, Kamis (25/7/2024 detikhealt.com).

Dokter Eka mengatakan RSCM merupakan rumah sakit rujukan nasional yang memiliki layanan khusus cuci darah untuk anak. Pasiennya bukan hanya berasal dari Jakarta tetapi juga luar pulau jawa. Saat ini disebutkan ada sekitar 60 anak yang menjalani terapi pengganti ginjal di RSCM. Sebanyak 30 di antaranya menjalani hemodialisis rutin sementara lainnya datang sebulan sekali. Melalui survei Ikatan Dokter Indonesia. Terdapat darah dan protein di air kencing anak-anak. Hal tersebut salah satu indikator rusaknya ginjal pada anak.

Penyebabnya kerusakan ginjal pada anak adalah dari pola makan dan minum anak yang kurang baik yaitu suka makanan dan minuman yang manis-manis. Tren makanan sekarang memang sangat miris. Yaitu contohnya banyak makanan manis, siap saji, makan bergelut tinggi belum lagi makanan yang sudah di modifikasi dengan bahan kimia. 

Dari keluarga terutama orang tua, kalau anaknya tidak suka makanan sayur atau buah. Orang tua malah memilihkan makanan siap saji seperti mie instan sosis, nugget, bakso yang penting anak mau makan. Belum lagi dari minuman seperti boba, es sasetan, minuman botol dll. Pola konsumtif masyarakat juga berkiblat pada Barat atau sekularisme, kapitalisme, maksudnya masyarakat mengkonsumsi makanan hanya mengikuti tren tanpa memperhatikan halal dan thayib.

Sementara para penjualan makanan hanya memperhatikan keuntungan tanpa memperhatikan halal dah thayib. Negara pun berlepas tangan dari pola konsumsi masyarakat. Alhasil anak lah yang menjadi korban makanan tidak sehat. Sangat berbeda dengan sistem islam yang diterapkan Daulah khilafah. Islam akan mengatur masyarakatnya dalam mengkonsumsi makanan. Tidak hanya makan sesuai nafsu namun makan juga harus di penuhi dengan hukum syara'. Yang halal dan thayib dalam islam.

Allah Swt berfirman:

Dan makan lah makanan yang halal dan thayib. Dari apa yang telah Allah rezekikan kepadamu. Dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepadanya (Q.S Almaidah : 88).

Halal berarti terbebas dari segala bentuk zat yang diharamkan dalam islam.
Seperi darah, bangkai, daging babi dan hewan yang sembelih tanpa menyebut nama Allah, hewan yang bertaring, dan binatang yg menjijikan.

Sementara thayib adalah makanan tersebut harus baik untuk manusia. Tidak boleh merusak tubuh, kesehatan, akal, dan kehidupan manusia. Makanan thayib ini wajib dijalankan oleh individu, masyarakat dan negara.

Tugas daulah khilafah agar masyarakat faham makanan halal dan thayib yaitu dengan cara memberikan edukasi melalui pendidikan islam, dengan itu mayarakat akan faham dalam berbuat. Sehingga penjual makanan atau pun pembeli makanan mereka akan memperhatikan makanan yang di produksi atau di konsumsi adalah makanan yang sesuai standar syariah.

Dengan itulah masyarakat terutama anak-anak terjaga dari makanan yang berbahaya. Dan bisa faham tujuan konsumsi makanan tersebut untuk memenuhi gizi tubuh dan menjadikan tubuh sehat, dengan begitu masyarakat dapat optimal dalam beribadah bukan tujuan lain yaitu hanya gaya dan mengikuti tren.

Daulah khilafah juga akan menjaga masyarakatnya agar terhindar dari makanan yang tidak halal dan thayib dengan cara mengeluarkan undang- undang dan daulah khilafah pun akan memberikan saksi yang tegas yang melanggar aturan syariat yang terkait makanan.

Dengan begitu adanya peran orang tua, masyarakat dan negara anak-anak dan masyarakat akan terhindar dari pola konsumsi yang salah. Sehingga anak-anak akan terhindar dari penyakit gagal ginjal, diabetes dan penyakit akibat pola makan yang salah.

Allahu a'lam bish-shawab.


Share this article via

109 Shares

0 Comment