| 77 Views
Martabat Guru Terjaga, Hanya Dengan Menerapkan Sistem Pendidikan Islam
Oleh : Siti Rofiqoh
Pendidikan adalah sebuah sarana belajar dan tempat pembentukan karakter, atau disebut juga proses mengupgrade diri menjadi lebih baik dan menjadi manusia yang mampu berfikir tentang baik dan buruk.
Peristiwa memprihatinkan kembali mencoreng dunia pendidikan. Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa menunjukkan sikap tidak pantas terhadap seorang guru di dalam ruang kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok yang seharusnya dihormati.
Sekolah sudah memberikan skorsing selama 19 hari. Namun, Dedi M menilai sanksi tersebut belum tentu menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. Ia mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif dan berdampak langsung pada perubahan perilaku.
Dedi menekankan, setiap bentuk hukuman dalam dunia pendidikan harus memiliki tujuan utama, yakni membentuk karakter, bukan sekadar memberi efek jera.
"Prinsip dasar setiap hukuman yang diberikan harus memberikan manfaat dalam pembentukan karakter bagaimanapun itu adalah anak yang perlu dibimbing oleh orang tua dan gurunya," pungkasnya. (detik.com 18/04/2026)
Dari kasus di atas, terkait pelecehan guru yang terjadi di Purwakarta menjadi cerminan krisis moral yang diakibatkan dari penerapan sistem pendidikan sekuler liberal yang mengabaikan adab kepada guru.
Pendidikan yang seharusnya melahirkan kepribadian Islami kepada murid, yang akan membentuk karakter dan akhlak. Hari ini justru, sangat memperihatikan. Mirisnya pendidikan saat ini banyak melahirkan generasi yang rusak moral dan akhlaknya, yang dipengaruhi dari banyak faktor, yang salah satunya pengaruh yang besar dari dunia digital.
Seringkali tindakan tersebut dilakukan demi konten atau pengakuan di media sosial. Siswa lebih mementingkan viralitas dan keren-keranan di mata teman sebaya daripada menjaga martabat guru.
Hal ini merupakan salah satu dampak negatif yang ditimbulkan dari dunia digital. Penggunaan media sosial yang bebas tanpa filter, sehingga banyak anak yang lebih mementingkan gimmick di sosial media tanpa memperdulikan apakah itu baik atau buruk.
Kejadian ini sebagai bukti wibawa seorang guru dilemahkan oleh sistem hari ini, semakin banyak siswa yang berani secara terang-terangan melakukan pelecehan terhadap guru hingga melawan guru. Hal ini dikarenakan mereka merasa dilindungi oleh hukum, sehingga mereka bisa berbuat sesuka hatinya terhadap guru. Bahkan mereka bisa melaporkan tindakan seorang guru kepada pihak yang berwajib.
Hal inilah yang membuat wibawanya seorang guru melemah di hadapan muridnya. Sehingga muncullah keberanian murid dan hilangnya rasa hormat kepada guru.
Memang betul, saat ini Pemerintah sangat menggaungkan "profil pelajar pancasila". Tapi dengan kemunculan kasus pelecehan terhadap guru ini membuktikan bahwasanya " Profil pelajar pancasila " Baru sebatas formalitas administratif di atas kertas.
Dari peristiwa diatas, terkait dunia pendidikan, seharusnya kurikulum yang dipakai haruslah kurikulum yang dibangun berlandaskan Aqidah Islam. Agar generasi yang terbentuk adalah generasi yang memiliki kepribadian Islam (Syakhsiyyah Islamiyyah) yaitu pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat Islam.
Di samping itu, peran negara juga harus ikut andil dalam menyaring konten digital yang merusak moral, seperti tayangan yang mencontohkan pembangkangan, pelecehan atau kekerasan. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh negara bukan individu atau kelompok.
Dalam pemberian efek Jera, penerapan sistem sanksi Islam yang berfungsi sebagai penebus (Jawabir) dosa bagi pelaku dan pencegah (zawajir) bagi orang lain agar tidak melakukan hal serupa. Sanksi ini harus memberikan Efek jera yang nyata namun tetap adil sesuai syariat.
Hanya dengan penerapan sistem pendidikan Islam. Para guru diposisikan sebagai sosok mulia yang mendapatkan penghargaan tinggi dan penghidupan yang sangat layak dari negara, sehingga Wibawa mereka terjaga di mata murid dan juga masyarakat.
Jadi tidak ada cara lain untuk mengembalikan kehormatan dan menjaga kewibawaan seorang guru di mata murid dan masyarakat, kecuali dengan penerapan syariat islam dalam setiap aspek kehidupan termasuk pendidikan.
Wallahu'alam