| 145 Views
Muharam, Moment Hijrah Secara Nyata
Oleh: Sri Lestari, ST
Muharam adalah bulan istimewa bagi kaum muslim. Muharam merupakan bulan pertama di tahun Hijriah. Banyak moment istimewa pada bulan Muharam. Salah satunya, hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah. Hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah bukanlah untuk menghindari diri dari kekejaman kaum Quraish, namun hijrahnya Rasulullah SAW untuk menerapkan hukum Allah secara totalitas di Madinah.
Hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekah ke Madinah menjadi moment yang sangat istimewa. Keistimewaannya terlihat bahwa Rasulullah SAW telah mempersatukan seluruh kaum muslim dalam satu aturan Allah, Rasulullah mampu mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin, kaum muslim diikat dengan ikatan yang kokoh yakni akidah Islam, kaum muslim menjadi kaum yang disegani dan ditakuti, kaum muslim menjadi umat yang satu dan kaum muslim meraih kebangkitan secara hakiki.
Namun sungguh disayangkan, realita dulu bertolak belakang dengan realita saat ini. Jika kita melirik realita yang terjadi, kaum muslim berada pada pusaran permasalahan kehidupan. Mulai dari persoalan ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, pergaulan, peradilan, korupsi yang semakin menjadi, kesejahteraan, keamanan dan masih banyak lagi persoalan yang dihadapi kaum muslim. Lebih dari itu, kaum muslim saat ini telah menjadi umat yang terpecah belah, menjadi umat yang terpisah antara umat yang satu dengan umat yang lainnya, sekat kebangsaan menjadi pemisah umat antar bangsa, dan umat Islam menjadi umat yang individualis.
Lebih jauh lagi jika kita melihat kondisi umat di belahan dunia khususnya umat muslim di Palestina, kondisi mereka semakin miris. Hujanan bom Zionis masih terus menyasar umat muslim di Palestina. Serangan Zionis saat ini benar-benar bertujuan untuk melenyapkan kaum muslim di Palestina. Bagaimana tidak, semua kaum muslim menjadi sasaran baik bayi, anak-anak, perempuan, ibu hamil dan ibu menyusui. Bahkan masyarakat Palestina yang sedang mengantri makanan menjadi sasaran.
Menurut laporan Kantor Media Pemerintah Gaza, sejak Gaza Humanitarian Foundation (GHF) di Utara Rafah mulai mengelola pengiriman bantuan terbatas pada akhir Mei, lebih dari 580 warga Palestina tewas dan lebih dari 4.000 terluka saat mendekati pusat-pusat distribusi tersebut. Realita ini benar-benar sangat di luar nalar.
"Sungguh mengejutkan bagi publik bahwa di tempat yang katanya menyediakan bantuan kemanusiaan justru terjadi pembantaian terhadap ratusan orang," kata Nice, pengacara hak asasi manusia internasional kepada Al Jazeera. "Ini sungguh tak masuk akal." (30/6/2025), (CNBC Indonesia).
Kejahatan Zionis semakin menjadi-jadi dan sudah melanggar hak asasi manusia dan serangan Zionis telah menunjukkan kebiadaban yang sangat luar biasa. Meskipun umat terus bergerak dan terus melakukan pembelaan terhadap umat muslim di Palestina, namun penguasa-penguasa muslim di dunia masih tetap diam. Bahkan penguasa-penguasa muslim masih terus bergandengan tangan dengan Zionis. Sungguh realita yang menyedihkan dan menyesakkan dadah.
Tidak bergemingnya para penguasa muslim terhadap Palestina karena para penguasa muslim tidak memahami akar masalah terhadap persoalan Palestina. Lebih dari itu, para penguasa memiliki kuatnya cinta mereka terhadap kedudukan dan kekuasaan. Sehingga membuat mereka buta mata, buta hati, dan membuat mereka lalai akan hubungan persaudaraan yang dibangun diatas keimanan. Penguasa-penguasa muslim saat ini tidak merasakan bahwa kaum muslim di Palestina adalah bagian tubuh mereka.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi, adalah seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya dengan berjaga malam dan demam." (HR. Muslim).
Melihat kondisi kaum muslim saat ini berada pada keterpurukan, kemunduran, dan terjajahnya kaum muslim dalam bentuk pemikiran dan serangan sebagaimana yang dialami kaum muslim di Palestina, menuntut adanya perjuangan dan pembebasan secara nyata untuk meraih kebangkitan hakiki. Sudah waktunya kaum muslim hijrah secara nyata sebagaimana kaum muslim terdahulu, hijrah dari sistem kufur menuju sistem Islam.
Upaya yang dilakukan untuk meraih kebangkitan hakiki harus merujuk sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW saat akan mendirikan negara Islam di Madinah yakni upaya penyadaran secara pemikiran. Upaya penyadaran harus dilakukan oleh orang-orang yang sudah menyadari dan memahami bahwa umat akan bangkit hanya dengan penerapan sistem Islam di seluruh aspek kehidupan. Harus ada sebuah institusi yang menerapkan hukum Islam.
Orang-orang yang sadar ini disebut juga sebagai pengemban dakwah. Para pengemban dakwah harus menguatkan dan meningkatkan upaya penyadaran ditengah-tengah umat agar umat memiliki kesadaran yang kuat. Tatkala umat sudah memiliki kesadaran yang benar dan kuat maka umat akan terus bergerak dan menuntut penguasa mereka agar kembali kepada tuntutan Islam dalam mengatur kehidupan umat dan mampu membebaskan Palestina. Pasalnya, persoalan Palestina hanya bisa di bebaskan dengan jihad dan jihad hanya bisa dilakukan jika ada institusi yang menerapkan sistem Islam yakni kepemimpinan Islam dalam sebuah negara.
Para pengemban dakwah harus terus berusaha untuk mewujudkan opini umum ditengah-tengah umat dengan kesadaran umum bahwa butuhnya umat muslim saat ini dengan kepemimpinan Islam. Para pengemban dakwah senantiasa mendampingi pemikiran umat dan terus memimpin umat menuju jalan yang sudah pernah di tempuh oleh Rasulullah SAW dalam menegakkan sistem Islam.
Para pengemban dakwah harus terus menjaga keistiqomahan dalam jalan dakwah sesuai dengan thoriqoh Rasulullah SAW. Dalam meraih kebangkitan hakiki Rasulullah SAW telah mencontohkan perjuangan Rasul dari Mekah hingga berhasil menegakkan sistem Islam di Madinah. Rasulullah SAW melakukan tiga tahapan, yaitu:
Pertama: Tahapan Pembinaan.
Rasulullah SAW secara rahasia menyeru orang-orang pada awal dakwahnya sekitar tiga tahun. Beliau SAW membina kaum muslim di rumah Al-Arqam bin Abi al-Arqam (Dar al-Arqam) hingga kaum muslim memiliki syahsiyah Islam yakni memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islam.
Kedua: Tahapan Interaksi di Tengah-tengah Umat
Setelah Rasulullah mendapat perintah dari Allah dalam QS Al Hijr : 94, Rasulullah SAW mengumumkan menyerukan dakwah secara terang-terangan.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Karena itu sampaikanlah secara terang-terangan segala perkara yang telah diperintahkan kepada kamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS Al-Hijr [15]: 94).
Mulailah Rasulullah saw. menyampaikan agama Islam secara terang-terangan. Rasulullah menyeru masyarakat Quraisy agar memeluk agama Islam. Rasulullah mengumumkan bahwa beliau adalah nabi yang diutus Allah. Rasulullah bersama dengan kelompok dakwahnya (para sahabat) telah siap mengajak masyarakat kafir Quraisy untuk meninggalkan berhala-berhala dan meninggalkan kehidupan tercela yang lain.
Ketiga: Tahapan Mencari Pertolongan
Rasulullah SAW meminta pertolongan kepada para pemimpin dari kabilah-kabilah yang kuat. Beliau mengutus Mush’ab bin Umair ke Madinah. Akhirnya, dakwah beliau membuahkan hasil. Kabilah Aus dan Khazraj yang ada di Madinah siap memberikan perlindungan dan pertolongan terhadap dakwah. Dua kabilah (negara pada masa itu) siap menyerahkan kekuasaannya kepada Rasulullah.
Setelah para pengemban dakwah mengikuti thoriqoh yang telah dicontohkan Rasulullah SAW, para pengemban dakwah juga harus meningkatkan hubungannya dengan Allah agar pertolongan Allah segera datang. Dengan demikian tampak jelas Muharam menjadi bulan untuk menguatkan kaum muslim hijrah secara nyata menuju kebangkitan yang hakiki yakni mengembalikan kembali institusi Islam di muka bumi.