| 47 Views

Krisis Narkoba di Surabaya: Remaja Terancam, Negara Tak Boleh Abai

Istimewa

Oleh : Yetty 

Muslimah Tamansari

Kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja kembali menggemparkan Surabaya. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur mengungkapkan bahwa sebanyak 15 anak SMP dinyatakan positif mengonsumsi narkoba. 

Data terbaru menunjukkan bahwa kelompok usia 15-24 tahun mendominasi jumlah pengguna narkoba. Berdasarkan survei BNN pada tahun 2023, sekitar 28,2% pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kelompok usia tersebut, setara dengan sekitar 903.600 orang.

Fakta ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan, keluarga, dan negara. Ancaman narkotika kini bukan hanya menyasar orang dewasa, tetapi telah menyeret anak-anak yang masih berada di usia sekolah.

Lebih memprihatinkan lagi, Surabaya memiliki sebuah titik rawan yang dikenal luas sebagai salah satu pusat peredaran barang haram tersebut. Jalan Kunti, yang bahkan dijuluki sebagai“Kampung Narkoba", menjadi bukti nyata bagaimana peredaran narkoba berjalan secara terang-terangan. Di wilayah tersebut, terlihat jajaran bedeng kecil dari kayu beratapkan terpal, menjadi tempat yang diduga sebagai lokasi transaksi narkoba dan pesta sabu. Situasi ini menandakan bahwa penyebaran narkotika telah membentuk ekosistem tersendiri yang sangat sulit diberantas.

Remaja Rentan: Ketika Nilai Dasar Kehidupan (Islam) pudar. 
Kasus 15 pelajar SMP yang terjerat narkoba tidak muncul dari ruang hampa. Di balik fenomena ini, terdapat masalah mendasar yang sering luput dari perhatian: lemahnya nilai keimanan, lemahnya kontrol masyarakat, dan hilang nya peran negara. 

Generasi muda yang kehilangan pondasi moral dan spiritual lebih mudah mencari pelarian instan. salah satunya melalui narkoba. Kurangnya komunikasi hangat dalam keluarga, tekanan lingkungan, hingga pergaulan bebas di media sosial membuat remaja semakin rentan.

Peredaran Narkoba Sangat Sistemik
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa peredaran narkoba di Surabaya telah menjadi sistem yang berjalan rapi, terstruktur, dan merajalela. Jalan Kunti menjadi simbol kelemahan pengawasan, baik dari pemerintah, penegak hukum, maupun masyarakat.

Jika titik seperti “Kampung Narkoba” dibiarkan tumbuh, dampaknya akan semakin luas. Remaja yang penasaran atau rentan pergaulan berpotensi menjadi korban selanjutnya. Kondisi ini jelas merupakan ancaman serius terhadap masa depan generasi muda. 

Solusi: Negara, Keluarga, dan Masyarakat Harus Bergerak Bersama. 
Perang melawan narkoba tidak cukup hanya dilakukan lewat razia atau penangkapan. Untuk memutus mata rantai masalah ini, berbagai pihak harus bergerak:

1. Penguatan Nilai Keimanan dan Kebahagiaan Hakiki hanya dari Islam. 
Pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi terutama keluarga. Remaja harus dibekali nilai keimanan, moralitas, serta pemahaman tentang kebahagiaan yang tidak bersumber dari pelarian negatif. Lingkungan keluarga yang harmonis dan religius menurunkan risiko anak terjerumus narkoba.
2. Negara Wajib Hadir Melindungi Generasi. 
Pemerintah tidak boleh membiarkan para remaja berhadapan sendiri dengan ancaman narkotika. Pengawasan wilayah rawan, pemberantasan kampung narkoba, edukasi massif, hingga rehabilitasi remaja harus menjadi prioritas negara. Melindungi generasi muda berarti menjaga masa depan bangsa. 
3. Kemungkaran Tidak Boleh Dibiarkan. 
Peredaran narkoba adalah kemungkaran yang bila dibiarkan, akan menciptakan kerusakan yang lebih besar. Masyarakat harus memiliki keberanian untuk melapor, mengawasi lingkungan, dan tidak bersikap apatis. Tanpa gerakan bersama, narkoba akan terus mencari celah untuk menguasai generasi.

Kasus 15 pelajar di Surabaya adalah alarm keras, tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan. Kampung narkoba, remaja korban narkotika, dan lemahnya pengawasan adalah gambaran bahwa masalah ini lebih besar dari sekadar kriminalitas. Ini adalah isu kemanusiaan, moral, dan masa depan bangsa.

Bangsa yang ingin maju tidak boleh membiarkan generasinya dirusak narkoba. Sudah saatnya negara, keluarga, sekolah, dan masyarakat berdiri di barisan yang sama guna menyelamatkan remaja dari ancaman narkoba.

Wallahu'alam


Share this article via

27 Shares

0 Comment