| 437 Views
Mewujudkan Generasi berkepribadian Islam
Oleh : Ummu Faqih
Kota Banjar
Dikutip dari indonesia.com (16-03-2024), pemuda akhir-akhir ini seperti kehilangan jati diri dan tujuan. Maraknya pelajar dan anak dibawah umur menjadi pelaku beragam kejahatan mencerminkan rusaknya generasi. Pemuda dirawat dengan akidah sekuler, dipupuk dengan gaya hidup liberal, serta disirami dengan moderasi dan kehidupan yang kapitalistik, sehingga menjadi pemuda yang perusak, gemar kasiat, bahkan menjadi sampah peradaban.
Oleh karena itu agar remaja menyadari peranya tersebut, mereka harus dibangkitkan. Sehingga mereka menyadari bahwa dirinya adalah kunci keberhasilan dan kunci dalam membangun peradaban sebagai mana generasi terdahulu pada masa kejayaan islam. Remaja di masa Rosulullah saw, dan masa kejayaan Islam tersebut di antaranya adalah Usman bin Zaid 18 tahun (pemimpin pasukan terbesar dan terkuat pada masa itu), Sa'ad bin Abi Waqqash 17 tahun (Muslim pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah), Al-Arqam bin Abil Arqam 16 tahun (ia menjadikan Rumahnya sebagai markas dakwah Rasulullah ), Zubair bin Awwam 15 Tahun (Muslim yang pertama kali menghunuskan pedang dijalan Allah), Mummad al-fatih 22 Tahun (Menaklukkan Konstantinopel), Abdurahman an-Nashir 21 tahun ( Mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan Sains yang tiada duanya pada masa itu), Muhammd Al-Qasim 17 tahun ( menaklukkan India sebagai seorang jenderal Agung pada masanya).
Untuk menjadikan pemuda seperti apa ternyata membutuhkan peran kerjasama antara Ayah dan Ibu, seperti halnya Salahuddin Al Ayubi dalam menggapai visi agungnya. Mereka berusaha mencari pasangan yang mempunyai visi yang sama. Sebagaimana Firman Alloh berikut ini:
"Hai orang-orang yang beriman, perihalah dirimu dan kelurgamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjagaannya malaikat-malaikat yang kasar keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (At-tahrim:6).
Ibaratkan Negara adalah kebun, pemuda adalah bibitnya. Jika bibit tersebut mendapatkan perawatan yang baik, ia akan menghasilkan bibit unggul. Sebaliknya jika tidak terawat dengan baik, ia akan menghasilkan bibit yang tidak baik. Sejarah juga membuktikan figur seorang ibu yang hebat seperti Al-kansha dikenal sebagi ibu para mujahid, motivasi luar biasa yang ditanamkan ibu mereka sebelum perang, mereka bertempur gagah berani,keempat anak laki-lakinya syahid bersamaan.
Selain itu, kita juga dapat belajar dari sosok Khaizuran ibu Harun al-Rasyid rela mendampingi anaknya mencari ilmu ke Madinah, jauh dari keluarganya bahkan kehidupannya sebagai istri khalifah. Ibu sultan Muhammad al-fatih memdidik, mengajari geografi, memberikan motivasi, menanamkan keyakinan bahwa kelak ialah yang akan menaklukkan Konstantinopel. Ibu para imam Mazhab- Imam Malik, Imam syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, begitu pun perawi Hadist terbesar Imam Al-Bukhari. Ibu mereka rela mewakafkan anak-anaknya mereka untuk agama.
Inilah para Ibu teladan, mereka menanamkan fondasi agama yang kuat pada anak-anaknya sehingga mampu menjadi pemimpin, pejuang dan ulama terbaik pada zamannya. Islam juga mewajibkan Negara menjamin kesejahteraan seluruh Rakyat. Dengan dukungan penerapan Islam dalam berbagai sistem kehidupan, akan membentuk generasi berkepribadian Islam.