| 8 Views
Menjelang Lebaran 2026, Telur Mulai “Rewel” di Sejumlah Daerah: BPS Wanti-wanti Kenaikan, Minyakita Justru Turun
CendekiaPos - JAKARTA — Menjelang Lebaran, dapur rumah tangga biasanya jadi lebih sibuk. Telur mendadak jadi komoditas “wajib”: untuk lauk sahur, bahan kue, hingga stok makanan keluarga yang bersiap mudik. Karena itu, setiap ada tanda harga telur bergerak naik, pasar langsung memberi respons—dan pemerintah ikut waspada.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara nasional harga telur ayam ras mulai mengalami penurunan, namun di sejumlah daerah justru menunjukkan tren kenaikan yang perlu diantisipasi menjelang Idul Fitri 2026.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan rata-rata nasional harga telur ayam ras turun 0,85%menjadi Rp32.006 per kilogram pada minggu keempat Februari 2026. Meski turun, angka tersebut masih di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen yang dipatok Rp30.000 per kilogram.
“Saat ini yang perlu menjadi perhatian adalah semakin bertambah jumlah Kabupaten Kota yang mengalami kenaikan IPH telur ayam ras,” ujar Amalia dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Daerah-daerah dengan harga telur tinggi: Papua hingga Kepulauan Riau
BPS menyebut sejumlah wilayah yang mencatat harga telur cukup tinggi. Di antaranya:
-
Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan: Rp68.000/kg
-
Kabupaten Sarmi, Papua: Rp51.000/kg
-
Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku: Rp39.500/kg
-
Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau: Rp37.972/kg
Kondisi serupa juga terlihat di wilayah penyangga Jakarta. Bekasi misalnya, mencatat harga telur Rp31.278/kg, naik 4,87%, dan berada 4,26% di atas batas HAP.
“Beberapa Kabupaten Kota perlu mendapatkan perhatian untuk meningkatkan suplai telur ayam ras di kabupaten/kota masing-masing supaya nanti menjelang Lebaran bisa lebih terkendali,” kata Amalia.
Di balik angka-angka itu ada persoalan yang klasik menjelang hari besar: permintaan naik, distribusi menjadi sensitif, dan wilayah-wilayah yang secara geografis jauh cenderung lebih mudah “terkena” lonjakan biaya logistik.
Minyak goreng stabil, Minyakita malah turun
Di tengah perhatian pada telur, ada kabar yang sedikit menenangkan dari komoditas lain: minyak goreng. BPS mencatat harga minyak goreng relatif stabil dan bahkan cenderung menurun pada minggu keempat Februari 2026, terutama untuk minyak goreng kemasan rakyat Minyakita.
Secara nasional, rata-rata harga Minyakita tercatat Rp16.717/liter, turun 3,63% dibanding Januari yang sebesar Rp17.346/liter.
Namun Amalia mengingatkan, meski nasionalnya stabil, beberapa daerah tetap perlu mendapat perhatian karena lokasinya relatif jauh.
Daerah yang mendekati HET
BPS mencatat sejumlah wilayah dengan harga yang mendekati Harga Eceran Tertinggi (HET), seperti:
-
Jakarta Timur Rp15.988/liter
-
Sumenep Rp15.881/liter
-
Sidoarjo Rp15.803/liter
-
Rembang Rp15.785/liter
-
Purbalingga Rp15.783/liter
-
Tuban Rp15.772/liter
-
Kabupaten Bekasi Rp15.764/liter
BPS juga melaporkan Kota Batam mengalami kenaikan harga minyak goreng sebesar 2,73%. Selain itu, daerah seperti Kabupaten Deiyai, Kubu Raya, dan Banggai Laut masuk daftar wilayah yang perlu dipantau terkait pergerakan harga bahan pokok.
Telur jadi alarm, suplai jadi kunci
Menjelang Lebaran, harga bahan pokok memang seperti punya “musimnya” sendiri. Tahun ini, telur ayam ras menjadi salah satu alarm yang disorot BPS: secara nasional turun tipis, namun jumlah daerah yang mengalami kenaikan makin banyak—dan beberapa wilayah bahkan sudah jauh melampaui HAP.
Sementara itu, minyak goreng justru memberi kabar lebih baik dengan tren stabil dan Minyakita yang turun, meski sejumlah daerah tetap memerlukan pengawasan ketat.