| 71 Views

Maraknya Perundungan Disistem Kapitalis Sekuler

Oleh: Ummu Aqilla
Aktivis Dakwah

Perundungan kini tengah melanda generasi dan seolah menjadi hal lumrah. Berawal dari candaan antarteman, berakhir pada body shaming. Bagi korban bullying, ucapan semacam itu menjadi luka yang tak tampak, namun dapat mendorong tindakan nekat.

Salah satu contoh dampak bullying adalah kasus seorang santri di Aceh Besar yang ditetapkan sebagai tersangka pembakaran asrama pondok pesantren tempat ia belajar. Santri tersebut diduga melakukan aksi itu karena sakit hati setelah kerap menjadi korban bullying. Proses hukum telah naik ke tahap penyidikan sejak 31 Oktober. Meski tidak ada korban jiwa, kerugian mencapai Rp2 miliar.

Di tempat berbeda, kasus serupa terjadi di Jakarta. Seorang siswa SMA Negeri 72 diduga melakukan ledakan di sekolah setelah mengalami trauma mendalam akibat bullying yang berlangsung terus-menerus. (cnnindonesia.com, 7/11/2025)

Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) juga menunjukkan bahwa kasus kekerasan di lembaga pendidikan meningkat drastis dari 285 kasus pada tahun 2023 menjadi 573 kasus pada tahun 2024. (detik.com, 27/12/2024)

Bahaya perundungan semakin terlihat dari banyaknya kasus di mana korban memilih jalan nekat, bahkan berupaya mengakhiri hidup. Ironisnya, bullying sering terjadi di area sekolah—tempat yang seharusnya aman dan berada dalam pengawasan.

Potret buram dunia pendidikan ini tampak jelas karena perundungan terjadi hampir di semua jenjang pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Ibarat api dalam sekam, masalah ini akan sangat berbahaya jika tidak segera ditangani dengan benar. Bullying tidak hanya berupa kekerasan fisik atau verbal, tetapi juga pengucilan sosial dan tekanan mental yang sulit dibuktikan, namun tetap meninggalkan dampak besar bagi korban.

Perundungan tentu tidak terjadi begitu saja. Akar permasalahannya terletak pada sistem kehidupan kapitalisme sekuler beserta turunannya. Sistem ini melahirkan generasi yang lemah akidah, rendah budi pekerti, serta jauh dari rasa belas kasih. Generasi tumbuh dalam kungkungan sistem sekuler yang memengaruhi pola pikir dan perilaku mereka, sehingga tidak mengherankan bila pelaku maupun korban bullying dapat bertindak kejam.

Maraknya kasus ini menunjukkan kegagalan sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang hanya berfokus pada materi, sehingga tidak mampu membentuk kepribadian beriman dan bertakwa. Pendidikan sejatinya bertujuan membentuk kepribadian yang luhur—dalam Islam disebut kepribadian Islam.

Dalam Islam, pendidikan dilakukan secara komprehensif dengan dasar akidah Islam melalui pembinaan intensif. Prosesnya membentuk pola pikir dan pola sikap islami. Tidak hanya fokus pada nilai materi, tetapi juga aspek maknawi dan ruhiyah. Dengan kurikulum berlandaskan akidah Islam dan adab sebagai fondasi, terbentuklah jiwa anak yang saleh dan terhindar dari kejahatan, termasuk bullying dan perilaku zalim lainnya. Terputusnya rantai bullying akan mencegah munculnya kejahatan lanjutan, seperti balas dendam dan amarah destruktif.

Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Ali ‘Imran ayat 110: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah.”

Karena itu, generasi emas hanya akan terwujud melalui penerapan Islam kaffah dalam naungan Khilafah, sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh generasi-generasi Islam terdahulu sejak masa Rasulullah saw. hingga Daulah Utsmaniyah.

Wallahualam bissawab.


Share this article via

69 Shares

0 Comment