| 135 Views
MBG : Antara Polemik dan Terwujudnya Generasi Emas
ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin/nz
Oleh : Syaibah S.Pd.I.
Pegiat Literasi
Indonesia yang digadang-gadang pemerintah akan menuju generasi emas ternyata tak sesuai realita yang ada. Hal ini bisa dilihat dari berbagai kebijakan yang terkait pencerdasaan anak bangsa selalu tak tepat sasaran.
Sebagaimana kebijakan Makanan Bergizi Gratis (MBG), diharapkan mampu meningkatkan kualitas peserta didik ternyata di lapangan anggarannya banyak dipangkas hingga menyebabkan kualitas makanannya tak memenuhi standar gizi bahkan tak layak konsumsi karena basi yang memicu keracunan massal.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), selaku organisasi pemerhati pendidikan menemukan setidaknya ada lebih dari lima ribu anak mengalami keracunan pasca konsumsi MBG hingga September 2025 (CNNIndonesia, 19-9-2025).
Berdasarkan data JPPI, kasus keracunan mengalami peningkatan tiap pekannya, baik dari sisi kwantitas maupun sebaran lokasi, fakta dilapangan bisa jadi lebih besar lagi jumlahnya, karena ada indikasi sekolah, pemda, atau aparat yang menutupi informasi tersebut.
Lebih mirisnya lagi, adanya temuan baru bahwa ompreng untuk MBG itu mengandung pelumas minyak babi. Sudahlah makanan minim gizi dan tak layak konsumsi ditambah mengandung unsur tak halal pula, lantas bagaimana generasi ini akan tumbuh sehat, cerdas, berkualitas dan diberkahi kalau makanannya saja tak bergizi, basi dan tak halal?
Kasus MBG ini adalah bukti kebijakan yang dipaksakan dan minim perencanaan yang matang. Di tambah kinerja dilapangan yang tak sesuai dengan yang diharapkan. Di sisi lain, profesi guru yang mendidik generasi bangsa tidak dihargai dan cenderung di kriminalisasi. Kalau sudah begini bagaimana mungkin tujuan pendidikan akan terwujud.
Guru yang sejatinya tugas utamanya mendidik dan mencerdaskan generasi, namun kompensasi yang diberikan oleh negara sangat tidak manusiawi hingga guru harus mencari tambahan penghasilan demi mempertahankan dapur agar tetap ngebul.
Imbasnya, out put pendidikan tidak sesuai dengan harapan dan kian menambah daftar beban bagi negara karena tak siap menghadapi persaingan di dunia kerja. Hal ini diperparah lagi karena negara pun tidak menyediakan lapangan kerja sehingga jumlah pengangguran pun kian tak terbendung.
Menjamurnya kasus pornoaksi dan pornografi yang melibatkan generasi muda, kasus kriminal yang melibatkan anak di bawah umur, pergaualan bebas yang kian buas, dan tak sedikit dari kasus itu dipicu oleh tontonan sampah yang merusak dan menjerumuskan anak bangsa kelubang kehancuran. Belum lagi tayangan tak senonoh dan game berbau kekerasan seolah menjadi hal biasa. Akibatnya, anak yang harusnya masih menikmati masa bermain sudah menjadi pelaku kriminal.
Dengan sederetan fakta yang ada, mampukah Indonesia mengantarkan generasi mudanya menjadi generasi emas? atau malah mengantarkan pada generasi cemas dan tak waras!
Mewujudkan generasi emas bukanlah perkara yang mudah, butuh pada keseriusan berpikir, kerja keras dan ditopang sebuah sistem yang paripurna. Berharap pada sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan merupakan hal mustahil yang tidak akan mungkin terwujud.
Kemajuan yang nampak di negara-negara yang menerapkan sistem sekuler adalah kemajuan semu bak fatamorgana. Mereka maju dari segi ekonomi maupun tekhnologi tetapi rapuh tatanan masyarakatnya termasuk generasi mudanya. Tingkat stres dan bunuh diri sangat tinggi. Apakah kemajuan seperti itu yang bisa membawa pada generasi emas?
Islam adalah agama sekaligus pandangan hidup yang memiliki seperangkat aturan yang mengatur sistem kehidupan agar manusia hidup dalam kemulian. Islam memiliki solusi atas setiap persoalan hidup yang mampu mengantarkan manusia pada tingkat kemajuan dan kesejahteraan hidup termasuk mengelola generasi muda untuk mewujudkan generasi emas.
Pada tahun 2025, Indonesia memiliki jumlah penduduk usia produktif sekitar 199,28 juta jiwa (usia 15-64 tahun) dari total populasi sekitar 286,69 juta jiwa. Angka ini setara dengan 69,51% dari total penduduk Indonesia. jika generasi muda ini dikelola dengan Sistem yang benar maka akan menjadi sebuah kekuatan besar yang mampu membawa pada peradaban Gilang gemilang.
Sistem pendidikan Islam didesain tidak hanya mencetak generasi cerdas semata namun di dibekali dengan skill yang memadai sehingga out put pendidikan adalah generasi muda yang berakhlak mulia, cerdas pemikiran dan memiliki skill yang mumpuni. Generasi muda seperti inilah yang akan mengantarkan sebuah negara pada peradaban mulia. Dan sistem pendidikan seperti ini hanya ada dalam sistem Islam yakni Khilafah.
Khilafah akan menerapkan aturan Islam secara komprehensip, mulai dari sistem pendidikan, ekonomi, politik, kesehatan hingga sistem pergaulan. Dan khilafah akan mengelola bonus demografi yang dimiliki Indonesia di tahun 2045 nanti, menjadi generasi yang berkualitas, produktif dan unggul sehingga mampu membawa perubahan besar untuk mewujudkan generasi emas.
Kalau bukan dengan Islam, maka generasi muda hanya akan jadi beban negara. Kalau bukan dengan Islam, Indonesia bisa menuju generasi cemas. Olehnya itu Islam adalah satu satunya solusi untuk mewujudkan Indonesia menuju generasi emas.
Wallahu'alam bishawab.