| 20 Views

Malapetaka Remaja: Remaja SMP Kecanduan Narkoba

Oleh: Maryam Sakinah

Surabaya kembali digemparkan dengan temuan yang mencengangkan sekaligus memprihatinkan. Sebanyak 15 anak SMP di kawasan Jalan Kunti dinyatakan positif mengonsumsi narkoba menurut data BNNP Jawa Timur. Bukan sekadar angka statistik, ini adalah 15 masa depan yang terancam, 15 keluarga yang hancur hatinya, dan 15 bukti nyata bahwa negeri ini sedang darurat narkoba di kalangan generasi muda.

Yang lebih mengkhawatirkan, Jalan Kunti kini dijuluki sebagai “Kampung Narkoba” di Surabaya. Di sana, berjajar bedeng-bedeng kecil terbuat dari kayu beratapkan terpal yang menjadi sarang transaksi narkoba dan pesta sabu. Tempat yang seharusnya menjadi hunian warga malah berubah menjadi arena kejahatan yang mengancam masa depan anak-anak kita.

Akar Masalah

Pertanyaan besarnya adalah mengapa remaja yang seharusnya tengah menikmati masa-masa indah belajar dan bermain justru terjerat dalam lingkaran setan narkoba?

Jawabannya tak sesederhana yang kita bayangkan. Remaja saat ini mengalami krisis nilai. Mereka kehilangan pegangan keimanan yang kokoh dan tidak menemukan kebahagiaan hakiki dalam hidup mereka. Kekosongan spiritual ini menjadi celah yang dimanfaatkan oleh bisnis haram narkoba. Ketika jiwa kosong dari dzikrullah, godaan untuk mencari pelarian melalui cara-cara instan seperti narkoba menjadi sangat menggoda.

Namun, krisis nilai ini tidak muncul dalam ruang hampa. Sistem kapitalisme yang kita anut hari ini telah menciptakan paradigma kebebasan berperilaku tanpa batas. Dalam sistem ini, kebebasan individu diagungkan setinggi-tingginya dengan dalih HAM dan hak asasi pribadi. Setiap orang bebas melakukan apa saja selama dianggap tidak merugikan orang lain—including mengonsumsi narkoba yang dianggap sebagai “pilihan personal.”

Kapitalisme juga menjadikan materi sebagai standar utama kesuksesan dan kebahagiaan. Generasi muda dibombardir dengan gaya hidup hedonis melalui media sosial dan industri hiburan. Ketika mereka gagal meraih standar materialistis itu, atau bahkan ketika berhasil namun tetap merasakan kekosongan, narkoba menjadi pelarian. Sistem ini memisahkan kehidupan dari nilai-nilai agama, menempatkan agama hanya sebagai urusan pribadi yang tak boleh mengatur kehidupan publik dan perilaku sosial.

Lebih parah lagi, dalam logika kapitalisme, narkoba adalah komoditas yang menguntungkan. Bisnis haram ini menghasilkan triliunan rupiah. Tidak heran peredarannya begitu masif dan sistemik karena ada kepentingan ekonomi besar di baliknya. Negara yang seharusnya melindungi rakyat justru lemah dalam pengawasan karena terjebak dalam paradigma ekonomi liberal yang minim intervensi.

Fakta bahwa peredaran narkoba bisa begitu sistemik dan merajalela—seperti di Kampung Narkoba Jalan Kunti—adalah bukti nyata lemahnya pengawasan negara dan masyarakat. Kampung narkoba bukanlah fenomena yang muncul dalam semalam. Ini adalah hasil dari pembiaran bertahun-tahun, dari absennya penegakan hukum yang tegas, dan dari tidak berjalannya sistem pengawasan sosial di masyarakat yang telah tercerabut dari akar nilai-nilai agamanya.

Jika dibiarkan terus seperti ini, kampung narkoba dan sejenisnya akan menjadi malapetaka bagi remaja. Bukan hanya 15 anak, tetapi bisa ratusan, bahkan ribuan generasi penerus bangsa yang akan tercerabut dari akar kehidupannya.

Saatnya Bergerak, Bukan Bergeming

Masalah sebesar ini membutuhkan solusi yang komprehensif dan tegas. Tidak cukup hanya dengan razia sesaat atau himbauan tanpa tindak lanjut.

Pertama, penguatan nilai keimanan dan kebahagiaan hakiki harus menjadi prioritas utama dalam keluarga dan dunia pendidikan. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 28: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Inilah obat paling mujarab untuk kekosongan spiritual yang dialami remaja. Orang tua tidak boleh hanya fokus pada nilai rapor atau prestasi akademik semata. Pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai spiritual, dan pemahaman tentang makna hidup yang sesungguhnya jauh lebih penting. Sekolah pun harus mengintegrasikan pendidikan karakter yang tidak sekadar formalitas, tetapi benar-benar menyentuh hati dan jiwa para siswa.

Kedua, negara wajib menjalankan fungsinya melindungi remaja dari bahaya narkoba dan segala hal yang membahayakan generasi. Ini bukan pilihan, ini adalah kewajiban. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 59: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” Ayat ini mengisyaratkan bahwa pemimpin memiliki tanggung jawab besar untuk menegakkan keadilan dan melindungi rakyatnya—bukan membiarkan kemungkaran merajalela atas nama kebebasan liberal.

Penegakan hukum harus dilakukan dengan tegas tanpa pandang bulu. Kampung narkoba harus diberantas tuntas, bukan sekadar digerebek lalu dibiarkan beroperasi kembali. Bandar dan pengedar harus dihukum seberat-beratnya. Pengawasan kawasan rawan narkoba harus diperketat dengan melibatkan semua elemen: polisi, TNI, RT/RW, tokoh masyarakat, hingga relawan anti-narkoba.

Ketiga, kemungkaran tidak boleh dibiarkan merajalela. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaannya). Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Ini prinsip dasar yang harus dipegang teguh oleh seluruh masyarakat. Ketika kita tahu ada tempat yang menjadi sarang kejahatan, diam adalah dosa. Ketika kita melihat anak tetangga mulai berperilaku aneh, tutup mata adalah pengkhianatan. Allah SWT juga mengingatkan dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Perubahan dimulai dari diri kita sendiri, dari keluarga kita, dari lingkungan terdekat kita. Amar ma'ruf nahi munkar bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi praktik nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

Memulihkan generasi dari cengkeraman narkoba bukan perkara mudah. Butuh kerja keras, butuh kesabaran, dan butuh konsistensi dari semua pihak. Namun, tidak ada pilihan lain. Ini tentang masa depan bangsa, tentang nasib anak-anak kita, tentang apakah kita akan mewariskan peradaban yang mulia atau kehancuran yang tragis.

Malapetaka bisa dicegah jika kita semua bergerak sekarang. Sebelum terlambat. Sebelum lebih banyak lagi anak-anak yang hilang dalam kegelapan narkoba.

Wallahu'alam bisshawab.


Share this article via

17 Shares

0 Comment