| 21 Views

Memanfaatkan Air Demi Peruntungan

Ilustrasi Sumber Mata Air. Foto/iStock

Oleh : Sumarini

Tanah air ku Indonesia.... 
Negeri elok sangat ku cinta... 
Tanah tumpah darahku yang mulya.. 
Yang ku puja sepanjang masa.... 
Demikian kutipan lagu yang menggambarkan betapa negeri ini begitu dielu-elukan sebab keindahan panorama nya dan juga kekayaan alam nya dengan berbagai macam ragam dari mulai lautan yang terbentang luas hingga daratan yang juga luas membentang. 

Sayangnya ada segelintir orang yang memanfaatkan kesempatan dalam rangka menguasai sumberdaya alam ini hingga mengambil hak hak milik orang banyak, mengelolanya atas nama perusahaan dan diberi kemudahan oleh pemerintah dan mereka pun berbagi atas keuntungan yang didapat dengan mengabaikan rakyat untuk ikut didalam nya. Dan imbasnya rakyat tak mendapatkan hak mereka, dan ketika mereka butuh dengan terpaksa mereka harus membeli. 

Inspeksi mendadak (sidak) Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ke pabrik PT Tirta Investama (Aqua) di Subang baru-baru ini menyita perhatian publik. Dari kunjungan itu terungkap bahwa air yang selama ini diklaim berasal dari pegunungan ternyata diambil dari sumur bor【Media Indonesia, 25/10/2025】.

Saat ini air tengah marak diperebutkan oleh perusahaan2 yang mengelola air minum, menguasai berbagai wilayah yang disana terdapat sumber mata air bahkan demi untuk mendapatkan air tanah dalam dengan cara membuat sumur bor. Sungguh ketamakan telah membuat mereka melakukan berbagai cara, hingga tercapai tujuan utama mereka apalagi kalau bukan keuntungan yang akan menjadi kan mereka ada bersama kekuasaan. 

Dampak dari apa yang telah mereka perbuat tentu imbasnya adalah kerusakan alam dan lingkungan. Pencemaran dan kerusakan ekologis akibat dari berlebihan dalam memanfaatkan air tanah secara besar-besaran. Dari segala segi negeri ini memang sudah rusak. Tanah air ku sudah kehilangan keasrian nya, dimanfaatkan sebesar-besarnya hanya untuk keuntungan sekelompok orang saja. 

Konsekwensi dari segala perbuatan merusak alam tentunya akan terjadi. Pengambilan akuifer dalam berisiko pada penurunan muka air tanah. Hilang nya mata air disekitar menyebabkan terjadinya ambles nya tanah. Dan ini sudah sering terjadi. Namun begitu tidak menjadi perhatian pemerintah maupun para oknum pelaku yang telah berpartisipasi dalam rangka melakukan perbuatan yang imbasnya telah melukai alam. Praktek bisnis yang dilakukan oleh para oknum ala kapitalis memang meniscayakan bentuk-bentuk manipulasi akan produk demi meraih keuntungan semata. Tanpa perduli dengan imbas yang ditinggalkan oleh kelakuan mereka. 

Lemahnya regulasi batas dalam penggunaan sumberdaya alam di sistem ini juga menambah daftar panjang adanya praktik2 lliar yang membuat rakyat makin kesulitan dalam mendapatkan air. Sungguh miris negara yang berlimpah air namun justru sulit untuk mendapatkan air, semua akses air telah dikuasai oleh pabrik pabrik pengolahan minuman, dan pada akhirnya justru untuk mendapatkan air dinegri nya sendiri rakyat mesti membelinya. 

Bahkan Dewan Perwakilan yang dipercaya dalam menangani masalah air sekalipun yaitu (DSDAN) Dewan Sumber Daya Air Nasional Dibawah kementrian PUPR (pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) juga belum mampu menghentikan praktek kapitalisasi air yang semakin kompleks permasalahan nya. Ujung-ujungnya persoalan akan air sama dengan persoalan2 yang lain yang akan mangkrak penanganan nya, alias sengaja dibiarkan. Selama keuntungan masih mengalir semua akan dimanfaatkan selagi rakyat masih bisa diberi janj'i palsu dalam penanganan masalah air apa salahnya kapitalisasi air terus dijalan kan. 

Menyadari kesalahan adalah ketika kita kembali kan permasalahan ini kedalam IsIam, Sampai kapanpun sistem ini tak akan mampu untuk mengajarkan kita tentang arti kejujuran dan amanah terhadap apa yang seharusnya kita diberikan amanah Oleh Allah sebagai pencipta. Dan penguasa Hari ini tidak pernah sadar akan itu. Air didalam Islam tidak boleh dimiliki oleh segelintir orang secara individu maupun kelompok (korporasi) 

Sumber daya alam dikelola oleh negara dan sebaik-baiknya dikembalikan kepada umat untuk kesejahteraan hidup mereka, sebenar benarnya untuk kemakmuran rakyat. Bukan seperti hari ini mengambil dan mengelola sumber daya alam namun dinikmati sendiri bersama sekelompok orang yang bekerja sama dalam rangka menguasai nya. 

Islam juga sangat menjunjung tinggi kejujuran dalam bertransaksi didalam menjalankan bisnisnya. Mengedepankan kejujuran adalah kunci keberhasilan yang itu hadir dengan sendirinya sebab ber aqidah kan islam secara benar. 

Alam akan terjaga kelestarian nya tidak ada dampak yang menimbulkan kerusakan ketika islam dalam rangka memperketat regulasi terkait pengelolaan sumber daya alam. Benar benar ketika melakukan kegiatan apapun Islam selalu berhati-hati, menjaga yang lain dari kerusakan. Bukan seperti hari ini apapun itu terbiasa harus ada menimbulkan dampak negatif selain hanya dampak positifnya. 

Wallahu a'lam bishawab


Share this article via

30 Shares

0 Comment