| 666 Views

Membangkitkan Umat Hanya Dapat Dilakukan Oleh Partai Politik Islam yang Shahih

Oleh : Ummu Ismail
 
Sejak runtuhnya Khilafah Islamiyyah hegemoni Barat di dunia Islam makin mencengkram segala aspek kehidupan. Pemikiran umat makin mundur dan teracuni pemikiran dan gaya hidup Barat yang senantiasa menjajakan kapitalisme sekulerisme demokrasi  di negeri-negeri muslim. Berbagai upaya untuk membangkitkan umat Islam senantiasa dilakukan  di berbagai negeri. Berbagai macam kelompok dakwah Islam dan parta politik Islam terus bermunculan dan berjuang untuk membangkitkan kembali umat Islam. Sayangnya perjuangan ini kerapkali dibajak oleh kapitalisme demokrasi. Umat Islam terus-menerus  terjebak kebangkitan semu yang ditawarkan oleh demokrasi hingga saat ini.
 
Cita-cita kebangkitan Islam & mampu mengusir penjajah Israel hanyalah mimpi semu yang tidak pernah mampu diwujudkan oleh sistem demokrasi hingga saat ini. Kemenangan dalam pemilu demokrasi  terbukti bukan jalan kebangkitan Islam. Sangat mudah dibajak dan menjadi bumerang yg makin menghancurkan umat Islam. 
 
Penyebab Kegagalan Partai Politik Islam Dalam Kebangkitan.
Di dalam kitab At Takattul Al-Hizbiy karangan Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dan juga kitab Syarh Ala Kitab At-Takattul Al-Hizbiy karangan Syeikh Muhammad Hawari, dijelaskan bahwa sejak abad ke-13 Hijriah atau 19 Masehi, telah berdiri berbagai partai politik Islam yang bertujuan untuk membangkitkan umat Islam. Usaha – usaha tersebut sejauh ini belum meraih keberhasilan, sekalipun meninggalkan pengaruh yang cukup berarti bagi generasi sesudahnya untuk mengulangi usaha itu sekali lagi. Pengamat berpendapat bahwa penyebab utama kegagalan seluruh usaha tersebut dapat digolongkan menjadi empat penyebab utama, yaitu :
 
Pertama, partai - partai tersebut berdiri di atas dasar fikrah (pemikiran) yang masih umum tanpa batasan yang jelas, sehingga muncul kekaburan (ghamidhah) atau kesamaran (syibh ghamidhah). Lebih dari itu, fikrah tersebut tidak cemerlang, tidak jernih dan tidak murni. 
 
Kedua, gerakan-gerakan tersebut tidak mengetahui thariqah (metode) bagi penerapan fikrahnya. Bahkan fikrahnya diterapkan dengan cara-cara yang menunjukkan ketidaksiapan gerakan tersebut dan penuh dengan kesimpangsiuran. Lebih dari itu, thariqah gerakan-gerakan tersebut diliputi kekaburan dan ketidakjelasan.
 
Ketiga, gerakan-gerakan tersebut bertumpu kepada orang-orang yang belum sepenuhnya mempunyai kesadaran yang benar, meskipun mereka berbekal keinginan dan semangat. 
 
Keempat, orang-orang yang menjalankan tugas partai tersebut tidak mempunyai ikatan yang benar. Ikatan yang ada hanyalah struktur organisasi, disertai dengan sejumlah deskripsi mengenai tugas-tugas organisasi dan sejumlah slogan-slogan organisasi. 
 
Partai Politik Islam Yang Sahih Yang Dapat Membangkitkan Umat.
Partai sahih yang harus diwujudkan adalah partai ideologis yang berasaskan Islam, artinya ide/pemikiran Islam adalah ruh bagi tubuh partai sekaligus intisari dan rahasia hidupnya. Partai tersebut juga harus terbebas dari kesalahan – kesalahan yang telah dibahas sebelumnya dan harus bersih dari kesalahan yang menjadi sebab kegagalan partai – partai yang telah dijelaskan sebelumnya.
 
Partai sahih akan menempuh tiga fase (marhalah) hingga ia berhasil menerapkan ideologinya di tengah – tengah Masyarakat:
1. Fase pengkajian dan pembelajaran untuk membentuk tsaqafah kepartaian, yakni untuk membentuk dan mempersiapkan sekelompok aktivis yang siap untuk berkorban.
2. Fase interaksi dengan masyarakat tempat ia hidup sehingga ideologinya menjadi opini umum yang lahir dari sebuah kesadaran dan seluruh kelompok menganggap ideologi partai sebagai ideologi mereka. Dengan begitu, mereka akan membela ideologi tersebut secara bersama – sama. Pada fase ini, mulai terjadi pertentangan, yakni umat dengan kaum penjajah, para penguasa, orang – orang zalim, dan orang – orang yang terbelunggu dengan tsaqafah asing yang terus berusaha agar ideologi ini tidak diterapkan di tengah – tengah kehidupan. Sebab, umat telah menganggap ideologi partai sebagai ideologi mereka sekaligus memandang partai sebagai pemimpin mereka. Dengan kata lain, pada fase ini, partai berusaha agar masyarakat meyakini ideologinya sekaligus menjadikan partai sebagai pemimpin mereka.
3. Penyerahan kekuasaan secara menyeluruh melalui dukungan umat hingga partai tersebut menjadikan pemerintahan sebagai jalan untuk menerapkan ideologinya di tengah – tengah masyarakat. Dari fase ini partai mulai melakukan aspek – aspek praktis dalam medan kehidupan. Akan tetapi, partai tetap mendakwahkan ideologinya sebagai aktivitas pokok negara dan partai. Sebab, ideologi adalah risalah yang harus diemban oleh negara dan umat.
 
Membangkitkan umat dengan metode dakwah sesuai contoh Rasulullah SAW.
Dakwah Islam adalah dakwah menyeru pada kebenaran. Dakwah, secara bahasa, berasal dari kata da’a-yad’u yang berarti ‘mengajak, menyeru, dan mengundang’. Adapun secara istilah, dakwah adalah mengajak atau menyeru manusia untuk menuju jalan kebaikan dan mencegah dari kemungkaran atau biasa kita sebut aktivitas amar makruf nahi mungkar. Allah Swt. berfirman,
 
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104).
 
 
Dakwah Rasulullah SAW, Rujukan Kaum Muslim
Rasulullah SAW adalah contoh terbaik bagi umat Islam dalam segala hal, termasuk dalam aktivitas dakwah. Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Ahzab: 21,
 
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut Allah.”
 
Setidaknya ada empat hal yang bisa kita petik dari perjalanan dakwah Rasulullah SAW.
 
Pertama, serius dan tidak bermanis muka.
Kedua, melalui jalur umat, membina umat dengan Islam.
Ketiga, tanpa kekerasan, menanamkan dakwah pemikiran.
Keempat, berjamaah, yaitu membentuk kelompok dakwah.
 
Dakwah Kompromi Bukanlah Dakwah yang Dicontohkan Rasulullah SAW
Setelah kita memahami tentang dakwah Rasulullah SAW, jelaslah bahwa “dakwah kompromi” bukanlah dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dakwah kompromi lebih banyak menyesuaikan dengan kondisi masyarakat agar mudah diterima oleh masyarakat, sedangkan dakwah Rasulullah SAW tidaklah demikian. 
 
Dakwah Rasulullah SAW adalah menyampaikan kebenaran Islam tanpa memperhatikan sesuai atau tidaknya dengan keinginan masyarakat. Seluruhnya mengikuti segala yang diwahyukan Allah Taala tanpa terkecuali, hanya saja dengan berbagai uslub dakwah.
Fakta tidak terbantahkan bahwa dalam dakwahnya, Rasulullah SAW menyampaikan kebenaran ajaran Islam beserta sistemnya yang layak menjadi aturan hidup manusia, serta membongkar kedok para pemimpin jahiliah. Sebagai reaksi atas pertarungan pemikiran yang dilancarkan Rasulullah SAW bersama para sahabat, Arab Quraisy tidak tinggal diam. Mereka balik melakukan penghinaan, pelecehan, dan serangan fisik berupa pemukulan, penyiksaan, bahkan upaya pembunuhan kepada Rasulullah SAW dan pengikutnya. Mereka melakukan pencitraburukan terhadap kelompok dakwah dan pembunuhan karakter terhadap pribadi Rasulullah SAW selaku pemimpin kelompok dakwah. Namun, Rasulullah SAW bergeming, tetap menjalankan dakwah sesuai perintah Allah Taala, menyampaikan kebenaran ajaran Islam ke tengah umat manusia tanpa menyesuaikan dengan keinginan kafir Quraisy. Ini semua adalah risiko dakwah. Sebagai umat Rasulullah SAW, tentu kita harus mengikuti langkah dakwah yang dicontohkannya tanpa harus bermanis muka kepada siapa pun, termasuk penguasa.
 
Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR Tirmidzi no. 2260. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini hasan).
 
Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya di belakang kalian akan ada hari-hari kesabaran (ayyamush-shabr). Kesabaran pada hari-hari tersebut laksana memegang bara api. Orang yang beramal (dengan Sunah) pada hari-hari tersebut (mendapat pahala) sebanding dengan pahala 50 orang yang beramal seperti amal kalian.” Ada sahabat yang bertanya, “Wahai Rasulullah, pahala 50 orang dari kami (sahabat) ataukah 50 orang dari mereka?” Rasulullah menjawab, “Bahkan 50 orang dari kalian (sahabat).” (HR At-Tirmidzi).
 
Wallahu a’lam bissawab.

Share this article via

113 Shares

0 Comment