| 47 Views

Lebih Takut Miskin daripada Tidak Nikah

Ilustrasi ketidakstabilan finansial. Pexels/Ahsanjaya

Oleh: Ermawati
Pegiat Literasi

Ada-ada saja generasi saat ini yang membuat jagat maya ramai. Mereka mengatakan, bahkan meyakini, lebih takut miskin daripada tidak nikah.

Akhir Oktober 2025 lalu, media sosial Threads diramaikan dengan pembahasan terkait anak-anak zaman sekarang yang lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. Unggahan itu viral hingga disukai lebih dari 12.500 kali dan ditayangkan ulang oleh lebih dari 207.000 pengguna lainnya. Dengan kata lain, mereka yang menyukai unggahan tersebut setuju dengan pendapat si pemilik akun (Kompas.com, 22/11/25).

Kesulitan ekonomi telah sangat mempengaruhi cara pandang dan cara berpikir generasi muda saat ini, terutama tentang pernikahan. Bahkan tidak sedikit dari mereka meyakini bahwa pernikahan hanya akan menambah beban ekonomi. Semua ini disebabkan perasaan berlebihan mengenai pernikahan, terutama rasa takut hidup miskin dan kekurangan.

Selain itu, gaya hidup yang tinggi menancapkan persepsi bahwa pernikahan hanya akan mempersulit langkah mereka untuk hidup sukses dan kaya. Jadi, lebih baik menunda menikah daripada menunda kesuksesan. Hal ini seperti tergambar dalam fakta yang disampaikan di atas: unggahan salah seorang pengguna media sosial yang kemudian viral serta mendapat dukungan dan tanggapan positif.

Ini adalah gaya hidup yang diadopsi dari sekularisme, di mana kehidupan Barat lebih mementingkan kesuksesan daripada pernikahan. Sungguh sangat miris melihat kehidupan remaja saat ini yang jauh dari tuntunan Islam. Padahal sejatinya, pernikahan adalah ibadah yang wajib dilakukan. Bahkan Allah akan membukakan pintu rezeki dari pernikahan.

Kehidupan remaja saat ini tidak memiliki benteng akidah yang kuat dalam dirinya sehingga mudah mengikuti gaya hidup sekuler. Mereka tidak ragu sedikit pun, bahkan merasa bangga dan yakin dengan jalan hidup yang dipilih. Banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya gaya hidup yang tinggi dan hedonis. Gaya hidup seperti inilah yang menyebabkan mereka sangat takut hidup miskin.

Selain itu, banyaknya pemberitaan tentang pernikahan penuh KDRT dan perselingkuhan semakin memperburuk pandangan remaja tentang pernikahan. Mereka menjadi enggan menikah, merasa nyaman dengan kesendirian, dan lebih senang mengejar karir daripada harus hidup menderita. Semua ini terjadi karena tidak adanya pemahaman agama yang benar, sehingga kehidupan remaja saat ini semakin tergerus oleh arus sekularisme.

Pemerintah yang selama ini abai terhadap kehidupan remaja seharusnya memberikan informasi dan edukasi tentang pernikahan serta pemahaman agama yang benar mengenai pernikahan. Tujuannya untuk menghilangkan ketakutan berlebihan yang dirasakan remaja, serta menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai. Pemerintah tidak boleh egois, hanya mementingkan kepentingan pribadi demi jabatan dan keuntungan besar.

Pemerintah tidak peduli dengan baik dan buruknya budaya asing yang masuk ke negeri ini. Khususnya bagi remaja yang sedang dalam proses pencarian jati diri, pemerintah seharusnya bersikap tegas menolak budaya asing yang merusak. Remaja adalah generasi muda yang harus dijaga karena mereka adalah tongkat estafet perjuangan bangsa. Mau dibawa ke mana masa depan negeri ini jika generasi mudanya sudah dirusak?

Rasulullah saw. bersabda:

“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.” (HR. Muslim)

Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nur ayat 32:

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (kawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka Allah akan mampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.”

Beda halnya bila semua diatur dalam standar aturan Islam. Pemerintah akan melayani seluruh urusan rakyat, kebutuhan rakyat ditanggung negara, dan sumber daya milik rakyat diperuntukkan bagi rakyat kembali. Dengan demikian, tidak ada yang merasa kekurangan karena semuanya telah dijamin oleh negara.

Negara juga akan membantu mereka yang ingin menikah tetapi tidak mampu. Negara yang akan mengurusnya karena pemimpin tahu betul bahwa pernikahan adalah ibadah yang harus dikerjakan. Dari sebuah pernikahan yang dilakukan secara benar sesuai aturan Islam akan lahir generasi yang baik sebagai penerus perjuangan Islam.

Pemerintah akan memberikan pemahaman agama yang benar tentang pernikahan sebagai ikatan suci, bukan beban. Karena takut hidup miskin tidak beralasan, sebab justru dengan menikah semua pintu rezeki dibukakan Allah dan kebaikan dilimpahkan. Dengan demikian, remaja tidak akan takut menikah dan dapat merasakan indahnya hidup di bawah aturan Islam.

Indahnya hidup di bawah aturan Islam. Karena itu, sudah saatnya umat sadar dan bangkit untuk beralih ke sistem Islam yang diridai Allah. Semua persoalan hidup hari ini hanya dapat diselesaikan oleh Islam. Kehidupan yang aman, damai, dan sejahtera akan terwujud demi tegaknya kembali kehidupan Islam di muka bumi.

Wallahu’alam bish-shawab.


Share this article via

12 Shares

0 Comment