| 52 Views

Mitigasi Lemah, Banjir Tak Tercegah

Oleh: Aktif Suhartini, S.Pd.I.,
Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Perasaan bercampur aduk terasa bergejolak di dada ini. Rasa marah, benci, kesal, muak dan semua rasa pahit dari kenyataan yang harus dihadapi oleh anak saya. Ingin rasanya saya meminta anak saya pindah rumah (di Bekasi) dan melarikan diri dari menempati rumah yang ada di Villa Nusa Indah I Desa Bojong Kulur Bogor Jawa Barat yang merupakan perbatasan Kota Bekasi. Bagaimana rasa sedih ini tidak muncul karena sudah beberapa kali rumah yang anak saya tempati menjadi korban banjir, setiap lima tahun pasti terkena banjir. Tahun 2016, 2020 dan paling baru 2025 ini.

Terkadang di saat kita ngobrol bersama para tetangga yang senasib, harus saling menguatkan, hanya bertahan yang bisa kita lakukan, kabur dan pindah rumah pun bukan solusi yang mudah untuk dicapai dengan situasi kondisi perekonomian yang morat marit tanpa arah tujuan yang jelas akan menuju kestabilan ekonomi.

Hanya bisa berharap derita menjadi langganan korban banjir akan segera selesai, sejauh-jauhnya dan tidak akan kembali lagi. Seandainya saja pemerintah menjalankan amanah yang diembannya mungkin kejadian ini tidak akan terus berulang dan pasti ada jalan keluarnya bila mereka pemimpin rakyat mau memikirkan penderitaan rakyatnya dengan serius. Di saat ajang pentas pemilihan janji manis namun palsu terngiang indah untuk didengar. Setelah menjabat dan kami rakyat taat bayar pajak ke manakah kalian wahai pemimpin rakyat?

Banjir pada Senin 3 Maret 2025 lalu yang paling membuat trauma. Rumah yang ditempati anak saya terkena banjir bandang. Ia bercerita, pukul satu malam baru saja terlelap tidur setelah mengerjakan tugas lembur kantor, pintu rumah digedor-gedor oleh tetangga yang berbaik hati memperingatkan air banjir bandang sudah memasuki lingkungan komplek. Apalagi istrinya yang sedang hamil harus segera dievakuasi karena rumahnya tidak memiliki tingkat dan harus numpang mengungsi untuk sementara dengan tetangga yang rumahnya tingkat.

Belum lagi kendaraan motor yang harus segera diselamatkan karena kendaraan itu satu-satunya penolong aktivitas kerja sehari-hari. Sambil berdiri di atas rumah tingkat tetangga, anak saya pun menatap rumah yang tenggelam sampai dengan seatap. Katanya, rasa pilu sangat menyayat hati, sedih melihat barang-barang rumah tangga yang sudah dicicil, dikumpulkan sedikit demi sedikit dibeli dari uang tabungan hasil irit-irit makan dan kencangkan ikat pinggang terlihat semua barang-barang itu hanyut, terbalik, ngambang terbawa derasnya air.

Ya Tuhan, mendengar cerita tersebut, ingin rasanya menjerit dan sumpah serapah, namun alhamdulillah masih ada iman di dada ini dan meyakini hati bahwa musibah yang dialami anak saya adalah takdir Allah SWT.

Ternyata, banjir bandang tidak hanya berdampak kepada lingkungan tempat tinggal saja, tapi juga melanda lingkungan sekolah. Menurut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, banjir yang melanda wilayah Bekasi, Jawa Barat, menyebabkan 114 gedung sekolah mengalami kerusakan. Fasilitas pendidikan yang terdampak mencakup tingkat SD hingga SMA, baik di Kota maupun Kabupaten Bekasi. Sekolah di Bekasi yang terdampak banjir meliputi 90 SD, tujuh SLB, sembilan SMA, lima SMK, dan tiga SMP (Beritasatu.com, 6/3/2025).

Banjir bandang membuat rumah warga dan bangunan sekolah hancur. Maka, pasca banjir tentu saja sangat membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk perbaikan dan pemulihan kembali keadaan. Pemerintah pun harus segera menangani bencana ini agar bisa puluh kembali. Semoga tidak menjadi area lempar tanggung jawab antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Aamiin

Sebagaimana yang diberitakan Tribunjabar.id, (9/3/2025). Menurut Kepala pusat riset limnologi dan SDA BRIN, Luki Subehi, banjir yang terjadi bukanlah semata karena curah hujan yang tinggi, melainkan karena pengelolaan SDA dan perubahan tata guna lahan di wilayah perkotaan. Pengurangan luas hutan dan daerah resapan air di hulu khususnya sepanjang sungai Bekasi dan Ciliwung, menjadi salah satu pemicu meningkatnya aliran air permukaan yang berujung terjadi banjir.

Apalagi, banjir di Bekasi terjadi hampir setiap tahun karena hulunya kurang mampu meresapkan air, sedangkan daerah datarannya telah dipenuhi permukiman, karena  pembangunan kawasan permukiman baru sering tak dibarengi sistem drainase yang memadai, sehingga limpasan air hujan tidak bisa tertampung dengan baik.

Salah satu langkah mitigasi yang mesti segera dilaksanakan, yakni dengan pengerukan sungai dan saluran air sebelum musim hujan tiba guna meningkatkan kapasitas aliran air. Yang tidak kalah pentingnya adalah koordinasi antarwilayah dalam pengelolaan daerah aliran sungai, utamanya sungai yang melintasi lebih satu kabupaten atau kota.

Pemerintah sudah seharusnya mampu menanggulangi banjir, dan sudah seharusnya tidak muncul kembali. Dengan kejadian bencana yang terjadi berulang kali seharus dicari akar masalahnya, karena ini semua bukan hanya sekadar problem teknis, tapi sistemis.

Sadarlah, kebijakan berparadigma kapitalistik menghantarkan pada konsep pembangunan yang abai pada kelestarian lingkungan dan keselamatan manusia, dengan mitigasi yang lemah, banjir tidak tercegah, dan rakyat pun hidup susah. Pelaksanaan pembangunan harusnya memiliki paradigma yang tepat, sehingga memudahkan kehidupan manusia, namun juga menjaga kelestarian alam.

Tentunya, Islam memberikan arahan pada negara bagaimana membangun negara dengan tepat, seperti bagaimana pengelolaan tata ruang kota yang aman, nyaman dan terhindar dari banjir. Karena dalam Islam, penguasa dengan posisinya sebagai raa’in, tentu saja akan terus mengurus rakyat dengan baik sehingga rakyat juga bisa hidup nyaman dan aman.

Penguasa juga akan menerapkan Islam sebagai asas konsep pembangunan dan melakukan mitigasi yang kuat untuk mencegah terjadinya bencana khususnya banjir. Semoga segera berdirinya negara berhukum Islam yang selalu memikirkan kesejahteraan rakyatnya.


Share this article via

55 Shares

0 Comment