| 165 Views

Nasionalisme Penghambat Atas Perjuangan Pembebasan Palestina

Oleh: Rida Ummu Zananby

Arus gelombang massa atas kepedulian terhadap Palestina kini mulai masif terlihat. Sebagaimana dilansir dalam Republika.co.id (15/6/2025), telah terjadi Gerakan Global March to Gaza yang berlangsung dari Al-Arish menuju Gerbang Rafah. Aktivitas ini melibatkan ribuan orang dan menjadi sorotan dunia internasional sebagai bentuk estafet nurani kolektif yang menolak diam atas krisis kemanusiaan di Palestina.

Global March to Gaza sendiri bukan gerakan yang mewakili partai politik, ideologi, atau agama apa pun. Gerakan ini adalah gerakan sipil, apolitis, dan independen yang mewakili rakyat dalam segala keberagaman dan kemanusiaan. Pedoman prinsip dalam aksi ini adalah keadilan, martabat manusia, dan perdamaian di berbagai penjuru dunia.

Nasionalisme Penghambat Kebebasan Palestina

Munculnya gerakan Global March to Gaza (GMTA) menunjukkan adanya kekecewaan sekaligus kemarahan masyarakat dunia yang sangat besar. Hal ini menandakan bahwa masyarakat dunia sudah tidak lagi berharap pada lembaga-lembaga internasional dan para penguasa hari ini.

Namun, saat gerakan ini bergulir tanpa adanya komando pemimpin yang mampu menggerakkan dan menghancurkan segala bentuk ketidakadilan di muka bumi, akhirnya mereka tertahan di pintu Rafah. Gerakan ini pun semakin menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan apa pun tidak akan pernah bisa memberikan solusi bagi masalah Gaza. Karena sesungguhnya, ada akar hambatan di balik semua ini, yakni keberhasilan penjajah di negeri-negeri kaum muslimin dalam menancapkan paham nasionalisme dan konsep negara-bangsa.

Paham ini telah mampu memupus hati nurani para penguasa muslim dan tentara mereka, hingga mereka rela membiarkan saudaranya dibantai di hadapan mata. Bahkan, yang paling menyayat hati kaum muslimin, mereka justru ikut menjaga kepentingan pembantai, hanya demi meraih keridaan negara adidaya yang menjadi tumpuan kekuasaan mereka—yakni Amerika.

Hal ini terjadi karena sejatinya paham nasionalisme melahirkan pemikiran bahwa kepentingan dalam negeri masing-masing jauh lebih penting. Konsep nasionalisme ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Hans Kohn, bahwa nasionalisme diartikan sebagai keadaan individu yang dalam pikirannya merasa bahwa pengabdian paling tinggi adalah untuk bangsa dan tanah air.

Sehingga nasionalisme inilah yang membuat pandangan bahwa persoalan Palestina adalah masalah internal Palestina sebagai sebuah bangsa yang berdaulat—seolah dengan nasionalisme, negara lain tidak akan bisa ikut campur, sekalipun terjadi pembantaian nyata di hadapan mereka.

Islam Mewujudkan Persatuan dan Kebangkitan bagi Palestina

Berbeda dengan Islam. Islam memandang bahwa umat Islam adalah umat yang satu dan tidak bisa dipisahkan oleh sekat-sekat batas negara, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
"Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).”
(HR. Muslim No. 465)

Maka dari itu, umat Islam seharusnya paham betul betapa bahayanya paham nasionalisme dan konsep negara-bangsa, baik dilihat dari sisi pemikiran maupun sejarahnya. Justru keduanya adalah alat yang digunakan musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan kaum muslimin dalam upaya menegakkan institusi yang mampu mengurusi dan menjadi perisai bagi seluruh kaum muslimin di dunia, yakni khilafah.

Dengan paham nasionalisme dan konsep negara yang mereka tancapkan saat ini, justru penjajahan di negeri-negeri Islam akan terus dilanggengkan. Maka umat Islam harus sadar bahwa arah pergerakan mereka untuk memberikan solusi bagi konflik Palestina haruslah bersifat politik—yakni fokus untuk membongkar sekat negara-bangsa, dan berjuang bersama mewujudkan satu kepemimpinan politik Islam di dunia: khilafah.

Dengan demikian, masalah utama bagi kita hari ini adalah untuk mendukung dan bergabung dengan gerakan politik ideologis yang berjuang tanpa mengenal sekat, dan terbukti konsisten memperjuangkan tegaknya kepemimpinan politik Islam di berbagai tempat.

Bahkan dalam Islam, nasionalisme ini termasuk paham ashabiyah yang diharamkan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Siapa saja yang terbunuh di bawah panji buta—ia marah karena ashabiyah, atau berperang untuk ashabiyah, atau menyerukan ashabiyah—maka ia mati dalam keadaan jahiliah.”(HR. Ahmad) 

Wallahu a'lam bish-showab.


Share this article via

52 Shares

0 Comment