| 126 Views

Menelisik Pangkal Kerusakan Keluarga Masyarakat dan Generasi Hari Ini

Ilustrasi tawuran. - Antara

Oleh: Ummu Aqilla
Aktivis Dakwah

Aksi tawuran di kalangan pelajar dan pemuda kian marak di berbagai daerah. Di Surabaya, hanya gara-gara sepak bola, puluhan pelajar di bawah umur saling kejar sambil membawa senjata tajam di Jalan Kedung Mangu pada Selasa (19-8-2025). Masih pada hari yang sama, di Cirebon terjadi tawuran antarkelompok remaja yang dipicu perang konten di media sosial, bahkan berujung tragis dengan tewasnya seorang pemuda berinisial KD (21 tahun).

Belum lagi seorang siswi SMP menjadi korban pemerkosaan bergilir yang dilakukan oleh 10 orang. Tiga di antaranya masih berstatus pelajar, tiga lainnya pria dewasa, dan empat pelaku pemerkosaan masih jadi buron. Di tempat berbeda, puluhan remaja terlibat tawuran “perang sarung”. Di Bekasi, perang sarung tersebut memakan satu korban jiwa. Seorang pelajar berusia 17 tahun meregang nyawa setelah tawuran antar kelompok geng remaja tersebut.

Ironisnya, tawuran “perang sarung” semacam ini seolah sudah membudaya di kalangan pelajar, khususnya ketika Ramadan tiba. Tahun lalu juga terjadi peristiwa serupa di berbagai wilayah. Terbaru, di Pangkalpinang, Kep. Bangka Belitung, “perang sarung” terjadi di tiga lokasi berbeda dalam semalam. Mengapa generasi kita menjadi seperti ini?

Faktor Penyebab

Tingkah para pelajar dan pemuda yang menyesakkan dada ini sejatinya lahir dari banyak faktor, seperti lemahnya kontrol diri, krisis identitas, rapuhnya peran keluarga, dan abainya negara dalam mengontrol media dan menyiapkan generasi.

Sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan serta mengambil HAM sebagai standar telah mencabut nilai-nilai agama dari para pelajar sehingga melahirkan generasi hedonistik, liberal, rapuh, serta niradab. Pendidikan hanya berfokus pada pencapaian nilai-nilai akademik di atas kertas, tetapi abai pada pembinaan kepribadian pelajar. Pelajaran agama yang sudah minim makin tidak berbekas ketika disampaikan sekadar sebagai bahan ajar agar bisa menjawab pertanyaan ketika ujian.

Akibatnya, para pelajar terjangkiti pola pikir materialistis dan gaya hidup liberal hingga menjadikan mereka mengalami krisis identitas serta kehilangan visi akhirat. Mereka tidak mengenal agamanya sehingga kehilangan arah dan jati dirinya sebagai hamba Allah, serta hanya mengejar kesenangan duniawi.

Kerusakan generasi juga dipicu oleh lemahnya fungsi keluarga. Para ibu yang semestinya menjadi pendidik pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri anak, terpaksa mencari nafkah. Akibatnya, tugas menanamkan akidah Islam sejak dini dan memberi bekal pemahaman Islam kepada anak agar ia terbiasa beramal dan berperilaku sesuai syariat Islam menjadi terabaikan.

hadanah (pengasuhan anak) bertujuan agar anak-anak terhindar dari kebinasaan. Artinya, seorang ibu berkewajiban dan berperan besar dalam tumbuh kembang anak.

Dikisahkan, seorang perempuan datang kepada Rasulullah saw., ia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini anakku, perutkulah yang menjadi tempat makanannya, susuku yang menjadi tempat minumnya, serta pangkuanku menjadi tempat bernaungnya. (Dan) sesungguhnya bapaknya telah menceraikanku dan hendak memisahkan anakku dariku.” Rasulullah saw. bersabda, “Engkaulah yang berhak mengasuhnya selama engkau belum menikah lagi.” (HR Abu Dawud).

Dari hadis di atas, sangat jelas bahwa yang lebih berhak dan wajib mengasuh anak adalah ibunya. Artinya, ketika seorang ibu melalaikannya, ia berdosa. Hal ini seiring dengan peran seorang ibu sebagai madrasatul ula.

Selan itu, negara membiarkan media sosial dengan berbagai konten rusak dan merusak beredar sehingga menjadi panutan para pemuda. Tawuran pun menjadi konten di medsos yang tidak jarang berlanjut di dunia nyata yang menimbulkan korban. Media hanya menonjolkan hiburan, sensasi, dan kekerasan daripada edukasi hingga menyeret pemuda pada gaya hidup hedonistik dan kekerasan.

Negara juga tidak serius membina generasi. Sistem pendidikan yang diterapkan justru merusak pemikiran generasi dan menjauhkan mereka dari agama. Potensi besar pemuda yang seharusnya menjadi motor kebangkitan umat pun akhirnya terbuang sia-sia karena pemuda hanya disiapkan menjadi tenaga kerja.

Kembalilah pada Sistem Islam

Dari aspek kecerdasan, sistem sekuler kapitalisme mungkin berhasil mencetak generasi cerdas dalam ilmu umum, seperti sains dan teknologi. Namun, sistem ini sejatinya telah gagal mencetak generasi berkepribadian mulia. Tengoklah betapa AS, Jepang, atau Korsel sukses menjadi negara maju dengan iptek yang mumpuni, tetapi mereka gagal membangun peradaban manusia. Lihat pula betapa megahnya infrastruktur negeri-negeri Islam, seperti Arab Saudi, UEA, dan lainnya, tetapi nilai-nilai syariat kian memudar dalam kehidupan masyarakatnya, malah tampak makin liberal. Semua itu akibat paham sekuler yang mengikis nilai-nilai Islam, sekalipun mayoritas penduduknya muslim.

Sistem Islam terbuktu sukses membangun manusia unggul dari aspek fikriah (pola pikir) dan nafsiah (pola sikap). Bukan hanya melahirkan sosok ilmuwan cerdas, tetapi juga memiliki kepribadian yang baik. Kecerdasan ilmu yang mereka miliki didedikasikan untuk kemaslahatan umat. Mereka gunakan ilmunya untuk menciptakan berbagai hal yang bermanfaat bagi rakyat dan negara.

Negara pun memberikan penghargaan yang begitu tinggi atas jerih payah ilmu dan temuan teknologi mereka kala itu. Itulah kehebatan Islam. Kecerdasan berbalut keimanan menghasilkan ilmu yang memberi manfaat bagi kehidupan. Kunci kegemilangan peradaban Islam saat itu adalah menjadikan Islam sebagai peta jalan menjalankan roda pemerintahan.

Sosok Rasulullah Muhammad saw. menjadi panutan (role model) peserta didik yang akan menjalankan fungsi sebagai hamba Allah sekaligus al-khalifah fil ‘ardh (wakil Allah di muka bumi). Ini sebagaimana firman Allah Swt.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ ٢١

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).

Keberadaan role model ini menjadi ciri pembeda pendidikan Islam dengan yang lain. Oleh karena itu, akidah Islam menjadi dasar pemikiran (fikrah) pendidikan Islam dan menjadi dasar metodologi penerapannya (thariqah).

Mewujudkan generasi unggul membutuhkan sistem yang mendukung. Tanpa sistem ini, segala upaya yang dilakukan akan menghambat lahirnya generasi berkualitas. Oleh karenanya, menyelamatkan dan melindungi generasi dari kerusakan hanya bisa dilakukan dengan penerapan sistem Islam secara kafah.


Share this article via

201 Shares

0 Comment