| 44 Views
Kurikulum Cinta Kemendag Proyek Deradikalisasi Sejak Dini
Oleh : Siti S
Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai wajah baru pendidikan Islam yang humanis, inklusif, dan spirtual. Peluncuran digelar di Asrama Haji Sudiang, Makasar (Kamis 25/7/2025).
Menurut Menteri Agama Nasaruddin Umar, kurikulum ini hadir sebagai respon atas berbagai krisis kemanusiaan, in toleransi dan degadrasi, lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.
Menurut Rektor Universitas Negeri Islam Sumatra Utara (UNSU), Prof. Nurhayati menyebutkan gagasan tentang Kurikulum Berbasis Cinta bukan hanya wacana, namun kebutuhan yang mendesak dalam sistem pendidikan nasional yang cenderung kehilangan sentuhan kemanusian ( ANTARA Medan, 25 Juli 2025 )
Kurikulum baru ini, tentu sangat menarik perhatian karena kurikulum ini berupaya untuk membentuk peradaban yang berbasis cinta. Hal ini dikarenakan saat ini tingkah laku masyarakat jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, seperti terjadinya perundungan di sekolah, in toleransi sosial dan kerusakan lingkungan. Sehingga Kemendag membuat kurikulum berbasis cinta yang memilki lima nilai utama yaitu, cinta pada Tuhan Yang Maha Esa, cinta pada diri dan sesama, cinta pada ilmu pengetahuan, cinta pada lingkungan, cinta kepada bangsa dan negeri. (ANTARA, 25 Juli 2025)
Dari beberapa fakta dapat tergambar bahwa kondisi masyarakat saat ini sedang mengalami penurunan nilai - nilai kemanusiaan, sehingga diperlukan suatu program pendidikan yang dapat menumbuhkan nilai-nilai tersebut. Dengan harapan dapat membangun karakter humanis, nasionalis, dan toleran pada setiap individu. Namun nilai toleransi beragama yang diterapkan didalamnya, dapat menumbuhkan sikap plurarisme dan modernisasi agama.
Berlakunya sistem Kapitalis dengan asas sekulerisme liberalisme saat ini membuat kehidupan masyarakat jauh dari nilai-nilai agama, sehingga masyarakat bebas melakukan apapun sekalipun melanggar aturan agama. Dan ini pula yang menyebabkan turunnya nilai-nilai kemanusiaan pada individu, sehingga banyak terjadi kasus kekerasan. Hal ini juga disebabkan kurikulum pendidikan dalam sistem ini tidak meningkatkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan pada individu, namun membangun intelektual semata. Begitu pula tontonan di media sosial yang jauh dari norma agama dan nilai-nilai kemanusian. Masyarakat dalam sistem ini, kurang beramar ma'ruf nahi mungkar dalam membangun nilai kemanusiaan, hal ini karena diterapkannya asas liberalisme.
Islam sebagai agama yang komprehensif mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam membagun rasa kasih sayang antar umatnya, sebagaimana yang terdapat dalam surat Al Hujurat ayat 11 : "Sesungguhnya hanyalah orang-orang yang beriman bersaudara maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu dirahmati".
Dengan demikian jelas bahwa rasa kasih sayang yang tumbuh dalam diri setiap muslim merupakan karunia dari Allah, dari usaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Berbeda dengan kurikulum berbasis cinta yang ditetapkan dalam sistem Kapitalis, kurikulum ini justru akan merusak akidah umat Islam. Karena kurikulum ini dapat menumbuhkan sikap plurarisme yang menganggap bahwa semua agama sama. Tentu ini sangat berbahaya bagi umat Islam, karena bertentangan dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 19 yang artinya : "Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah Islam". Selain itu kurikulum berbasis cinta menimbulkan modernisasi agama, yang tentu tidak sesuai dengan syariat Islam dan berpotensi menjauhkan umat dari pemahaman Islam kaffah.
Kurikulum pendidikan dalam Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan individu, serta membentuk pribadi seorang muslim yang berpikiran Islam dan berkepribadian Islam (syakhshiyah Islam). Dan mendidik umat agar dapat melaksanakan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh). Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 208 yang artinya : "Wahai orang - orang yang beriman masuklah ke dalam Islam secara kaffah (meyeluruh). Dan menerapkannya dalam seluruh aspek kehidupan.
Dalam Sistem Islam masyarakatnya akan senantiasa beramar ma'ruf nahi mungkar dalam mewujudkan rasa kasih sayang sesama muslim, karena umat Islam ibarat satu tubuh. Sebagaimana hadist Riwayat Muslim, Rasul SAW bersabda : "Perumpamaan orang-orang mukmim dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi, adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh di timpa sakit, seluruh badannya lainnya akan merasakan sakit". Oleh karena itu seorang muslim harus senantiasa memperhatikan muslim yang satu dengan yang lainnya dengan penuh kasih sayang.
Dalam sistem Islam, negara senantiasa berupaya untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan individu, serta menjaganya dari segala bentuk penyimpangan. Begitu pula sangsi yang diberikan sesuai dengan syariat Islam, bukan pada hukum buatan manusia. Sistem Islam juga senantiasa membangun rasa kasih dan sayang antara satu dan lainnya. Dengan demikian akan terwujud kehidupan masyarakat yang harmonis dengan penuh rahmat dari Allah SWT karena senantiasa terikat dengan syariat-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Araf 96 yang artinya : "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa pasti Kami akan melimpahkan pada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendusakannya ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka sesuai dengan yang telah mereka kerjakan".
Allahu a'lam bishshawab