| 53 Views
Ledakan Bom di Sekolah, Lemahnya Sistem atau Mental?
Oleh: Vitra Arryanti, S.Si.
Pendidik di Bogor
Lagi-lagi masyarakat dikagetkan dengan kejadian luar biasa di sekolah. Kali ini bukan guru yang jadi korban, namun puluhan siswa menjadi korban ledakan yang dibuat oleh teman sejawatnya. Sungguh sangat miris, ditengah kondisi masyarakat yang digalakkan terus aspek pendidikan karakternya di lingkungan sekolah.
Adanya ledakan bom oleh seorang siswa yang ternyata sudah terbukti terinspirasi dari paparan medsos tentang konten-konten kekerasan. Hal ini memicunya untuk melakukan hal-hal diluar nalar yang membahayakan teman-temannya. Dilansir di CNN Indonesia.com pelaku kasus ledakan di SMA 72 Kelapa Gading Jakarta terpengaruh tontonan media sosial bukan korban bullying atau perundungan (CNN Indonesia.com, 13/11/2025).
Lingkungan dan sistem sosial yang buruk
Terduga pelaku masih berusia 17 tahun dengan latar belakang keluarga tinggal dengan ayah dan ibu berada di luar negeri, sehingga dia merasa sendiri dan merasa tidak ada yang menjadi tempat untuk menyampaikan keluh kesahnya baik di lingkungan keluarga, lingkungan sendiri, dan lingkungan sekolah (Tribunnews.com, 11/11/2025).
Kondisi lingsungan sosial yang tidak sehat ini menyebabkan keluarga kehilangan fungsinya. Orangtua yang sibuk, akibatnya anak kehilangan momen komunikasi dan kehilangan pula figur dari orangtuanya yang seharusnya membimbing dan mendampinginya. Kondisi seperti ini akhirnya membuat anak mencari pelarian di luar rumah. Kondisi di luar rumah nyatanya tak mampu diandalkan. Sistem pergaulan yang rusak seperti pergaulan bebas, bullying, bahkan kekerasan mewarnai di lingkungan sekitar baik di masyarakat maupun sekolah. Belum lagi medsos banyak berisi konten-konten yang membuat nilai moral semakin pudar. Mereka disuguhkan film, serial dan game yang berisi kekerasan. Sehingga mereka terbiasa dan bahkan menginspirasi untuk melakukan hal serupa. Bahkan pelaku tak ragu melakukan aksinya di sekolahnya sendiri, yaitu tempatnya menuntut ilmu.
Hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan dan sosial saat ini telah gagal dalam mencetak dan melindungi generasi. Anak-anak masih belum memiliki karakter mulia yang berkepribadian Islami. Ini dikarenakan sistem pendidikan kapitalistik sekuler hanya memiliki fokus pada lulusan dengan nilai, tanpa memiliki standar bahwa anak-anak harus memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami yang menjadi dasar dan pondasi. Dalam sistem ini, yang kuat mendominasi yang lemah, kehormatan diukur dari popularitas dan status sosial. Pola pikir seperti inilah yang masuk ke dalam dunia remaja dan sekolah. Belum lagi di lingkungan sosial yang rusak, semakin menambah parah kondisi kepribadian anak-anak dan remaja yang jauh dari akhlak mulia.
Islam: solusi membangun lingkungan sosial yang sehat
Islam adalah _dien_, yaitu sistem kehidupan yang sempurna dari Allah rabbul ‘alamiin. Sistem sosial pun tak luput dari pengaturan Islam. Sistem sosial Islam begitu lengkap. Syari’ahnya selain mengatur ibadah, tetapi juga mengatur bagaimana membentuk sebuah lingkungan yang dapat melindungi anak-anak dan generasi dari hal-hal yang dapat merusak mereka. Adapun hal-hal yang diatur dalam Islam terkait hal ini adalah;
Pertama: keluarga sebagai madrasah pertama. Dalam Islam ada kewajiban bagi orangtua untuk mendidik, mengarahkan, dan membimbing anak-anaknya. Allah SWT berfirman dalam QS. At Tahrim:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Sejak usia dini, anak-anak dikenalkan Tuhannya yang harus ditaati segala perintah-Nya. Peran orangtua memiliki andil besar dalam membersamai mereka.
Kedua: Sekolah tempat membentuk anak berkepribadian Islam. Di dalam buku Strategi Pendidikan Negara Khilafah karya Abu Yasin, pendidikan dalam Islam hendaknya ditujukan untuk membentuk kepribadian Islam, yaitu anak-anak yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang Islami, buka hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan. Sekolah yang dibagun atas syari’ah akan mengajarkan adab dan memastikan lingkungan terbebas dari kekerasan.
Ketiga: Negara melindungi anak dengan hukum syari’ah. Karena itu jika ada tindakan kekerasan yang membahayakan bahkan sampai kematian korban, maka termasuk ke dalam pelanggaran dan pelaku bisa terkena sanksi tegas. Selain itu negara juga wajib memberlakukan kurikulum pendidikan Islam, membangun lingkungan sosial yang sehat dan aman, serta melakukan kontroling terhadap keluarga, masyarakat, dan sekolah.
Demikianlah bagaimana pengaturan dan solusi Islam atas kasus kekerasan dan bullying. Dalam Syariah perlindungan dan jiwa dan kehormatan adalah yang utama. Pergaulan dijaga, baik di lingkungan sosial maupun di media sosial. Semua diatur dan diawasi ketat oleh negara dan diberi sanksi yang tegas bagi para pelaku kekerasan. Masyarakat pun dibangun atas dasar taqwa dan saling nasehat-menasehati dalam kebaikan. Lingkungan sosial yang seperti inilah yang dicapai saat Islam diterapkan.
Wallaua’alam bish showwab.