| 613 Views
Lebaran Telah Dilalui, Masih Adakah Takwa Di Hati?
Oleh : Erna Ummu Aqilah
Umat muslim seluruh dunia telah berhasil menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Ditandai suara takbir yang berkumandang kita sambut hari lebaran.
Dengan penuh suka cita umat merayakan hari raya Idul Fitri. Berbagai persiapan terbaik dilakukan, mulai busana terindah untuk seluruh anggota keluarga, makanan has hari raya yang berderet rapi menghias meja, bahkan uang pecahan baru untuk berbagi kesanak saudara. Begitulah antusias kaum muslimin menyambut hari raya.
Kebahagiaan tidak hanya dirasakan mereka yang berada di kota, bahkan sampai kepelosok desa. Tradisi mudik juga tak kalah pentingnya, demi bisa merayakan hari spesial bersama keluarga di kampung yang jarang di jumpai, kaum perantauan rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, semua demi menyambut hari lebaran.
Kini lebaran telah usai, arus balik sudah mulai ramai. Masa cuti sudah berakhir, aktivitas dan rutinitas sudah mulai kembali seperti biasanya. Para berdagang sudah sibuk dengan dagangannya, yang bekerja sudah sibuk dengan kerjaannya. Hiruk pikuk urusan dunia sudah berjalan sebagaimana mestinya, terus apa kabar urusan ibadah kita?
Puasa Ramadhan sebulan penuh, sejatinya menjadi ajang untuk memperbaiki diri agar semakin bertakwa kepada Allah SWT. Sebab itulah hakikat dari turunannya perintah puasa, menjadikan kita sosok yang bertakwa.
Takwa itu, taat terhadap perintah maupun larangan Allah SWT, tanpa nanti, tanpa tapi. Rutinitas ibadah di bulan Ramadhan, seharusnya tetap terjaga dan terlaksana di bulan-bulan berikutnya.
Masih jalankah aktivitas tadarusan, sholat malam, dzikir, shodaqoh, menuntut ilmu, berdakwah dan puasa Sunah? Atau telah usai bersama kumandangnya suara takbir di hari raya? Semoga kita menjadi pemenang sesungguhnya, yakni meraih derajat takwa selama-lamanya.
Ayo kita sama-sama introspeksi diri, adakah kenyamanan di hati dengan meninggalkan aktivitas ibadah di bulan suci? Kalau kita merasa sedih meninggalkan bulan suci, dan senantiasa menjaga amalan sholeh setiap hari, berarti kita termasuk pemenang dan orang yang beruntung.
Waspadalah apabila justru sebaliknya, bulan Ramadhan sudah dilalui, tapi kita kembali kepribadian yang lama tetap suka bermaksiat, malas ibadah, menolak sebagian hukum Allah, hati-hatilah sebab kita telah menjadi orang yan merugi bahkan gagal meraih ketakwaan.
Apakah ada jaminan kita ketemu Ramadhan tahun depan? Jika kita sadar seharusnya segera bangkit dan perbaiki diri, agar semakin meningkatkan ketakwaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT berkenan memberikan kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan Ramadhan kedepannya aamiin.
Wallahu alam bishshawwab.