| 233 Views
Menyoal Fonemena 'Lonely in the Crowd''
ilustrasi-FOTO : Pinterest
Oleh : Ramilah
Fenomena 'Lonely in the Crowd' (merasa sepi di keramaian) kini marak dialami oleh masyarakat. Kok bisa? Hal ini ternyata dipicu akibat dari perkembangan media sosial bersamaan dengan kemajuan zaman di era digitalisasi. Kini kebanyakan orang-orang sibuk dengan gadgetnya, sehingga suasana di dunia nyata pun tampak berbeda dari sebelumnya. Kita dapat merasakan ketika orang-orang berada di suatu tempat yang sebenarnya ramai justru senyap tanpa adanya interaksi komunikasi. Keadaan ini yang lebih dominan adalah di perkotaan sedangkan di desa tidak begitu besar,namun tetap saja berpengaruh buruk bagi generasi Gen-Z saat ini.
Global Digital Reports dari Data Reports melaporkan sekitar 5,25 miliar orang yang aktif di media sosial diantaranya yang banyak digemari adalah akun seperti TikTok, Facebook dan Instagram. Dan uniknya keadaan ramainya terhubung di dunia maya ini tidak menghilangkan perasaan sepi.(detik.com, 18/9/2025). Fonemena ini akhirnya menarik perhatian Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melakukan riset berjudul "Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Kesepian di Tik Tok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual".
Vivin Anggela Prista Ketua tim riset, menjelaskan bahwa menurut teori hiperrealitas, representasi digital kerap dianggap lebih "nyata" daripada realitas itu sendiri sehingga emosi yang dibentuk media dapat mempengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang. Dalam riset hasil pengamatan awalnya juga menunjukkan banyak akun TikTok memproduksi ulang narasi kesepian dengan sentuhan estetik dan emosional, seperti kutipan tentang hubungan, kehilangan, dan keterasingan. (muslimah.news 29/9/2025).
Akun seperti Tik Tok, Facebook, dan Instragram memang dirancang bisa dimonetisasi. Sehingga mendorong orang-orang berekspresi untuk cari cuan dollar sesuai kebijakan Meta. Tapi hal ini bisa berdampak buruk bagi mereka yang belum faham tentang tujuan hidup. Mereka banyak menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar ponsel hanya untuk ngonten nonfaedah atau sekedar interaksi maya yang dianggap sebagai tempat hiburan dan juga berekspresi bebas tanpa batas, sekalipun ada aturan yang dibuat oleh pihak Meta. Dan ini membuat mereka kehilangan fitrahnya sebagai manusia.
Fitrahnya manusia itu beribadah tidak sekedar cari cuan semata. Istilahnya adalah "makan untuk hidup dan hidup untuk ibadah" bukan "hidup untuk makan dan makan untuk hidup lalu hidup untuk gaya". Kalau seperti ini maka habislah waktu yang berputar ini mengurusi urusan perut atau gaya hidup saja.
Faktanya, bagi generasi Gen-Z, masalah digitalisasi di sistem kufur kapitalisme ini memiliki pengaruh buruk yang besar. Mereka sibuk membuat konten nonfaedah ketimbang serius belajar. Bahkan semakin marak pula pelajar laki-laki 'ngonten' menyerupai wanita. Ini jelas menyalahi fitrah manusia. Tetapi faktanya justru konten yang seperti ini yang banyak disukai oleh warganet. Naudzubillahi min dzalik.
Aktivitas-aktivitas tersebut merupakan penyakit walaupun bukan bentuk penyakit klinis tapi dapat menyerang mental seseorang. Sehingga penting untuk disembuhkan guna terbentuknya generasi aktif inovatif yang positif. Dengan cara bergabung di suatu kelompok interaksi nyata seperti perkumpulan majelis taklim atau ilmu. Melakukan aktivitas belajar, mengajar, dan dakwah yang benar tentang kebenaran. Dalam Islam kebenaran itu adalah tentang fakta yang bisa diterima akal melalui maklumat yang benar sebelumnya berdasarkan sumber terpercaya yaitu Al-Qur'an dan hadits.
Islam memiliki aturan yang begitu sempurna yaitu syariat Islam yang langsung dari Sang Pencipta Allah SWT. Allah SWT memerintahkan kita untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah jangan sampai terperdaya oleh syetan yang menyesatkan (Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 208). Aturan Islam yang secara kaffah ini akan dapat diterapkan di dunia ketika Islam kembali berkuasa di muka bumi dengan metode khilafah yang dapat mengembalikan kehidupan Islam penuh kegemilangan. Maka ketika umat kembali kepada kehidupan Islam, hal semacam Lonely in the Crowd tidak akan terjadi karena umat akan terus mendapatkan pembinaan dan arahan yang positif.
Negara dalam sistem Islam tetap akan menggunakan media digital sebagai salah satu sumber informasi pengajaran dan hiburan yang positif berbentuk nilai-nilai budaya Islam dan menghapus semua bentuk budaya barat yang merusak. Negara juga akan membatasi hal-hal negatif yang merusak pemikiran umat.
Negara Islam atau Khilafah ini tidak datang begitu saja tanpa ada perjuangan di dalamnya. Sampai saat ini sejak runtuhnya Khilafah Islam di Turki Usmani pada 3 Maret 1924 para pejuang masih terus berupaya dari generasi ke generasi berikutnya tidak terputus karena Allah SWT sendiri yang menjaganya melalui orang-orang yang terpilih oleh-Nya untuk mengemban tugas dakwah ini.
Wallahu a'lam bishawab.