| 398 Views

Minimnya Pendidikan Moral Dalam Sistem Pendidikan Sekuler

Oleh: Ummu Saibah
Penggiat literasi

Sungguh miris mendengar berita akhir-akhir ini, istilah kenakalan remaja tampaknya sudah tidak cocok lagi, karena  yang sekarang  terjadi sudah mencapai taraf  kejahatan remaja.

Bagaimana tidak, di Lampung Utara ditemukan seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sebuah gubuk dalam kondisi yang mengenaskan karena disekap selama 3 hari tanpa diberi makan, dan lebih sadisnya lagi ia juga diperkosa oleh 10  orang, yang 3 diantaranya berstatus pelajar. (Kompas.com 16/3/2024).

Tidak hanya itu, ada juga  perang sarung, yaitu tawuran 2 kelompok pemuda di bekasi yang juga melibatkan remaja sebagai pelakunya. Dan fatalnya tawuran tersebut memakan satu korban tewas.(CNN Indonesia 16/3/ 2024).

Fakta ini tentu saja memupuskan harapan kita terhadap generasi sebagai penerus bangsa. Apakah bisa menjadi bangsa yang besar apabila generasi penerusnya tidak bermoral?


Pendidikan sekuler Penyebab Rusaknya Moral Generasi

Banyaknya kasus kejahatan yang melibatkan remaja mengindikasikan bahwa kerusakan moral sedang menggerogoti generasi. Penyebabnya tentu saja terkait dengan bagaimana pendidikan dan keadaan lingkungan tempat mereka dibesarkan. Karena dua hal ini mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang.

Sesuai dengan sistem yang diterapkan negeri ini yaitu sistem kapitalisme, maka kurikulum pendidikannya pun berdasarkan sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan.

Padahal bagi umat Islam agama adalah sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan, karena berisi peraturan-peraturan yang harus diterapkan oleh setiap individu maupun negara sehingga kehidupan bisa berjalan selaras penuh dengan keberkahan.

Dalam kurikulum pendidikan sekulerisme  penanaman keimanan bukan prioritas. Sehingga terbentuklah individu-individu yang jauh dari agama. Hanya menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan. Ini tercermin dari perilaku mereka yang tidak terkontrol, anarkis, seenaknya sendiri dan merugikan dirinya maupun orang lain.

Ditunjang dengan pengaruh lingkungan tempat mereka dibesarkan, yang notabene adalah lingkungan yang tidak kondusif, sebagai efek dari penerapan sistem kapitalisme. Banyaknya tindak kejahatan, kemaksiatan dilegalkan, hiburan yang terkontaminasi oleh seks bebas dan tindak kekerasan, tingkat perekonomian yang rendah menyebabkan kemiskinan, dan kebebasan individu untuk melakukan apa saja menambah efek buruk perkembangan mentalitas remaja dan merusak moral mereka.

Tentu saja hal ini tidak akan terjadi dalam penerapan sistem Islam.


Sistem Islam melahirkan remaja yang bermoral

Islam bukan sekedar agama saja, tetapi juga merupakan sistem kehidupan. Yang darinya terpancar peraturan-peraturan untuk mengatur kehidupan, termasuk didalamnya pengaturan sektor pendidikan.

Didalam  sistem islam pendidikan memiliki kurikulum yang berlandaskan akidah islam. Menjadikan nilai-nilai keimanan sebagai prioritas utama dalam pembelajaran. Karena keimanan mampu membentuk self control, sehingga individu bergerak berdasarkan ketakwaannya kepada Allah Swt.

Poin lainnya adalah penanaman nilai akhlak dan adab. Sebagai pedoman dalam berinteraksi baik dengan dirinya sendiri, dengan orang tua, masyarakat, hewan dan alam sekitarnya. Sehingga mereka mampu berinteraksi dengan memperhatikan nilai cinta, kasih sayang, penghormatan, toleransi dan lain-lain.

Tidak hanya sebatas itu saja, pendidikan didalam islam juga dimulai dengan memperkenalkan  standar perbuatan yaitu halal haram, terpuji dan tercela, sehingga dengan bantuan akal bisa memilah mana perbuatan yang boleh dilakukan atau tidak, menggunakan sudut pandang Islam.

Sistem pembelajarannya pun  menggunakan metode yang diambil dari Al-Qur'an yaitu metode pembelajaran talkiyan fikriyan yang akan membimbing anak didik untuk memahami fakta disekitarnya, memiliki pengetahuan tentang hukum Syara' dan mampu menyelesaikan permasalahan kehidupan dengannya. Metode ini memiliki kelebihan yaitu menambah kemampuan berfikir, sehingga anak didik menjadi dewasa baik secara emosi maupun pemikirannya.

Terciptanya lingkungan yang kondusif sebagai efek dari penerapan sistem ekonomi Islam. Menjamin pemerataan kesejahteraan dalam sandang, pangan dan papan, pembangunan infrastruktur dan  harta, mengaktifkan fungsi keluarga dan masyarakat sebagai penunjang untuk mencetak remaja yang berkepribadian unggul dalam keimanan dan keilmuan.

Penerapan sistem islam secara kaffah dalam semua sektor kehidupan, terbukti mampu mencetak generasi hebat yang menguasai banyak bidang ilmu, menjadi peletak dasar keilmuan dan handal dalam perpolitikan.waallahua'alam bishowab.


Share this article via

144 Shares

0 Comment