| 56 Views

Kurikulum Cinta Cengkeraman Kuat Sistem Sekuler

Oleh: D.Leni Ernita

Kurikulum berbasis cinta yang diluncurkan oleh kemenag, disinyalir masih berbalut dengan moderasi beragama. Sebuah ide yang sangat membahayakan bagi umat Islam. Penggunaanya dikemas  dengan lembut padahal kurikulum ini akan menjauhkan generasi dari akidah Islam dan dari arti Islam kafah.

Kementerian agama mengajak tokoh agama Garut untuk mengenalkan kurikulum cinta (KBC) dalam pelajaran agama. Bertempat di di aula pondok pesantren Al-Musaddadiyah Garut, yang menyatakan KBC dalam mengajarkan agama  tidak mengajarkan kebencian kepada orang yang beragama lain (Kemenag.go.id, 16-07-25)

Menurut kemenag pendidikan agama yang mengandung unsur  indoktrinasi perbedaan dapat merusak keutuhan bangsa, mencabut nilai cinta kasih, dan merusak kedamaian negeri.

Proyek Moderasi Beragama dan Pluralisme

Jelas kurikulum ini, masih merupakan lanjutan proyek moderasi beragama. Proyek untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Islam merupakan sistem kehidupan warisan Rasulullah saw.. Kurikulum berbasis cinta dipakai sebagai strategi dalam menghadapi kelompok Islam, terutama Islam ekstremis atau Islam radikal fundamentalis.

Rencana ini muncul sebagai bagian upaya untuk membentuk dunia Islam lebih sopan terhadap demokrasi dan nilai- nilai Barat. Selain itu kurikulum ini juga sebagai upaya menghalangi penyebaran ideologi yang dianggap membahayakan sistem sekuler. Harapannya agar Islam lebih sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan modernitas asing.

KBC akan digulirkan ke seluruh lembaga  pendidikan, seperti: sekolah, madrasah, dan pesantren. Upaya deradikalisasi terhadap ajaran Islam terus diupayakan oleh musuh- musuh Islam untuk menghalangi bangkitnya peradaban umat Islam.

Kurikulum berbasis cinta, tampak Indah padahal sungguh menyesatkan pemahaman umat.
KBC hanya diarahkan ke sekolah-sekolah yang berlindung di bawah Depag saja, rencananya tidak semua sekolah. Dari sini, kita bisa melihat betapa ada sesuatu dibalik progam tersebut. Adanya  ketidaksukaan yang mengakar kuat dalam sistem sekurel terhadap sistem Islam sebagai ideologi yang sahih.

Seperti kita ketahui, Menag mengatakan tidak boleh ada anggapan bahwa agamanyalah yang paling benar dan memicu kebencian terhadap agama lain. Pengajaran yang akan mengakibatkan dampak yang tidak baik, yaitu perbedaan agama lain kepada seorang anak ketika sudah dewasa nantinya. Menag menilai toleransi tak hanya sekedar mengganggu Agam lain tapi, harus ada ikatan cinta di dalam kehidupan beragama. Sungguh itu adalah sikap yang menunjukkan toleransi  kebablasan bagi kaum muslim.

Permasalahannya kurikulum berbasis cinta ini, akan menempatkan posisi semua agama sama yang disebut dengan pluralisme beragama. Menyamakan semua agama sama, adalah akan menjadikan kesalahan karena melahirkan paham liberalisme yang akan bertujuan standar pembenaran terhadap selain agama Islam.

Karena liberalisme menghasilkan akal manusia yang mengatur dirinya sendiri melalui nafsu belaka, berbeda dengan konsep Islam Adalah memakai aturan Allah Swt. yang bersumberkan Al-Quran dan hadist yang akan menjadikan manusia menjadi hamba-hamba yang patuh akan perintah dan larangannya.

Hanya Islam satu-satunya agama yang Allah ridhai Firman-Nya,

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

"Pada hari ini telah Aku menyempurnakan agamamu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu , dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu..."(QS Al-Maidah: 3).

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali ‘Imran: 19). 

Al-Qur'an sebagai petunjuk umat muslim tidak boleh sama sekali menyalahi aturan yang telah Allah tetapkan.

kewajiban mengikuti Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani mendengar tentangku, lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, melainkan ia menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim).

Penerapan risalah Islam maknanya, adalah terwujudnya rahmat untuk seluruh alam, bukan diartikan toleransi yang kebablasan. Dengan mengakui semua agama mengajarkan kebaikan.
Walhasil ini sebagai upaya cengkeraman kuat sistem kapitalisme, untuk menghambat kesadaran umat terhadap Islam kaffah yang akan membawa kebangkitan secara nyata.

Sejatinya hanya dengan pendidikan Islam saja, yang akan merubah generasi anak bangsa yang mampu  menjadikan anak-anak yang berkepribadian mulia, karena dalam pendidikan Islam akan membangun pola pikir islam dan pola sikap Islam secara bersamaan.

Yaitu dengan cara menanamkan tsaqofah Islam berupa akidah Islam, dengan pemikiran dan perilaku Islami kedalam jiwa anak-anak sedini mungkin. Maka itu mempersiapkan anak muslim agar mereka menjadi penerus ulama-ulama yang ahli dalam setiap bidang ilmu tentang keislamannya. Seperti ijtihad, fiqih, peradilan. dan juga ilmu sains, kimia, perobatan, dan sebagainya. Sehingga akan menghasilkan generasi yang unggul dalam kemajuan negara di seluruh dunia. Tidak seperti di sistem sekurel ini, negara sebagai pengekor agen barat dengan mengadopsi tsaqofah barat.

Oleh karena itu umat Islam harus memberikan kesadaran kepada masyarakat, untuk memahami tentang ajaran Islam sesungguhnya, yang diturukan oleh Allah Swt. kepada Rasulullah saw. untuk diterapkan secara kafah dengan melalui dakwah ditengah -tengah umat dengan melalukan interaksi. Dengan pemikiran yang mendalam, dan cemerlang tentang Islam yang sesuai dengan aturan sang Khaliq .

Walhasil umat akan berpikir dengan kesadaran yang kuat bahwa dirinya sebagai mahluk Allah Swt. yang diciptakan untuk beribadah dan totalitas dalam beribadah sehingga tidak menyimpang dari ajaran Islam. 

Untuk itu kita harus menolak KBC yang akan mendorong kaum muslim terjebak dalam jeratan paham pluralisme, dengan pendidikan Islam yang  mampu menjadi jantung peradaban yang menyinari dunia.

Tentunya dengan sistem pendidikan Islam, yang hanya bisa terwujud dalam Daulah Islam, bukan negara demokrasi. Apapun kebijakan yang lahir dari sistem sekuler hanya mengandalkan akal dan azas manfaat niscaya akan menjadikan keluar dari ajaran Islam secara  berjamaah. sebagaimana bisa disaksikan hari ini.

Meski kurikulum cinta dikemas dengan narasi toleransi dan perdamaian, justru punya celah lebar bisa menggerus akidah generasi Muslim. Maka itu solusi tepat bagi krisis moral dan Ahlak bukanlah sekularisasi nilai-nilai agama (Islam), melainkan hanya kembali pada sistem pendidikan Islam yang paripurna di bawah naungan Daulah Khilafah Rasyidah.

Wallahualam bissawab.


Share this article via

24 Shares

0 Comment