| 309 Views
Lonely in the Crowd, Fenomena Kesepian Dalam Sistem Sekuler Liberal
Oleh : Yeni Ummu Alvin
Aktivis Muslimah
Gegap gempita dan hiruk pikuk kehidupan dunia maya, ternyata tidak sebanding dengan kehidupan di dunia nyata, Hal inilah yang dirasakan oleh banyak masyarakat terutama gen z saat ini, seseorang yang begitu aktif di dunia maya tetapi begitu minim interaksi sosial di dunia nyata, berada di tengah kerumunan tapi tetap saja merasa sendiri, merasa diri paling kesepian.
Media sosial memang bukanlah hal yang baru saat ini, dari Data global Digital report dari Data Report dilaporkan ada 5,25 miliar orang yang aktif di media sosial. Uniknya perasaan terhubung ini tidak menghilangkan perasaan sepi. Lini masa yang dipenuhi video hiburan dan kisah personal masih membuat banyak pengguna merasa terasing dari dunia nyata. Fenomena ini menarik perhatian mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Mereka melakukan riset berjudul "Loneliness in the crowd, eksplorasi literasi media digital pada Fenomena Kesepian di tik tok melalui Konfigurasi Kajian Hiperealitas Audiovisual", menurut teori hiperealitas, representasi digital kerap dianggap lebih nyata dari realitas itu sendiri, sehingga emosi yang dibentuk media dapat mempengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang.( Kutip sumber detik.com)
Derasnya arus sosial media telah memberikan dampak buruk terhadap pergaulan dan interaksi di tengah masyarakat, sikap asosial menjadikan masyarakat sulit bergaul di dunia nyata, bahkan di tengah keluarga sendiri pun menjadi terasing dan terasa jauh, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial tapi tidak mampu membangun komunikasi yang baik dengan keluarga, pola hubungan di antara anggota keluarga terasa jauh, sikap asosial dan perasaan kesepian ini akan berdampak buruk dan merugikan umat. Terlebih lagi bagi generasi muda yang sebenarnya memiliki potensi yang besar untuk dapat menghasilkan karya-karya produktif.
Ketergantungan terhadap sosial media telah menciptakan generasi yang lemah dan tidak berdaya, terjebak dalam kesepian dirinya, dan terasing di tengah keramaian, ketidak pedulian terhadap persoalan umat menjadikan generasi jauh dari identitas utama umat Islam sebagai umat terbaik.
Semua ini adalah dampak dari diterapkannya sistem kapitalisme sekuler, jika dibiarkan akan semakin menjauhkan umat dari ajaran Islam kaffah.Masyarakat harus menyadari bahwa pengaruh media sosial yang tidak dikelola dengan bijak akan menjadikan banyak orang makin sulit bergaul, individualistis, tentunya fenomena ini harus segera dituntaskan dengan solusi Islam, sehingga dengan begitu umat Islam tidak terus-menerus menjadi korban dari sistem kapitalis sekuler liberal.
Untuk itu dibutuhkan adanya sebuah negara karena hanya negara yang mampu dan memiliki kekuatan dalam mengendalikan pemanfaatan sosial media demi mendorong masyarakat khususnya gen z agar dapat tetap produktif dan berkontribusi dalam menyelesaikan problematika di tengah-tengah umat. Sosial media adalah senjata yang digunakan oleh barat untuk merusak kepribadian pemuda Muslim, akibatnya para pemuda Muslim kehilangan profil Islam, mereka tidak tahu tentang gambaran Islam sebagai ideologi yang shahih.
Media sosial ibarat pedang bermata dua, dapat menyebabkan kecanduan dan mempengaruhi kesehatan mental apabila tidak digunakan sebagaimana mestinya oleh karena itu media sosial harus sejalan dengan fitrah penciptaan manusia, hendaknya diisi dan digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan dakwah Islam.
Untuk mengembalikan umat Islam kepada fitrahnya maka dibutuhkan penyadaran yang kolektif, dan itu hanya bisa dilakukan dengan dakwah islam ideologis, umat Islam akan dibina dengan tsaqofah Islam sehingga terwujudlah profil pemuda yang berkepribadian Islam, dengan itu mereka akan berpola pikir Islam, pola jiwa Islam serta perilaku yang islami pula. Dengan demikian maka akan lahirlah kembali generasi yang menegakkan peradaban Islam dan serta menjaga kelangsungan eksistensinya.
Wallahu a'lam bishowab.